KETIKA AKU MESIN

(lanjutan dr tulisan AKU MENUJU MESIN)

Kini aku telah mesin. Semakin banyak yang meluaskan decak melimpahkan kagum. Asa baru yang terus membukit menggunung akan sebuah mitos kemajuan. Segala mewujud dalam benda yang tampak, bisa diraba mata dunia. Gedung, jalanan, industri, pagar, rumah, danau, laut, sungai, tempat ibadah, sekolah, pakaian, dan rupa-rupa bentuk penampakan lainnya, mesti bagus menuju bias, cantik menuju carut, anggun menuju angkuh!

Apakah ini pagi? Apakah ini siang? Apakah ini sore? Apakah ini malam? Ruas-ruas waktu itu tak ada artinya bagiku. Yang paling penting aku terus mengepul menderu, berputar menerobos maju, menuju ambisi yang kian batu. Pulau-pulau tujuan telah ditetapkan, daerah-daerah buruan telah ditentukan, dan nasib-nasib telah digariskan. Ya… aku hanya menjalankan gerak yang telah diprogram, menjalani langkah yang telah dipola. Berjalan dan terus berjalan, berlari dan terus berlari, berputar dan terus berputar, mengejar, melingkar-lingkar….

Tak ada kata henti dari keinginan sendiri. Karena semua menuju yang menghasilkan penampakan nyata, sekali tersendat apalagi melambat, maka bayangan rugi menghantui, dan aku pasti akan dimaki-maki. Tetapi aku lebih sering dielus, disayang, dioperasi, agar selalu cantik, selalu gagah, selalu awet muda, dan bisa terus bekerja, diperas untuk memproduksi dari segala sendiku. Jangan tanya aku tentang mengingat waktu, apalagi kenangan. Semua itu tak ada pada diriku sekarang. Menguap bersama debu musim yang kerontang, sedang di sini aku selalu meniti pematang lurus dengan pemanas memanggang.

Ahai…peranku kian ditunggu, membelukar kemana-mana, tak hanya kota-kota yang kurambah dengan riang gemuruh. Namun juga ceruk kampung sudut dusun pelosok desa hingga belantara adalah peluasan wilayah sentuhanku, belaianku, mainanku, juga jajahannku… Posisiku kian tinggi dielukan sebagai pemuas birahi tinggi ekonomi, yang sinyalnya terus menyentuh ubun-ubun hasrat yang mesti ditumpahkan, dimuncratkan, digelontorkan, ke dalam kanal-kanal buatan sambil mengajukan sosok berdasi dengan lembar-lembar kertas penuh dengan gambar dan grafik, dihias sirip-sirip pelangi. Tuan-tuanku, para mesin kepala, sibuk hilir mudik bercakap membombastis meraksasa rekayasa setiap lekuk komoditas, gelinjang saham, motivasi basi, analisis narsis, dan menawarkan film panorama kemiskinan ke bursa saham atau taruhan mesin jabatan, dan banyak lagi, terus bertumbuh kemilau perjudian. Seperti sibuk, seolah khusyuk, ah mungkin saja alih-alih menebar gelora dalam lintasan menuju busuk.

Jalanku senantiasa sama, itu-itu saja, dengan jejak tapak keras dan kepul depu yang banyak wajah-wajah pasrah memunguti, menciumi, menjilati, menghisap, memakan; sambil menjelujurkan nanar gersang dan rapuh raih. Ya… mereka yang tertinggal dari lari zaman, terdepak dari panggung masa yang bergerak menunggang kilat, dan mereka yang tak siap akan terpental dengan tersengal, terkoyak melubang desis rintih, di pinggir ledakan halilintar kebudayaan.

Sedangkan aku terus melaju, aku terus dipacu, tak lelah tiada keringat dari pelana sofa sembari terus merajut rencana agar kerajaan kian menggelar kuasa. Mesin-mesin harus terus bekerja, kalau kurang rajin, tambahkan bahan bakar rakus dendam dengan pelumas tamak dengan operator yang juga mesin atau robot, dan tempelkan budaya semangat dengan semboyan “memakan atau dimakan”. Perluas kampanye tentang mesin, semua koran, radio, televisi, dan alat komunikasi media massa lainny adalah mesin dan pastikan penggunanya mesin. Kabarkan ke seluruh langit dan kolong-kolongnya bahwa sekarang adalah zaman mesin. Yang tak mesin, yang bukan mesin akan terhenti, tak sanggup memasuki pintu kemajuan, terjatuh terbalik terbentur runcingnya tusuk kaku peradaban.
Mesin….mesin…ya mesin. Mari ikutlah semua seperti aku. Aku berputar, aku bergerak, aku melaju….. ayo bergabunglah, mengumpullah, menyatulah ke dalam kerajaan mesin, republik mesin, masyarakat mesin, ummat mesin, semboyan mesin, nasehat mesin, doa mesin, cinta mesin..
Aku mesin… aku mesin… AKU MESIN!

BKF Jakarta, 08 Juli 2008

Jadi MC dalam Acara REBOAN # 3

Acara REBOAN dari PASAR MALAM (Paguyuban Sastra Rabu Malam) edisi # 3 berlangsung pada Rabu malam tanggal 25 Juni 2008 di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut banyak pengisi acara yang tampil antara lain kelompok band indie E-Sound yang menyanyikan beberapa lagu ciptaan sendiri; Erwin yang menyanyikan sajak karya Slamet Widodo; Slamet Widodo sendiri membacakan 2 puisinya; Heri Latief  penyair yang bermukim di Amsterdam dan sedang berada di Jakarta; Johannes Sugianto, Pakcik Ahmad dan Dedi Tri Riyadi keduanya dari PASAR MALAM, Mikael Johani, Iskyd dan Anya Rompas dari Komunitas Bunga Matahari; Hujan dan Deepi dari unit kegiatan sastra Universitas Bung karno.

Pada malam itu saya mendapat amanat dari teman-teman di PASAR MALAM untuk menjadi MC, alias Master of Ceremony alias Master of Conthong (bahasa prokem-nya). Oleh karena seseorang yang biasanya mengisi menjadi MC sedang ada tugas berkaitan dengan pekerjaannya, maka saya dijadikan MC secara aklamasi oleh teman-teman saya. Padahal sebelumnya, seumur-umur sampai saat acara REBOAN # 3 itu, saya belum pernah menjadi pembawa acara atau MC di acara apa pun. Tetapi karena saya suka mencoba hal baru dan sekalian untuk pengalaman, toh juga kalau ada salah-salah tak apa lah dan penonton tak menggigit saya juga, maka saya coba saj amenjadi MC. Oleh karena tema REBOAN ini adalah tentang JAKARTA, berkaitan dengan ulang tahun kota Jakarta yang ke 481, maka selain pengisi acara membawakan puisi bertema Jakarta, saya sebagai MC juga menyiapkan beberapa catatan yang berkaitan dengan Jakarta. Beberapa artikel atau bacaan yang saya kutip adalah penggalan puisi-puisi tentang Jakarta karya Rendra, Diah Hadaning, Gus Mus, serta sebagian lagu dari Iwan Fals (Berkacalah Jakarta), Koes Plus (Kembali ke Jakarta), Andi Meriem Mattalata (Lenggang Lenggok Jakarta), dll. Beberapa penggalan puisi dan lagu tersebut saya sisipkan di sela-sela saya membacakan siapa yang baru dan akan tampil selanjutnya. Ternyata improvisasi tersebut sedikit memberikan nuansa yang berwarna dan mengundang decak, sehingga hadirin tidak merasa bosan dan monoton. Dan beberapa teman mengatakan, cukup sukses dengan membawakan acara seperti itu. Terima kasih teman.

Pada malam itu saya menjadi MC berduet ditemani oleh Astri, mahasiwi Universitas Bung Karno. Saya bertemu dengannya ketika saya dan beberapa teman PASAR MALAM diundang untuk mengisi acara OLEH-OLEH DARI SASTRA, yaitu acara yang diprakarsai oleh unit kegiatan  mahasiwa Univ. Bung Karno diselenggarakan di Depok Town Square pada hari sabtu 16 Juni 2008. yang hadir dari PASAR MALAM adalah saya, Johannes Sugianto, Setyo Bardono & Dedi Tri Riyadi. Pada saat itu saya membacakan espuisai (seperti puisi-esai) yang berjudul AKU MENUJU MESIN, yang merupakan bagian 1 dari 3 tulisan. Di acara tersebut Astri yang menjadi salah satu MC-nya.

Syukurlah acara REBOAN # 3 berlangsung lancar dan sukses, dengan tetap selalu mengedepankan kebebasan berekspresi dan komitmen berkesenian yang mencerahkan. Banyak pesan kebaikan yang disampaikan oleh pengisi acara, namun karena suasana cukup ramai mungkin hanya beberapa saja kesejukan yang terserap. Namun itu tak masalah, karena bila para penikmat dan penggiat sastra telah kembali ke rumah masing-masing, ke kesunyian masing-masing, biasanya akan muncul dialog dengan batin sendiri dan mulailah terangkai sulur-sulur kebajikan yang kemudian akan ditumpahkan ke dalam karya dan perbaikan dalam sikap dan langkah dalam meniti jalan kehidupan. Tabik!

Baca Puisi di TIM Jakarta

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Jakarta ke 481, PKJ TIM bekerja sama dengan Forum Sastra Jakarta, Komunitas Sastra Indonesia, dan  Pusat  Dokumentasi Sastra HB Jassin Jakarta menyelenggarakan acara JAKARTA DALAM PUISI, MUSIK & RUPA. Acara tersebut digelar di  panggung terbuka di  lapangan parkir TIM pada  tanggal  hari Minggu, 22  Juni 2008 mulai pukul 16.00 s.d 22.00 WIB. Dalam acara tersebut  tampil seorang  pelukis  yang melukis selama acara berlangsung di depan panggung. Acara tersebut dipandu oleh duet MC Remmy Novaris dan Fatin Hamama. Kadang posisi Remmy Novaris diisi oleh Mbah Surip, yang mengisi acara musik pada acara itu. Dengan lagak dan lagu-lagunya yang menggelitik dari Mbah Surip menjadikan suasana lebih ramai. Musikalisasi puisi disi oleh Kelompok Kapas, yang sering membawakan musikalisasi puisi dengan puisi-puisi karya Abdul Hadi WM, Rendra, dll. Dalam acara tersebut tampil penyair-penyair yang sebagian besar telah cukup terkenal antara lain Jose Rizal Manua, Diah Hadaning, Dharmadi, Imam Maarif, Adri Woko, Viddi AD Daery, Ahmadun Yosi Herfanda, Johannes Sugianto, Yonathan Rahardjo. Juga tampil beberapa penyair muda. Saya  kebetulan  diundang  dengan diberitahu seorang teman, dan saya bersyukur bisa ikut mengisi acara tersebut, tampil dengan para penyair terkenal. Sungguh seperti mimpi, seorang penggemar bisa sepanggung dengan idolanya.

Puisi yang saya baca adalah 2 puisi yang temanya berkaitan dengan Jakarta. Puisi tersebut salah satunya pernah dimuat di majalah GONG. Kedua puisi tersebut adalah:

KUKETUK DIAMMU

pagi baru mengetuk hari

ketika tiba-tiba Jakarta mendekapku lekat

sebentar, aku membuang sengal

mana janjimu kemarin?

janji apa?

tentang rindumu yang kaulukiskan di sepanjang trotoar

ya rinduku pontang-panting terpelanting

digulung asap dan karat zaman

kini tengah kucari serpih-serpihnya

pada tawa gedung-gedung tinggi

tapi malah kuteriris runcingnya

mari ke kolong tol

mewarnai kanvas waktu

dengan harum sampah dan kudis luka

Jakarta, 6 September 2007

METROPOLUTAN

selamat datang di kota besar, kawan

inilah metropolitan yang kini

tlah menjelma wajah metropolutan

karena semua penampakan,

hanyalah gairah sampah

Bekasi, 2 Desember 2007

Acara tersebut juga diliput oleh sebuah stasiun televisi yaitu Tourism network (The First Tourism TV Channel).  Saya memberikan apresiasi yang tinggi dan sangat berterima kasih kepada media massa yang juga peduli dengan acara seni budaya, termasuk acara sastra yang biasanya memang sepi pengunjung karena persepsi masyarakat dan media umumnya memandang sastra sebagai komoditas yang kurang menguntungkan. Sungguh publikasi acara semacam ini akan membantu sedikit penggugah perubahan persepsi sehingga semoga akan semakin berarti bagi kehidupan masyarakat. Tentunya acara seni yang bermain dalam ranah estetika mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan kebajikan untuk memberikan penyadaran secara lembut dan pelan, menyusup ke dalam pori-pori,  lambat namun pasti. Terima kasih, Sahabat!

AKU MENUJU MESIN

Pada sekeping pagi yang keras, aku masih malas beranjak dari ranjang yang terbuat dari berontak kata. Kuhampiri sebutir mimpi yang kurus kedinginan, aku elus dan usap. Dia yang menyimpan segala suara-suara dalam pelepah dan ranting silam. Cicit anak ayam kicau burung kokok ayam jantan embik kambing serta interlude nada dari jengkerik dan belalang yang membalut orkestra sunyi. Aku ciumi, aku peluk, dekap dan kududukkan di kursi lampau, sambil kutitipkan sejengkal jangkau.

Matahari tlah mengirimkan bias cahaya menembus kerlip embun menelusup dinding kamar yang panik berdiri, begitu cepat terang menindih kelam malam. Pagiku belum siap benar, masih gamang mengingat pagi kemarin, ingin sekedar bersalaman sambil berucap: “istirahatlah engkau, kini aku yang berjalan menyusur detik dengan segala detak”. Mengapa tak kauceritakan dulu padaku, kemarin engkau bertemu siapa, kau dapatkan apa? Ah usah lah cerita, nanti juga engkau akan temui sendiri, dengan rintik rumbai yang menyentuh jalanmu.

Ah… terengah-engah siang mengejar pagi, ketinggalan kereta yang begitu perkasa mengoyak derap. Dan selalu ada kata-kata yang jumawa sambil lurus tegak: “salahmu sendiri, kau selalu mencari romantis sunyi. Sia-sialah yang kau damba, putuslah yang kau rangkai. Di sini kau harus tetapkan kepastian batas, tinggal kau lihat jadwal di kamar kota, lalu ikuti langkahnya. Tak usahlah engkau mencoba menampakkan pikir, mengungkap nada-rasa. Tak ada gunanya. Kalau kau masih bertahan dalam alammu sendiri, bersiaplah kau akan menemu rongga sepi yang berduri, akan menancapmu, dan meretakpatahremukkan rangkamu, dan kau akan menempuh kulai layu, mati menuju debu.”

Hi.. aku belum mau mati. aku tetap harus hidup menempuh sejarah yang sarat cerita kotbah, yang gemar meracik jerit luka lolong tangis, mencipta amis darah dan nanah. Sejarah yang hobinya berlari, berkelebat meninggalkan dunia batin yang terduduk di pinggir jalan sambil minum teh, terkadang diserempetnya dan jatuh meringkuk. Aku harus ikut berlari, di pinggir-pinggir jalan sejarah, meski kadang ku dikibasnya, dan dengan kakiku yang kian merapuh mengeropos di terjang gersang kemarau rasa.

Ku masih ingat katamu di malam itu, di pematang sepi tepi sawah sahaja. “Ayo ikut aku, kau tak akan jadi apa-apa kalau masih di sini. Di kotaku, kau akan mampu mewujudkan mimpi yang lebih riuh dan berwarna yang sering menohokmu dalam risau harimu”. Dan sekian waktu merayap hingga bisa berlari, kau lalu lari meninggalkan gagap merenggut tanya. Sekarang aku di kotamu, dalam keramaian aku sendirian, tak banyak ucap, tak ramai tanya, apalagi usap, tlah melayang entah kemana. Aku baru mengerti, jangan mencari kasih sayang dan cinta. karena di sini semua ukuran telah dibakukan, semua aturan telah dikaburkan, demi sebuah pencapaian yang berwujud, semua harus kasat mata. Materi adalah kenyataan, kehidupan. Gila. Kota ini tlah gila, atau aku yang gila. aku tak pernah diberi jatah meski sekejap untuk sekedar bertanya, bersapa dengan teman, saudara, bahkan ku tak mampu bertanya dan bercakap dengan diriku sendiri, di kamar batinku, di gua jiwaku. Ini galau terus menumpuk, gundah kian tereguk. Edan!

Ya.. namun aku harus tetap hidup, meski aku menempuh warna pura-pura, rute-rute yang semu. Lalu aku mulai belajar ilmu mengubah wujud. Kuubah otakku menjadi mesin, tangan menjadi mesin, kaki menjadi mesin, tubuhku mesin, degupku mesin, pikirku mesin, rasaku mesin, kelaminku juga mesin…… wah enak juga ternyata menjadi mesin, semua telah diprogram, tinggal jalan saja. Ya… aku tlah mencapai keberhasilan, aku telah memintal sukses, merajut kebesaran sejarah. Akulah mesin paling sukses. Akulah mesin paling berharga. Dan kau semua, tak usah lah banyak bicara, atau akan kulindas segera, kugiling saat ini juga.

Aku kian cepat berputar, kian keras suara terdengar, kian menggelegar, siap-siaplah engkau semua, akan kusambar, hingga kau menemu gelepar dan terkapar.

(bersambung)

Jakarta, 10 Juni 2008

Baca Puisi di REBOAN perdana, 30 April 2008

Budhi in action
Pada acara REBOAN edisi perdana dari hajatan PASAR MALAM di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan, saya ikut baca puisi. Yang saya baca adalah 2 puisi tulisan saya sendiri, yaitu berjudul KATA PENGANTAR dan NADA-NADA YANG BEREBUT DALAM LAGU. Puisi berjudul KATA PENGANTAR saya bacakan dengan mencoba menyelaraskan dengan acara REBOAN yang pertama, dengan menganalogikan ibarat sebuah buku sebelum masuk pada isi biasanya ada Kata Pengantar. Apakah sesuai dengan suasana acara, semoga saja memberi kesan meski hanya semburat nan samar. secara umum acara REBOAN edisi perdana berlangsung ramai dan semarak, meski tentunya ada beberapa kekurangan, yang akan menjadi pelajaran agar penyelenggaraan ke depan lebih ‘menggairahkan‘.

KATA PENGANTAR

masih tertutup gerbang
rapat bergeming
membeku pandang

belum terkuak
sebaris tabir
menunggu mantra

kapan terbuka
setapak kata
kesiap cahaya

Jakarta, 10 April 2008

NADA-NADA YANG BEREBUT DALAM LAGU

do re mi fa sol la si do
do si la sol fa mi re do

do…do…do…
dodol jadi kado doa-doa
menyusur kuah kare
re…re…re…
rengek kerdil tikus
di bawah lusuh jerami
mi…mi…mi…
mintalah uang pada raja
yang bercengkerama di sofa
fa…fa…fa…
fana geliat sungsang
sepatu mencari sol
sol…sol…sol…
solilokui lindap melenyap
mencari kata asal mula
la…la…la
lapangan direngkuh lengang
lusuh membasah basi
si…si…si…
sisa perang abu beku
kuda tak kenal sado
do…do…do…
dongeng tersedak tersedu
merindu penutur melebur

duri mata suka lupa
dosa lama buru raga

Jakarta, 11 April 2008

Sekedar informasi, pada 2 hari sebelumnya yaitu senin malam tanggal 28 April 2008 saya juga ikut baca puisi dalam mengenang Chairil Anwar di Planet Senen. Penyair-penyair yang ikut berpartisipasi antara lain Imam Muhtarom (Ketua Komunitas Planet Senen), Irmansyah, Viddy AD Daery, Anya Rompas, Sihar Ramses Simatupang. Dari pembagian pembacaan puisi Chairil Anwar saya kebagian membacakan puisi yang berjudul SENJA DI PELABUHAN KECIL; yang puisi tersebut kebetulan ada lama menghuni di blog saya, dan sebuah puisi tulisan saya sendiri berjudul KUDA-KUDA MEMERCIK API.

KUDA-KUDA MEMERCIK API

kuda-kuda kekar berlari gagah
menepuk jalan
menjejak jarak
mengeluarkan percik api
menghambur sepanjang cerita

percik-percik api membara
terus menyala
cakrawala tak pernah padam

di belahan dunia sana
anak-anak muda
rajin memunguti butir-butir bara
lalu dikumpulkan
dan kini tlah menjadi matahari

di sini,
anak-anak bangsa masih nyaman
berjalan dalam temaram
lalu siapa pewaris negeri ini
yang akan tekun menyusun bara-bara ini
hingga menjadi seribu matahari

Jakarta, 11 Januari 2008

LAUNCHING PASAR MALAM

Punggawa Pasar Malam
Pada tanggal 30 April 2008, Rabu malam bertempat di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan, dilakukan launching sebuah kelompok yang bernama PAGUYUBAN SASTRA RABU MALAM, disingkat dengan sebutan PASAR MALAM. Acara dibuka dengan semacam sekelumit cerita yang mendasari dari diadakannya PASAR MALAM oleh ketua penggagas yaitu Johannes Sugianto.

Beberapa waktu sebelum diadakan launching PASAR MALAM tersebut, telah dilakukan beberapa kali pertemuan beberapa penyair atau penggiat sastra antara lain Johannes Sugianto, Yonathan Rahardjo, Budhi Setyawan, Zay Lawang Langit, Setiyo Bardono, Sahlul Fuad, Ilenk Dian Asrinda, dll. Hal utama yang mendorong mengadakan PASAR MALAM adalah kegelisahan yang mendesak-desak di jiwa para penyair/penulis yang ingin mengapresasikan sastra secara independen, tanpa ikatan yang dibuat-buat dan persyaratan yang kaku.

Visi utama PASAR MALAM adalah mendekatkan sastra kepada masyarakat. Bahwa asumsi yang selama ini berkembang bahwa sastra itu rumit, njlimet, membuat kening berkerut, belm tentu benar. Dan asumsi itu berusaha didobrak oleh PASAR MALAM dengan sebuah wahana yang cair dan menggembirakan.

Salah satu kegiatan dari PASAR MALAM yang rutin dilaksanakan adalah acara REBOAN. Acara ini diselenggarakan tiap hari Rabu malam pada minggu terakhir setiap bulan. Acara REBOAN ini yang edisi perdana dilakukan bersamaan dengan Launching PASAR MALAM 30 April 2008 kemarin, diisi dengan pembacaan puisi para penggagas yaitu Zay Lawang Langit, Sahlul Fuad, Budhi Setyawan, juga perkenalan awal novel LANANG oleh penulisnya Yonathan Rahardjo, serta pembacaan puisi oleh beberapa penyair lain seperti Danielle Prima Vega, Akmal N Basral, Sihar Ramses Simatupang, Amin Kamil, Evi Widya Putri, kelompok Mata Kail, dll serta penampilan sebuah grup musik Rich Band.

Meskipun digagas oleh penggiat sastra, akan tetapi acara REBOAN diupayakan bisa menampung berbagai penampilan seni lainya seperti teater, monolog, seni tradisi, dll; serta dari semua kalangan; dengan benang merahnya atau porsi utama pada karya sastra.

PASAR MALAM dalam waktu ke depan direncanakan juga akan merilis penerbitan jurnal, antologi karya, dan kegiatan atau pekerjaan lain yang diarahkan untuk memasyarakatkan sastra. Dan hal yang tentunya lebih hakiki adalah bagaimana agar khasanah sastra yang bergerak di dunia estetika mampu menyampaikan pesan etika dan moral sehingga secara riil (meskipun pelan) mampu berkontribusi pada kearifan dalam mensikapi kehidupan.

Ada suara dari belakang panggung: “roda kecil yang senantiasa bergerak lebih bermanfaat daripada roda besar namun hanya terpaku diam”

Apakah PASAR MALAM akan terus riuh dan bergemuruh dengan aktivitas seninya? Saya jadi ingat serpihan sebuah puisi: “…….dan waktu akan mengujimu, dengan terjal musim bertubi-tubi.”

(Budhi Setyawan, pegawai negeri)

Sajak-sajak Budhi Setyawan di koran Republika, Minggu 27 April 2008

HIDUP

mengalirlah laksana huruf-huruf yang
mengeja sendiri dalam lekuk sajak yang mencari
setekun ombak sekokoh karang
menggapai lengkung ruang

pagi beranting gelisah
kemana singgah?

Bekasi, 31 Oktober 2007

MENUJU PERTEMUAN

senja tersungkur matahari berbaur
lautan meringis teriris menahan gemeretak ombak
tanah-tanah terbelah tampakkan pasrah
senyap arah
danau sungai peluk temaram
terhisap suara ke dalam untai debar
gunung pebukitan menundukkan tubuh
khidmat menempuh jalanan luruh

ini dunia
hanya permainan dan canda belaka

batu kapur,
melapuk umur
menuju kubur

Jakarta, 2 November 2007

YANG PASTI

yang pasti
kita akan terdiam
tak kan sanggup ungkap cerita
apalagi kabar dunia

yang pasti
kita akan berpisah
melupakan denyar manis hari
menuju puisi sunyi

yang pasti
kita akan habis
ditelan gemulai tarian kala
tinggal gema doa

Jakarta, 2 November 2007

RIWAYAT PIJAR

kukecup ranum sajakmu
yang mengajak embun menari
di antara
pusar angin dan getar mantra

ah, inikah sebuah epik cerita lama
yang tak pernah usang
pijarnya terus melambai
ke dasar lembah dan pantai-pantai

Bekasi, 23 November 2007

bisa klik di:

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=331823&kat_id=364

Geguritan JANJI SEPI dimuat Majalah DAMARJATI no. 62 Bln. April 2008

JANJI SEPI

dawane rel sepur liwat tengah alas sawah apadene kutha

prasasat isih dawa janjimu

kang nggawa daya sumringah ing sajroning laku

nlusup ing balung sungsum

angin melu nggoleki playune rasa kang sliramu gawa

netramu yen lagi nyawang jagad

agawe donya njomplang kadya katrajang gara-gara

ora kuwat nyangga bumi

ora kuwat ngreksa budi

angin isih nggoleki aburing kupu

mangsa rendheng udane nggrejih

nanging kali durung akeh banyune

rasa aneh kaya kang wis nate daksasakke

ngebaki guwa pertapan asri

kekidungan dhewe tan kena dipenggak

kadya lali purwa duksina

angin njajah desa milang kori marsudi janjimu wingi

Stasiun Tugu (Ngayogyakarta), 3 Maret 2001

Damarjati No. 62 Thn. 2008

Sajak-sajak Budhi Setyawan di Majalah GONG edisi 98/IX/2008

 Fotodiri

MIMPI KEMBALI

 

merpati-merpati hinggap di kursi

bangku taman boulevard miring

di bawah kepak angin menusuk tengkuk

ini musim panas!

menawarkan gerimis dan hujan

pada dinding kota: terdiam

 

mengalir wajah Purworejo

irama lambat nan pelan

mengisi sungai nadi

penuhi danau hati

            ada yang merasa ditinggal dan dilupakan

            memanggil-manggil di trotoar Jenewa

 

“aku disini

mencacah sepi

mengurai jalan kembali”

 

“kau bangunkan aku

dari tidur perjalanan

dalam bisik keyakinan”

 

kota-kota sibuk berlari

di simpang bimbang tanya menepi

“darimana kita memulai?”

 

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

 

 

BERONTAK KATA BIJAK

 

engkau berlari mengibarkan caci maki

saat kau tahu

engkau tak kutulis dalam sajakku

 

aku lebih menerima kata

terlahir terakhir

setelah lelah berdebat denganmu

tentang sebuah nama dan makna

 

maaf sementara

kutinggalkan dirimu di ladang jauh

wahai kata bijak

nanti kudatangi sebelum shubuh jatuh

 

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

 

 

SABAR

 

lautan mengangkut kerdil

malam mengangkut jarak

hutan mengangkut doa

hujan mengangkut kapan

aku mengangkut masih

 

                Jakarta, 13 Juli 2007

 

 

KUKETUK DIAMMU

 

pagi baru mengetuk hari

ketika tiba-tiba Jakarta mendekapku lekat

sebentar, aku membuang sengal

 

mana janjimu kemarin?

janji apa?

tentang rindumu yang kaulukiskan di sepanjang trotoar

 

ya rinduku pontang-panting terpelanting

digulung asap dan karat zaman

 

kini tengah kucari serpih-serpihnya

pada tawa gedung-gedung tinggi

tapi malah kuteriris runcingnya

 

mari ke kolong tol

mewarnai kanvas waktu

dengan harum sampah dan kudis luka

 

            Jakarta, 6 September 2007

 

 

MOZAIK PURBA

 

            kucangkul wajahmu

            dengan buta mataku

 

ini hari menelisik siang

kepak sayap jauh merindu labuh

 

batu kerikil membuih asap

gamang beku menyungai usah singkap

 

            kucangkul suaramu

            dengan tuli telingaku

 

ini syair menanyakan kata

kamar pengap meruap membingkai kumal

 

awan usang merangkai kecipak

jelaga bersolek merayap mengirimkan senja

 

            kucangkul wangimu

            dengan kedap hidungku

 

ini lagu mencari irama

ombak menggelinjang lengkung mengantar pasang

 

angin musim membelukar ladang

gusar lunglai mengejar kepingan pijar

 

            kucangkul kisahmu

            dengan kisahku

 

berderak-derak, merekah ranting patah

berdesak-desak, menderai enggan usai

 

            Bekasi, 21 Oktober 2007

 

(Majalah GONG adalah majalah Media, Seni dan Pendidikan Seni, terbit di Yogyakarta. Alamat redaksi: Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161. Telp/fax: 0274-370830; 081568445708. email: redaksi@gong.tikar.or.id ) 

 

Bedug Purworejo

Bedug merupakan sebuah alat yang biasanya digunakan di masjid-masjid atau musholla (kebanyakan di daerah Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur) untuk memberitahukan telah masuk waktu sholat bagi orang Islam, paling sering ditabuh pada hari Jumat, sebelum sholat Jumat. Salah satu bedug terbesar, konon terbesar di dunia seperti yang tertulis di data-data tentang bedug tersebut adalah Bedug Masjid Jami’ Purworejo, Jawa Tengah. Bedug tersebut terbuat dari kayu jati, sering disebut kayu jati Pendowo.

bedugpurworejo.jpg

Bedug itulah yang selama ini disebutkan sebagai kelebihan Purworejo, dalam hal peninggalan budaya masa lalu. Selanjutnya diarahkan menjadi daya tarik wisata Purworejo. Apakah bedug tersebut benar-benar menajdi daya tarik Purworejo? Secara pasti saya kurang tahu, tetapi dari beberapa kali saya ke Purworejo kalau sedang pulang kampung, dan sempat ke Masjid Jami’ Purworejo, meskipun hari libur panjang, tetapi pengunjung atau orang yang sholat di masjid itu dan memperhatikan bedug yang terletak di sebelah depan-kiri itu, ternyata tidak begitu banyak.

databedugpurworejo.jpg

Setelah disebut atau diklaim sebagai bedug terbesar, lalu apa yang mesti dilakukan? Apakah hanya berhenti seperti itu? Sebenarnya kalau kita (terutama warga Purworejo, di daerah asal maupun di perantauan) mau lebih dalam memaknai, maka seharusnya ada upaya-upaya untuk mengambil sikap, menjadi lebih arif, lebih bersemangat dalam belajar dan bekerja/berkarya, dan sebagainya. Sangat sering simbol yang pada penciptaanya dimaksudkan agar dipelajari dan dikupas maknanya secara lebih dalam, tetapi hanya berhenti hanya sebagai simbol yang diam, bisu dan tak berarti. Masyarakat Indonesia, terutama Jawa yang akrab dengan simbolisme, dalam beberapa tahun ini menjadi kian pragmatis. Tidak mau dengan pemikiran yang dianggap kuno dan memakan banyak waktu, tetapi lebih suka yang praktis dan banal, lebih sering menukai hal-hal yang sedang dan mudah jadi trend atau mainstream.

Kian banyak masjid atau musholla yang bangunan fisiknya megah, tetapi apakah sehabis maghrib masih seramai dulu? Dulu waktu musholla atau kadang disebut langgar masih berdinding anyaman bambu, berlantai kayu karena bangunan rumah panggung, berlampu minyak tanah; sebelum ada listrik masuk desa, sebelum banyak televisi di rumah-rumah, sehabis maghrib banyak orang mengaji di musholla dan di rumah.

Sekarang, ada berapa rumah di desa-desa, kampung-kampung yang sehabis maghrib tidak menyalakan televisi? sangat bisa dihitung dengan jari!

Apa artinya?
Mari kita bangun di sepertiga malam menjelang pagi, merenung, masuk ke dalam diri, nikmati percakapan sepi, dan temukan jawabnya dalam jiwa sunyi!

« Tulisan sebelumnya