Posted by: budhisetyawan on: Oktober 10, 2007
MACET DI MANA – MANA
Kota Jakarta mengayuh remang senja
berjejal orang meniup kereta
jalanan macet di mana-mana
debu beterbangan
menempel di tiang bendera
dan di kaca jendela
kota ini tertatih
membawa beban di jurang dunia
merangkak di bawah jembatan
sedangkan lilin belum dinyalakan
lupa
di mana diletakkan
di mana lilin kemarin
lupa tak henti-henti
kota ini telah melahirkan
berjuta-juta Jakarta
dalam otak, benak manusia
senantiasa menyeret rumpun api
melewati jalan-jalan yang penuh
pecahan genting, lancip beling kaca mata
jarum suntik menusuk jantung bumi
memacetkan arus embun
nurani tak mampu keluar kamar
disekap kemabukan berasap
membubung, membakar atap rumah
lubang menganga menjalari ubun-ubun
sarang berbiak ular berbisa
kota telah letih
tapi, di mana tempat menaruh beban
sementara
pandangan terus kabur
tapi takabur
memeluk hari-hari menelan api
lah…
pengemis dekil terus menabuh bedug
atau genderang di lembaran-lembaran koran
kumandangkan tembang bumi langit
Jakarta, Desember 2000
HARI KEMENANGAN
Hari yang dinanti-nanti
telah ada di depan wajah
menyusupkan tali getar
ke sela-sela tulang iga
adakah kemenangan yang kami raih
kemenangan di pertandingan mana
sedangkan berjuta sangsi
berputar-putar di nafas kami
adakah puasa kami
disebut puasa
sedangkan indera kami
menangkap dunia berbekal nafsu
benarkah kemenangan telah kami genggam
sementara hari ini kami menyebut kebesaran-Mu
kami akan kembali ke dunia kesenangan dan keegoan kami
sementara atas nama-Mu
kami musnahkan dan bunuh
sesama
sementara sebut keadilan-Mu
kami berpuas-puas makan
di antara geliat tangis mereka yang kelaparan
sementara sebut keagungan kasih-Mu
kami sering membuang wajah-Mu
dari sikap dan langkah kami
Purworejo, 27 Desember 2000
JEJAK – JEJAK
Langkah-langkah sunyi yang lewat di langit
masih sangat nyata terngiang
ketika akan kutangkap
kenapa aku selalu tertinggal
tapak sujud di sajadah malam
masih sangat dekat terbayang
ketika akan kusentuh
kenapa aku selalu tertinggal
hening puasa di perjalanan bulan
masih sangat lekat terasa
ketika akan kusunting
kenapa aku selalu tertinggal
biru tafakur di gua pedalaman
masih sangat tenang terhias
ketika akan kudekap
kenapa aku selalu tertinggal
gelombang rindu di serambi janji
masih sangat jelas terpatri
ketika akan kucumbu
kenapa aku selalu tertinggal
magma cinta di dasar bumi
masih sangat nyala terjaga
ketika akan kumaknai
kenapa aku selalu tertinggal
semesta syukur di seluruh jagat
masih sangat luas terbentang
ketika akan kuselami
kenapa aku selalu tertinggal
Purworejo, 31 Desember 2000
Desember 10, 2007 pada 4:36 am
semoga goresan2mu,
bermakna…
untukmu, untukku, dan untuk mereka…