Posted by: budhisetyawan on: November 29, 2007
BETAPA SULITNYA MENANGKAP YOGYA
beriringan dengan nadi pembuluh memukul-mukul jantung
tiang listrik membungkuk beri hormat pada becak dan andong
tak peduli siang ataupun malam
es batu mencair di ubun-ubun petani dan pedagang
mengurai warna-warni nasib dan pengharapan
menetes di mangkok-mangkok keseharian
lelah letih lesu, raih
es batu bercampur keringat di keranjang dan bakul perputaran keadaan
makin padu tanpa ada yang terganggu
sepakat menuruni lembah mendaki bukit, tak apa lecet sedikit
biar nyala tetap menebar sinar
gang sempit masih saja sempit
kadang kian sempit
namun ada jalan yang sangat lapang
di atas langit membentang luas menerawang
Pasar Beringharjo(Yogyakarta), 3 Januari 2001
TIKET KE SURGA SUDAH HABIS
Di suatu malam yang kebetulan bulan purnama
aku berjalan-jalan sendirian di tepi kolam
melangkahi masa lalu yang berseliweran di depan wajah
sambil tak lupa mencoba mengingat-ingat nasehat
dari kyai yang berkhotbah di mimbar tadi
perjalanan manusia-manusia mengarungi usia
mencari-cari pasangan di bawah perdu dan
rumput dunia yang terhampar
membawa kapak, belati, pedang
serta kitab yang tebal-tebal
tapi dimana hati yang kemarin tersimpan di lemari
malah lupa tak dibawa
malaikat yang turun malam hari
mengabarkan tiket ke surga sudah habis
telah ludes diborong para nabi dan wali
manusia-manusia yang antri di depan loket
ternganga terpana kenapa bisa begini
linglung meratapi negeri
malaikat berkata bak panglima
pulanglah ke rumahmu masing-masing
ambil dan bersihkan hati yang tertinggal di lemari
dan bersabarlah menunggu
mungkin akan dibuka jalur baru
Jakarta, 19 Mei 2001
Sandal
ya adalah alas kaki
menggambarkan relief perjalanan
berbukit-bukit pengetahuan yang dimiliki
saksi segala yang terjadi dari tapak kaki
sandal
telah terbiasa melewati jalan-jalan
marmer, keramik, aspal
atau tanah liat, becek, berlumpur
sebagai tameng untuk menginjak
duri, bebatuan lancip atau segala jenis kotoran
dari kotoran sapi, kuda, kerbau, ayam dan hewan lainnya
sampai kotoran pemakai sandal
sandal
menghiasi etalase toko
menusuk perut si papa yang belum kemasukan nasi
tiga hari menempuh gelap tanpa sandal
lunglai melepuh kaki mengadu pada bumi
sandal
makin pintar bahkan punya sayap
tak jarang mampir ke muka manusia
sekedar singgah untuk sekedar ngobrol sambil ngopi
atau protes karena ingin naik derajatnya
terlalu lama di bawah
dan terus diinjak-injak
Jakarta, 26 Mei 2001
SAKU
berisi tanda tanya
memancing tangan-tangan menjamahnya
saku
diam tak banyak bicara
rapi menyimpan
rahasia perselingkuhan Arjuna dan Banowati
Jakarta, 26 Mei 2001
bang… puisi tiket ke surga saya copy ya, diminta ngumpulin puisi ma temen2 untuk dibikin teatrikal puisi buat acara tadarus puisi jum’at malam ini di Banjarbaru, Kalimatan Selatan. blom tau di pakai atau gak, tapi izin dulu gituw, thanks
saia siy cuman isa menikmati kata per kata aja, om budhi
saia kurang isa mendalami puisi
hehehe
Desember 10, 2007 pada 4:27 am
“Ya Tuhan, Ya Gusti, apakah artinya cinta? Ketika rasa menjadikan segala terlupa. Ketika getaran mengubah segala. Adakah cinta tetap cinta, jika rasa dan getaran itu berwujud rupa, dan kemudian menjadikannya tiada?”