Puisi-puisi Joko Pinurbo

KEPADA CIUM

 

seperti anak rusa menemukan sarang air

di celah batu karang tersembunyi,

 

seperti gelandangan kecil menenggak

sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

 

malam ini aku mau minum di bibirmu.

 

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi

yang masih hangat dan murni,

 

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri

pada luka lambung yang tak terobati.

 

            2006

(sumber: buku KEPADA CIUM, Kumpulan Puisi Joko Pinurbo, Penerbit PT GPU, Jakarta, cetakan pertama, Februari 2007)

 

 

UBAN

 

Pasukan uban telah datang memasuki wilayah hitam.

Hitam merasa terancam dan segera merapatkan barisan.

“Putih lambang kematangan, hitam harus kita lumpuhkan.”

“Hitam lambang kesuburan, putih harus kita enyahkan.”

 

Tiap malam pasukan putih dan pasukan hitam bertempur

memperebutkan daerah kekuasaan sampai akhirnya

seluruh dataran kepala berhasil dikuasai masyarakat uban.

“Hore, kita menang. Kita penguasa masa depan.”

 

Tapi uban jelek di lubang hidungmu memperingatkan:

“Jangan salah paham. Putih adalah hitam yang telah luluh

dalam derita dan lebur dalam pertobatan.”

 

“Demikian sabda uban,” sindir uban-uban pengecut

yang tiap hari minta didandani dengan semir hitam.

 

            (1999)

(sumber: buku CELANA PACAR KECILKU DI BAWAH KIBARAN SARUNG, tiga kumpulan puisi Joko Pinurbo, Penerbit PT GPU, Jakarta, cetakan pertama, Mei 2007)

 

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Tulisan ini dipublikasikan di Puisi Penyair Lain 1. Tandai permalink.

15 Balasan ke Puisi-puisi Joko Pinurbo

  1. Rudy Halalutu berkata:

    Membangkitkan rindu pada Kekasih…

  2. OBE.A. MARZUKI berkata:

    Puisi-puisi bung joko memang bagus. Dan saya sudah lama menyukai puisi-puisi anda,bahkan saya ingin sekali belajar menulis puisi dengan bung.karena saya menyukai sekali menulis puisi tapi selama ini tidak ada orang yang membimbing saya. Terima kasih Bung semoga suatu saya hari dapat bertemu anda

  3. budhisetyawan berkata:

    Buat semua komentar di sini saya ucapkan terima kasih. Saya ambil dan pajang beberapa puisi penyair ternama, dari buku puisi yang menjadi koleksi saya. Saya ambil beberapa puisi dengan pertimbangan yang utama adalah bentuknya tidak terlalu panjang; atau dapat dikatakan puisi bentuk pendek. (agar ada efisiensi halaman blog ini, he3…) Tentunya dengan harapan puisi2 tersebut tetap merupakan puisi yang indah, meski terselimuti hijab2nya. saya sendiri belum pernah bertemu dengan (Kang) Joko Pinurbo. Kapan kita bisa ketemu atau satu panggung bersama, (kang) Jokpin?

  4. sambayang berkata:

    kang jokpin megingatkan saya pada kurcaci yang ditulisnya dengan indah…
    logika kamar mandi dan hal-hal lain yang membuat saya tergugah. biarkan saja ada banyak kalangan yang bilang bahwa kesederhanaan dalam berpuisi adalah sebuah kesederhanaan berpikir sang penyairnya. tapi, lewat jokpin Indonesia melihat bahwa pemikiran filosofis pun tidak harus diungkapkan secara rumit dan disulit-sulitkan. akan tetapi, bisa dengan gamblang menjadi suatu pencerahan yang sederhana namun menggigit…
    salam buat kang jokpin, mudah-mudahan kita bisa bertemu di bawah kibaran sarung! ;-)

  5. ohid berkata:

    kok ada uban2nya segala… jijai banget sih, ada uban hidung pula wwaakakaakkak

    • budhisetyawan berkata:

      namanya karya sastra ada metafora, sy rasa ckp bagus. wl memang agak menyentil bbrp hal yg bs dibilang sensitif u bhs sehari2 di bbrp bagian. terima kasih sdh singgah & memberi komantar. salam

  6. NYI PEDE berkata:

    subhanallah, indahnya.

    • budhisetyawan berkata:

      trm ksh. slkn cari bukunya di toko buku. untuk file pdf, slkn cari lwt google jk ada. ttpi sy lbh menyarankan membaca dlm bentuk buku. lebih asyik koq. slm.

  7. Fendy A. Bura Raja berkata:

    aku tercipta dari sebatang puisi

  8. Rahma berkata:

    Yang uban lucu tuh

    • budhisetyawan berkata:

      saya bertemu Jokpin beberapa kali. saya cuplikkan 2 puisinya yang pendek2, terutama untuk memancing agar pembaca mencari puisi2 lain yg mungkin ada yg lebih panjang.

      kenapa saya memilih puisi Uban. karena saya cocokkan dengan kondisi diri say ayang sudah cukup banyak uban di kepala saya. saat thn 2013 ini sy kira, rambut putih saya sdh lebih banyak drpd yg hitam. he3.. terima kasih mba Rahma. slm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s