Posted by: budhisetyawan on: Desember 25, 2007
Berikut ini adalah beberapa puisi karya penyair Purworejo, yang ada dalam buku KIDUNG BULAN TERTIKAM; ANTOLOGI PUISI PENYAIR PURWOREJO, Kopisisa, tahun 2000.
Atas Danusubroto:
DALAM MIMPI
danau dengan mata air darah
tambah gairah ikan memburu kaumnya
kita terjatuh di sini:
pejam-pejamkan matamu
serta biarkan kaki-kakimu
lepas kemudian melangkah bebas
mirip kelugasan puisi
ternyata danau tanpa dasar
tanpa langit, tanpa matahari
tanpa garis cakrawala
tanpa kau – ternyata aku kian sendiri
di bumi kelabu
pegang-pegang tanganku
jangan biarkan menggerayang bayang-bayang
danau – di sinikah kesendirianku
semakin bisu
1995
(dicuplik dari sajak-sajak persiapan tahun 1995)
Agung Hary Wibowo:
PINTU GERBANG YANG INGIN KUBUKA
Pintu gerbang yang telah terturup
dan telah terkunci rapat
untukmu
untuku
untuk semuanya
kita harus menunggu sampai ada yang harus membuka
ataukah kita yang harus mendobraknya
supaya manusia-manusia ini
tahu semua tentang kemunafikan yang tertutup kabut
tentang kemunafikan yang berselimut redup
dan tersingkir oleh tabir sang petir
tapi apakah semua tahu
bahwa semua itu kulakukan hanya untukmu
tapi mungkin hanya yang memikir
yang dapat memberi keputusan akhir
dirimu atau diriku
yang pantas jadi abu
Ustadji Panca Wibiarsa:
KIDUNG
gandrungku pada kidung pucuk malam
bersukma kesejukan embun
berhati keteguhan hening
kidung menyelimuti jiwa
dari demam berigau yang berkepanjangan
karena pergantian musim di tanah kecintaan
ternyata masih digerogoti kuman-kuman
kidung yang jadi perisai raga
dari serbuan nyamuk-nyamuk nakal
yang masih haus darah juga
kendati kurban sudah berjuta-juta
kidung memberi kesetiaan
memelihara arti malam-malam panjang
sebuah keluarga menganyam ketenangan di ranjang
bekal bagi kesungguhan langkah bersih esok pagi
o, betapa melangit gandrungku
nyaris kutuntut ke hadapan ruh
yang tak jemu-jemu memangku hidup
mungkin sengaja kidung disembunyikannya
agar digelar pencarian demi pencarian
Kutoarjo – Purworejo, 1998
R.I. Ciptadi:
KUHARAP MURKAMU
(Menerawang beribu mil jauhnya
negeri ini memerah menghitam
lampung pidie dili dan irian)
banyuwangi ketapang semanggi trisakti
negeri ini Indonesia
Hu! Jalanan ini berduri
menganga luka
menganga luka
Tuhan! Kuharap murkaMu
Tercecer wanita ternoda tercecer cabikan kepala
kanak-kanak habis sabarku, Tuhan!
Kuharap murkaMu
Atau murkaMukah, ini?
Ratna Widyastuti:
TEMA
kugenggami setiap dosa
kuitansi kealpaan picikku
kukemasi cermin nista
gambaran pijak hitamku tadi pagi
hanya bias dan kurva tak berbentuk
mencuat dalam selokan perih
langkah-langkah tak bertemaku
melebur aku dalam tuju tak tentu
dalam undang-undang tak berpasal
dan dalam kalimat tanpa jeda
pada dunia tak berjendela
Khodijah:
SENJA
gelap menapak cakrawala
gema adzan merayap
di bukit, dinding dan atap-atap
awan hitam diam
menunduk khusuk
pada penghabisan batas pandangan
bulan mengucap salam untuk alam
bintang bermunculan menjelma banyak mata
melalui muntahan sinarnya, menghunjam manik mataku
menembus dada
rinduku kian membatu
Cimindi, 22 Juli 1996
Kristina Kusuma Indrawati:
KEHENINGAN SUJUD
Di sajadah yang kuhamparkan diam-diam
ada mimpi dan ilusi berjalan-jalan, memabukkan
melantunkan doa-doa
mengabarkan semerbak sungai nirwana
dan nasyid-nasyid kepasrahan
terasing pada lembar-lembar menggetarkan
aku membaca dan memahami
karangan-karangan Tuhan
pada padang-padang dan sukma membatu
semua sindhung berlalu melewatkan
ujung-ujung senja tak berjarak
kudekap jiwa dan
tangis seperti sajak bulan di gelas
menjadikan malam tanpa lenguh
Tuhan, hari ini
kian tandus dan diam?
Januari 2000
Dandung Danadi:
NYANYIAN URBAN
di sini tonggak-tonggak berubah jadi besi
di sini siang tak memberi malam hanya mimpi
langkahku tak kuasa menyibak semak kota
mulut pun berbau lebih busuk dari tinja
di sini raut wajah desa semua melintas
selebihnya yang ada hanya perasaan cemas
menggigil meringkuk dalam rumah dari kertas
bermimpi senggama sambil berbantalan emas
banyak wajah bertopeng tembaga
bergentayangan menggilas tanpa iba
cara-cara nista menebar benih-benih luka
menghisap tanpa sisa
di sini nyawa orang tak ubahnya sebutir debu
bisa melayang hanya karena singkong dan mencuri sepatu
tubuh pun ditikam dicincang bagai binatang
terkulai diseret dibuang tanpa pakaian
Thomas Haryanto Soekiran:
SAJAK ISTRI
katanya,
hidup ini hanya semalam
sekali tersenyum terlewati sudah
katanya,
buat apa bahasa
untuk apa kata
jika terlalu penuh bicara
katanya,
nikmati nasi dan sambal
air putih jika ada
katanya,
hidup yang semalam
tanpa bahasa
sepi kata
nikmat rasanya
Purworejo, 1998
Tri Murni:
PENCARIAN
berkali-kali
kubenahi rambut kusut
agar tak mengganggu pencarian
di rimba banyak jejak
penjebak
keterbatasanku
membuatku tertipu
semakin jauh dari yang kutuju
hari gelap sudah
aku semakin gelisah
belum kutemukan juga
apa yang kucari
Purworejo, 1999
Soekoso DM:
SYAIR BENDERA PARTAI
sudah dikibarkan bendera partai
di tiang-tiang demokrasi
penuh warna-warna harapan
bersama pemimpin mereka
berlaksa-laksa sosok kepalkan tangan
dengan mata menyala
meneriakkan suara nurani gejolak jiwa
yang lama terpendam
tapi siapa di kegelapan
lempar batu sembunyi tangan
melumuri bendera dengan darah
melepaskan panah fitnah
menikambinasakan saudara sendiri
dengan pisau hujatan berduri-duri
membiarkan kebebasan melindas hak azasi?
sudah dipancangkan bendera partai
menawarkan seribu janji
bisakah mengeringkan luka-luka pertiwi?
1999
Sumanang Tirtasujana:
NEGERI YANG HOROR
negeri ini seperti dibalut kesunyian atas luka
tapi lampu-lampu berhamburan cahaya
lihatlah, orang-orang berkepala buaya, badak
ular dan biawak, berdesakan dalam bus dan kereta
mengenakan baju seragam, bernyanyi satu nada
seperti manusia-manusia negeri ini
tinggal kelongsong belaka
dan kau tak harus tertawa
kau pun tak bakal mampu menyihirnya
lihatlah, ia mengenakan sepatu, dasi dan lencana
tapi otak dan kepalanya tak lagi manusia
seperti monster, di tangan terhunus pedang menyala
diam-diam kita pun turut bernyanyi
dan mereguk dunia yang hancur!
Purworejo, 2000
Junaedi Setiyono:
SEJARUM KECEMASAN
Hanya kehilangan jarum. Jarum pinjaman. Bukan masalah sebenarnya. Tapi mengapa aku cemas? Kalau pinjam dan tak mengembalikan mereka pasti maklum: itu tabiatku selalu. Jika aku bilang pinjam itu artinya minta. Jika aku bilang minta (awas!) itu artinya harus diberi berlipat. Tapi bedebah benar jarum brengsek itu. Masa’ aku sampai lupa menaruhnya. Di tempat tidur? Di meja makan? (ya memang di dua tempat itu aku selalu). Aduhiyung, aku mimpi seram sekali; jarum itu menerobos masuk pantat melaju merobek jantung mencoblos otak bablas memecah batok kepala. Broll! Keparat, aku disate jarum. Kurangajar, mereka menggigitku, mengunyahku, menelanku… lalu, broll! aku jadi kotoran. Bunda, inikah proses yang mesti aku jalani untuk jadi sampah?
1999
Maskun Artha:
MESTINYA NEGERI INI MENGAPUNG
mestinya negeri ini mengapung dalam samodra takbir
mestinya pulau mengambang dalam laut tahmid
mestinya kapal angkat sauh dalam telaga salawat
mestinya nakhoda nyemplung dalam kolam dzikir yang teduh
sesegar teratai mekar di blumbangan dunia
berbunga-bunga putih maupun jingga
menghadang matahari khatulistiwa
tetapi bunda mana bisa bebas dari cemas
melepas biji matanya
mencari wawasan di jagat luas
ketika langit bermendung penghujatan dan caci maki
tatkala desa kota terkepung ranjau tersembunyi
manakala taman berkubang darah karena kiblat beda
bilamana penegak hukum celingus dilibas amuk massa
kalaupun ada tontonan
sekedar tarian Lempar Batu Sembunyi Tangan
kurindukan sayup tong-tong di gardu ronda
saat warga terlena dalam mimpi gulita
entah pertanda jaga, entah aba-aba waspada
karena negeri ini mengapung
dalam samodra kas bon, kapal dijarah
di telaga lamun, sekoci-sekoci buncah
(awak syahbandar pada main serobot
dan nakhoda semangkin repot)
Mei 2000
Masdi Artha:
BULAN TERTIKAM
bulan merah di tengah celah
lelehkan darah tertikam panah
misteri jagat tak tercatat
pada prasasti dalam sejarah
bidadari mendesah
malaikat menggeliat
rimba belantara bergejolak
jagat raya mencairkan gletser ke setiap ketiak alam
menenggelamkan segala rasa, sungguh dalam
bencana apakah ini maka lingga muncratkan gairah
gelora apakah ini maka telaga semburkan kekuatan megah
gempa apakah ini maka badai pusingkan kutub-kutub bumi
di atas hamparan salju merekah kembang ayu
dan seekor kumbang menukik mengucup madu
meneteskan kencing biru
bidadari mendesis
malaikat mengayunkan pedang wasiat
menyala berkilat
sesaat teramat cepat tanpa isyarat
bulan merah tertikam
bukit yoni pun pecah terbelah
: duhai dahsyatnya!
2000