Posted by: budhisetyawan on: Januari 21, 2008
Hampir setiap hari kita melewati berbagai jalan untuk pergi ke tempat kerja, sekolah, hiburan, dan sebagainya. Ada yang naik mobil pribadi, kendaraan umum, sepeda motor, sepeda, becak, atau juga mungkin berjalan kaki.
Bagaimana sikap para pengguna jalan tersebut? Tentu bermacam-macam. Hal ini berkaitan dengan paradigma seseorang tentang konsep nilai dalam berlalu lintas. Pemahaman tentang konsep nilai yang benar sangat dipengaruhi oleh kecerdasan, meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial/spiritual.
Sepertinya telah menjadi kebiasaan buruk beberapa pengguna jalan bersikap yang tidak baik di jalan. Yang paling kelihatan misalnya begitu seringnya angkutan umum, entah itu bis kota, mikrolet bahkan bajaj, berhenti di tengah badan jalan. Dan lebih lucu lagi para awak kendaraan tersebut tidak merasa bersalah, padahal di belakangnya pengguna jalan yang lain kaget, mengerem mendadak, dan kemudian kemacetan terjadi. Dan ini selalu saja terjadi seolah tak pernah berkurang. Sungguh aneh bukan, melakukan kesalahan tetapi merasa tak terjadi apa-apa.
Pengguna jalan yang lain yang sering tidak tertib adalah pengendara sepeda motor. Sangat sering terjadi pengendara motor berjalan di badan jalan sebelah kanan, dan apabila diklakson bukannya berjalan menepi ke kiri, tetapi malah menengok sebentar ke belakang. Yang menglakson dianggap temannya mungkin. Dan yang sering dilakukan pengendara sepeda motor adalah mengendarai dengan sangat kencang atau ngebut, serta suka memaksakan mengambil jalan pada celah di antara dua mobil. Hal ini sangat sering menyerempet pada kaca spion dan body mobil, yang berakibat tergores. Sungguh suatu kebiasaan buruk lagi. Mengapa pengendara sepeda motor suka melakukan hal seperti itu? Padahal dengan tergores sedikit saja, untuk memperbaikinya dengan mengecat kembali body mobil, akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apakah pengendara sepeda motor tak pernah berpikir sampai di situ? Apa yang mereka pikirkan?
Kemudian juga jangan dikira bahwa mobil pribadi tertib semua. Ada kalanya mobil pribadi menyerobot jalur, mendahului dengan jarak yang sempit, berebut di persimpangan, atau berbelok arah dengan tidak menyalakan lampu sein. Kalau ada mobil mewah dan masih baru, tetapi berbelok tanpa menyalakan lampu sein, kira-kira mengapa hal itu terjadi? Sepertinya tidak mungkin lampu sein-nya rusak. Atau otak dan perasaan pengendara mobil itu yang telah rusak? Yang lebih parah lagi, pengendaranya berpakaian bagus berdasi lagi. Apa yang ada di otaknya sehingga berbelok semaunya saja?
Sedangkan pejalan kaki sering melanggar aturan berlalu lintas dengan menyeberang tidak pada tempat penyeberangan yang tersedia, memberhentikan kendaraan umum bukan di halte, berjalan agak ke tengah badan jalan, dan lain-lain.
Mengapa sulit untuk tertib?
Nah inilah pertanyaan yang lumayan sulit dijawab, terutama bagi orang Indonesia atau minimal penduduk kota-kota besar. Semua orang butuh cepat, tetapi menjadi naïf jika saling mendahului dan berebut tanpa ada rasa bersalah, yang seringnya menjadi bertambah macet. Dan semua pihak yang terlibat menjadi tidak dewasa lagi, tetapi menjadi kanak-kanak, semakin tidak rasional dan berperasaan. Lalu kemana hati nurani dan sikap baik dan santun yang selama ini dibawa-bawa jika sedang ke rumah ibadah?
Sekedar contoh, saya pernah beberapa hari berada di sebuah kota kecil, yaitu di Jenewa, Swiss. Di kota Jenewa, saya melihat langsung dan berkali-kali di banyak tempat, pemandangan sikap santun pengguna jalan. Di sana warga kota itu begitu tertib. Sebagai contoh, apabila seorang pengendara mobil melihat orang berjalan di trotoar dan mau menuju zebra cross, maka pengendara mobil itu akan menghentikan mobilnya dan mendahulukan pejalan kaki untuk menyeberang terlebih dahulu. Juga di traffic light, meskipun lampu untuk kendaraan telah menyala merah dan kendaraan-kendaraan telah berhenti, tetapi para pejalan kaki belum menyeberang jalan, sebelum lampu untuk penyeberang menyala hijau. Bagaimana dengan warga Indonesia di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya; yang notabene katanya ber-Pancasila? Juga para penumpang trem/bis kota yang selalu tertib membeli karcis dengan uang koin di counter karcis otomatik yang tersedia di dekat halte pemberhentian, padahal sangat jarang dilakukan pemeriksaan tiket. Mengapa mereka begitu tertib, patuh pada peraturan?
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang cerdas. Bagaimana komentar Anda?
“Salah Asuh”
Kita adalah korban salah asuh, sebagai contoh : seorang bayi yang baru lahir manakala menangis Ibunya langsung menggendong dan memberikan ASI, padahal bayi tersebut belum tentu lapar atau haus, mungkin ngompol atau digigit nyamuk tetapi ibunya ambil gampangnya dengan cara begitu supaya bayinya tidak menangis.
Mayoritas anak anak kita menjadi korban salah asuh, akibatnya anak menjadi tidak disiplin dan tidak tertib. Disamping itu lemahnya pengawasan dan penegakan aturan yang ada saat ini.
Tanpa adanya tobat nasional negara dan bangsa ini akan makin terpuruk dan tertinggal oleh zaman. Semoga……………….
Santun dijalan…..?
waow indahnya jika di negeri tercinta ini bisa meng-adopsi sikap santun masyarakat swiss, singapore atau negara2 lain yang lebih tertib, tetapi itu sepertinya hayalan yang indah namun…entah kapan jadi nyata dan siapa yang akan bisa me-management-nya jika tidak dimulai dari diri ini sendiri dan keluarga terdekat kita….Selamat berusaha….semoga khan ada hasilnya..
Februari 2, 2008 pada 10:44 am
Mas Budhi yang peduli………………..
Jika dibandingkan kondisi lalu lintas di negara kita dengan kondisi lalu lintas di luar negeri/negeri tetangga, sangat jauh berbeda………… Kenapa ya?
Salah satu alasan yang pertama dan utama menurut saya adalah populasi penduduk, ke dua : kondisi sosial ekonomi, ke tiga : budaya dan gaya hidup. Jika kita bandingkan negara kita dengan negara-negara lain yang sama kepadatan (density)-nya, problemnya tetap sama seperti misalnya : Thailand, India, China, mungkin juga Afrika. Kondisi penduduk yang padat dan rank ekonomi dibatas garis kemiskinan, naaahh….itu masalahnya!
Omong2 soal sastra, sastra sampeyan di tulis dalam Bahasa Jawa yang saya tidak ngerti. Pake Bahasa Indonesia dong….lebih universal. Oke Mas Budhi, saya sudah lihat situs anda, salam perkenalan, lain kali saya mampir lagi.