Posted by: budhisetyawan on: Maret 18, 2008
MIMPI KEMBALI
merpati-merpati hinggap di kursi
bangku taman boulevard miring
di bawah kepak angin menusuk tengkuk
ini musim panas!
menawarkan gerimis dan hujan
pada dinding kota: terdiam
mengalir wajah Purworejo
irama lambat nan pelan
mengisi sungai nadi
penuhi danau hati
ada yang merasa ditinggal dan dilupakan
memanggil-manggil di trotoar Jenewa
“aku disini
mencacah sepi
mengurai jalan kembali”
“kau bangunkan aku
dari tidur perjalanan
dalam bisik keyakinan”
kota-kota sibuk berlari
di simpang bimbang tanya menepi
“darimana kita memulai?”
Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007
BERONTAK KATA BIJAK
engkau berlari mengibarkan caci maki
saat kau tahu
engkau tak kutulis dalam sajakku
aku lebih menerima kata
terlahir terakhir
setelah lelah berdebat denganmu
tentang sebuah nama dan makna
maaf sementara
kutinggalkan dirimu di ladang jauh
wahai kata bijak
nanti kudatangi sebelum shubuh jatuh
Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007
SABAR
lautan mengangkut kerdil
malam mengangkut jarak
hutan mengangkut doa
hujan mengangkut kapan
aku mengangkut masih
Jakarta, 13 Juli 2007
KUKETUK DIAMMU
pagi baru mengetuk hari
ketika tiba-tiba Jakarta mendekapku lekat
sebentar, aku membuang sengal
mana janjimu kemarin?
janji apa?
tentang rindumu yang kaulukiskan di sepanjang trotoar
ya rinduku pontang-panting terpelanting
digulung asap dan karat zaman
kini tengah kucari serpih-serpihnya
pada tawa gedung-gedung tinggi
tapi malah kuteriris runcingnya
mari ke kolong tol
mewarnai kanvas waktu
dengan harum sampah dan kudis luka
Jakarta, 6 September 2007
MOZAIK PURBA
kucangkul wajahmu
dengan buta mataku
ini hari menelisik siang
kepak sayap jauh merindu labuh
batu kerikil membuih asap
gamang beku menyungai usah singkap
kucangkul suaramu
dengan tuli telingaku
ini syair menanyakan kata
kamar pengap meruap membingkai kumal
awan usang merangkai kecipak
jelaga bersolek merayap mengirimkan senja
kucangkul wangimu
dengan kedap hidungku
ini lagu mencari irama
ombak menggelinjang lengkung mengantar pasang
angin musim membelukar ladang
gusar lunglai mengejar kepingan pijar
kucangkul kisahmu
dengan kisahku
berderak-derak, merekah ranting patah
berdesak-desak, menderai enggan usai
Bekasi, 21 Oktober 2007
(Majalah GONG adalah majalah Media, Seni dan Pendidikan Seni, terbit di Yogyakarta. Alamat redaksi: Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161. Telp/fax: 0274-370830; 081568445708. email: redaksi@gong.tikar.or.id )
Keren mas…
wuiiihhh T O P !!!
Ini baru Sastra !!!
Tetep Semangat Pak Budhi !
Salam Sastra (^^,)
Teduh….
Meresapi puisi ibarat meraskan sejuknya hawa di pegunungan dengan aliran sungai kecil dibawahnya…Indah….
tuk Mozaik Purba..maknanya dalaaam buanget…pake cangkul si….
Terus berkarya buat Mas Budhi….sebagai penggugah jiwa….
Lam kenal aza.
T.O.P B.G.T
simply beautiful..
Maret 18, 2008 pada 5:35 am
i like your poem ’sabar’…. it’s simple…..but….it’s deep…..it seems that i can feel the feeling of the poem….
Mei 28, 2009 pada 5:52 am
thx nina.
progressive-metal forever…… yeaachh….