Budhi Setyawan

Sajak-sajak Budhi Setyawan di Majalah GONG edisi 98/IX/2008

Posted by: budhisetyawan on: Maret 18, 2008

Fotodiri

MIMPI KEMBALI

merpati-merpati hinggap di kursi

bangku taman boulevard miring

di bawah kepak angin menusuk tengkuk

ini musim panas!

menawarkan gerimis dan hujan

pada dinding kota: terdiam

mengalir wajah Purworejo

irama lambat nan pelan

mengisi sungai nadi

penuhi danau hati

ada yang merasa ditinggal dan dilupakan

memanggil-manggil di trotoar Jenewa

“aku disini

mencacah sepi

mengurai jalan kembali”

“kau bangunkan aku

dari tidur perjalanan

dalam bisik keyakinan”

kota-kota sibuk berlari

di simpang bimbang tanya menepi

“darimana kita memulai?”

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

BERONTAK KATA BIJAK

engkau berlari mengibarkan caci maki

saat kau tahu

engkau tak kutulis dalam sajakku

aku lebih menerima kata

terlahir terakhir

setelah lelah berdebat denganmu

tentang sebuah nama dan makna

maaf sementara

kutinggalkan dirimu di ladang jauh

wahai kata bijak

nanti kudatangi sebelum shubuh jatuh

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

SABAR

lautan mengangkut kerdil

malam mengangkut jarak

hutan mengangkut doa

hujan mengangkut kapan

aku mengangkut masih

Jakarta, 13 Juli 2007

KUKETUK DIAMMU

pagi baru mengetuk hari

ketika tiba-tiba Jakarta mendekapku lekat

sebentar, aku membuang sengal

mana janjimu kemarin?

janji apa?

tentang rindumu yang kaulukiskan di sepanjang trotoar

ya rinduku pontang-panting terpelanting

digulung asap dan karat zaman

kini tengah kucari serpih-serpihnya

pada tawa gedung-gedung tinggi

tapi malah kuteriris runcingnya

mari ke kolong tol

mewarnai kanvas waktu

dengan harum sampah dan kudis luka

Jakarta, 6 September 2007

MOZAIK PURBA

kucangkul wajahmu

dengan buta mataku

ini hari menelisik siang

kepak sayap jauh merindu labuh

batu kerikil membuih asap

gamang beku menyungai usah singkap

kucangkul suaramu

dengan tuli telingaku

ini syair menanyakan kata

kamar pengap meruap membingkai kumal

awan usang merangkai kecipak

jelaga bersolek merayap mengirimkan senja

kucangkul wangimu

dengan kedap hidungku

ini lagu mencari irama

ombak menggelinjang lengkung mengantar pasang

angin musim membelukar ladang

gusar lunglai mengejar kepingan pijar

kucangkul kisahmu

dengan kisahku

berderak-derak, merekah ranting patah

berdesak-desak, menderai enggan usai

Bekasi, 21 Oktober 2007

(Majalah GONG adalah majalah Media, Seni dan Pendidikan Seni, terbit di Yogyakarta. Alamat redaksi: Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161. Telp/fax: 0274-370830; 081568445708. email: redaksi@gong.tikar.or.id )

13 Tanggapan ke "Sajak-sajak Budhi Setyawan di Majalah GONG edisi 98/IX/2008"

i like your poem ’sabar’…. it’s simple…..but….it’s deep…..it seems that i can feel the feeling of the poem….

thx nina.
progressive-metal forever…… yeaachh….

Keren mas…

terima kasih. semoga aku bisa belajar dari teman2 semua..

wuiiihhh T O P !!!
Ini baru Sastra !!!

Tetep Semangat Pak Budhi !
Salam Sastra (^^,)

makasih Rina….
terima kasih penyemangatnya, semoga aku tetap bisa menulis dengan baik..

Teduh….
Meresapi puisi ibarat meraskan sejuknya hawa di pegunungan dengan aliran sungai kecil dibawahnya…Indah….
tuk Mozaik Purba..maknanya dalaaam buanget…pake cangkul si….
Terus berkarya buat Mas Budhi….sebagai penggugah jiwa….

terima kasih atas kritik dan apresiasinya….
semoga beberapa tulisanku bisa berguna walau pun hanya seperti sepoi2 udara pagi….

salam jiwa.

Lam kenal aza.

salam kenal juga. terima kasih sudah mampir….. maaf kalau menunya ala kadarnya, he3… maklum saya masih primitif…

T.O.P B.G.T

terima kasih Nurjanah. semoga saya tetap bisa berenergi untuk berkarya

simply beautiful.. :)

Tinggalkan Balasan