Posted by: budhisetyawan on: Agustus 1, 2008
Jurnal Kebudayaan The Sandour adalah media yang mengakomodasikan karya sastra antara lain puisi, cerpen, esai, dan lain-lain; yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga bekerjasama dengan Forum Sastra Lamongan (FSL). Dalam nomor edisi III tahun 2008 yang menampilkan puisi-puisi penyair yang telah dikenal seperti: Raudal Tanjung Banua, S Yoga, Kirana Kejora, Dadang Ari Murtono, Saiful Bakri, dan lain-lain; termuat beberapa beberapa puisi sederhana saya yang saya tulis tahun 2007. Ada tiga puisi yaitu berjudul Ode Penyair Luka, Sajak Penyair Lupa, dan Menuju Pertemuan. Berikut saya kutipkan silahkan diberi komentar penyemangat agar saya mampu menulis yang lebih berbobot lagi.
ODE PENYAIR LUKA
akulah
penyair luka
terlahir dari darah nanah
kutawarkan rintih duka kepada samudera
untuk kutukar dengan: ombak ganas
kutawarkan bosan nuansa kepada ladang
untuk kutukar dengan: gesit musang
kutawarkan hambar jiwa kepada sabana
untuk kutukar dengan: taring singa
kutawarkan keluh sengsara kepada belantara
untuk kutukar dengan: aum harimau
kutawarkan beku cinta kepada gunung
untuk kutukar dengan: gelegak lava
masih ku duduk di kepak kata
menunggu jawabnya,
sambil menghitung sisa usia
Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007
SAJAK PENYAIR LUPA
bukan ini yang kumau
mengapa puisi begini menjadi
ini hanyalah najis dalam bangunan kata-kata manis
“duhai kata pujaan
bermalam-malam
berbulan-bulan
bertahun-tahun
kau benamkan aku dalam perahu renjana
melintasi taman teduh sekujur pembuluh
setia meski di ruang keruh
bahkan banyak yang ingin membunuh
tiada keluh mengaduh
sampai engkau kurengkuh, sungguh”
“engkau terus membelit menggodaku
namun kau tak pernah hadir di bait-bait sajakku
mengapa kau udarakan rayu manja,
begitu aku semangat; engkau khianat?”
ternyata,
puisi yang diharapnya
tak pernah tercipta
hingga sang kala meremahnya
di jalan menikung, senja yang mendung
penyair berlalu sendirian dan lupa bersenandung
Jenewa (Swiss), 28 Juni 2007
MENUJU PERTEMUAN
senja tersungkur matahari berbaur
lautan meringis teriris menahan gemeretak ombak
tanah-tanah terbelah tampakkan pasrah
senyap arah
danau sungai peluk temaram
terhisap suara ke dalam untai debar
gunung perbukitan menundukkan tubuh
khidmat menempuh jalanan luruh
ini dunia
hanya permainan dan canda belaka
batu kapur,
melapuk umur
menuju kubur
Jakarta, 2 November 2007
(Jurnal Kebudayaan The Sandour Jln Raya Sukodadi – Makam Sunan Drajad, Kendal- Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan Jawa Timur; website: www.pustaka-pujangga.com, email: pustaka_pujangga@yahoo.com)
Sahabat…..karya-karyamu selalu membuat dunia sastra cemerlang.
Puisinya bagus banget..
Betul kata Weni : liar..,tp nyaman dibaca
Agustus 2, 2008 pada 12:00 am
Dear………puisi-puisi ini bagus, liar, namun romantis seperti dirimu……..
membuatku cemburu…(apanya?)
Mei 28, 2009 pada 5:46 am
ah… kau juga sekarang makin terkenal Weni…. karya2mu kian tajam mencumbu perasaan pembaca…. wow..