Posted by: budhisetyawan on: April 20, 2009
Ada 5 puisi saya yang dimuat di harian Sinar Harapan tanggal 11 April 2009. Berikut saya ambilkan 2 puisi yang masih saja sederhana. Terima kasih atas dorongan teman-teman semua. Terus terang saya masih dalam taraf belajar menuliskan rangkaian kata, dan diupayakan agar menjadi puisi. Selamat membaca jiwa.
Ombak Mengirim Sunyi
di sini ombak menciumi untai sajakmu, yang mengalir di sela tapak tapak matahari yang berjalan di atas karang. uap kenangan yang kausuling menjelma minyak wangi, mengisi celah celah hiasan di gerbang ukir batu. aku menagih mimpi tentang taman puisi yang belum juga kaukirimkan, meski mendung telah mengadu pada langit. angin kisah berlarian mencapai gemulai arca. sesaji meruncing mengikhtisarkan bongkah asa yang memenuhi kamar, meniti tangga sutra untuk menyampaikan doa kepada para dewa. sapuan pelangi mengikuti lengkung janur di perjalanan. akankah warna warna itu akan terus berkecak melumuri relief usia. jalanan terlalu gemuruh dengan rumus dan angka angka. lukisan panorama alam berlomba menakar palung rasa. ada yang diam diam terengah engah dalam golak arus gaung kembara. kesunyian jejak masa kecil yang tertanam begitu dalam, sedangkan lagu lagu masa kini terlalu rancak dan pesat. siapa kini yang jadi temannya.
Tanah Lot, 2008
Tak Seberapa Yang Kuingat
aku tlah lupa namamu
dan memang aku gampang lupa
pada hafalan rentet kata yang kadang
begitu belantara maknanya
namun aku takkan lupa pada lukisan dekap dan sketsa doa
yang terus kaurajut bersaing rebut dengan gelaran jauh
aku tlah lupa dengan namamu
dan di malam apa kita bertemu
asing saling menjadi tamu
yang katamu tak usah diigat tak perlu itu
namun bulan selalu mengirim dedaunnya yang perak
menjadi ornamen mekar di pinggir jendela parau teriak
Jakarta, 2008
apikeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
April 21, 2009 pada 9:21 am
Yang 3 nya mana hwehehehe…
Aku melihat dari puisi-puisi diatas adalah keindahan dan rangkaian kata yang sangat indah dari (sang) penyair, hwehehehe….
Puisi yang pertama terlalu rumit pengembaraannya, karena bukan hanya ombak yang mengirimkan rasa sunyi, tapi alampun turut mengirimkan sunyinya hingga kesunyian inipun bermatamorfosis menjadi minyak wangi … puisi yang kedua seperti di tujukan kepada seseorang sepertinya sama. seseorang dimasa lalu… lagi kangen tah…