Puisi BARA JUANG sebagai Puisi Pilihan di Festival Musikalisasi Puisi 2009
Posted by: budhisetyawan on: Agustus 29, 2009
Beberapa waktu yang lalu saya iseng mengetikkan kata-kata “draft puisi Budhi Setyawan” di mesin pencari Google, saya terkejut dan setengah tidak percaya karena puisi karya saya yang berjudul Bara Juang menjadi salah satu Puisi Pilihan dalam Festival Musikalisasi Puisi 2009 yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Festival itu diadakan pada tanggal 19 – 20 Mei 2009 di Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Puisi saya sebagai 5 puisi pilihan bersama puisi lainnya yaitu Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri, Nyanyian Untuk Yang Dilupakan karya Ramadhan KH, Elegi Tanah Airku karya Aspar Paturusi, dan Cahya Merdeka karya Rustam Effendi. Sedangkan sebagai Puisi Wajib adalah Kerawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Bisa dicek di blog di bawah ini:
http://kantorbahasaprovinsilampung.blogspot.com/2009/04/festival-musikalisasi-puisi-2009.html
Saya merasa terharu kalau memang hal itu benar, karena saya yang masih pembelajar dan pemula dalam penulisan karya puisi, ternyata satu puisi saya berdampingan dengan puisi karya para penyair terkenal. (terlepas ada atau tidak grup musikalisasi puisi yang memilih puisi saya tersebut). Sampai saat ini saya tidak pernah menanyakan kepada panitia penyelenggara tersebut. Juga karena puisi Bara Juang tersebut belum saya masukkan dalam buku antologi puisi tunggal maupun antologi bersama. Puisi tersebut baru saya publikasikan di blog saya ini juga, sebagai pemberitahuan bahwa puisi tersebut saya bacakan di RRI Jakarta tanggal 15 Agustus 2008, dalam acara menyambut peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-63 yang bertema: Nasionalisme dan Hari Depan Indonesia. Bisa dicek di kolom Kabar & Silaturahmi 1 di blog saya:
http://budhisetyawan.wordpress.com/2008/08/17/baca-puisi-di-rri-jakarta-15-agustus-2008/
Menurut saya, kemungkinan ada seseorang yang berbaik hati memilih puisi saya tersebut menjadi puisi pilihan. Saya sangat berterima kasih kepadanya. Untuk sekedar mengingatkan, berikut saya tampilkan lagi puisi Bara Juang.
Bara Juang
api yang tegap nyala
mengaliri sumbu-sumbu yang tumbuh menyapa
kembang berjaya di dada anak bangsa
tepiskan lena
kibaskan manja
dalam ruas ritual
menjaga panasnya
merawat baranya
bubur merahnya
bubur putihnya
selaksa usap doa menjaga harap yang tekun merayap
empat mufakat
lima bersama
empat lima keramat yang senantiasa mengguncang langit jingga
tlah ditabukan segala lelah
tlah dilenyapkan segala pasrah
dalam menelusur riwayat masa bentang alur sejarah
kau, kau, kau…
pantang berdiam sahaja
mari bersama
kumandangkan gelora semangat
merah putih: merdeka
darah merdeka
tulang merdeka
tubuh merdeka
jiwa merdeka
Bekasi, 7 Agustus 2008
September 9, 2009 pada 6:50 am
Salam kenal,
Nderek tanglet
Alamat emailipun Panjebar Semangat menika napa?
September 9, 2009 pada 8:24 am
kalau belum ganti email Panjebar Semangat: panjebarsemangat@journalist.com
salam sukses…
September 14, 2009 pada 6:40 am
matur suwun