Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta pada bulan Desember 2011 menggelar The 2nd Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2011. Selain untuk menyebarkan semangat persaudaraan, toleransi dan sikap saling menghormati dengan kesadaraan pada multikulturalisme sebagai potensi dan kekayaan budaya, festival ini juga sebagai ajang untuk mengangkat citra Jakarta sebagai kota wisata budaya di mata masyarakat Internasional.
Acara yang berlangsung dari tanggal 6-9 Desember 2011 ini, digelar di tiga tempat berbeda. Untuk pembukaan dan kegiatan seminar berlangsung di Hotel Millennium. Sedangkan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dijadikan panggung sastra utama. Lalu, tempat kegiatan workshop, pentas sastra di ruang publik, serta pentas penutupan ditempatkan di Galeri Nasional tanggal 8 Desember 2011.
Saya kebetulan diundang sebagai peserta dalam Jilfest 2011. Dalam acara tersebut yang tidak dapat saya ikuti secara penuh karena diadakan di hari kerja, maka saya sempatkan hadir pada sore dan malam hari. Di dalam acara tersebut saya bisa berjumpa dengan para penyair yang sudah cukup terkenal seperti Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Agus R Sarjono, Arsyad Indradi, Ahda Imran, Warih Wisatsana, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Hamdy Salad, Faisal Syahreza, Berthold Damshäuser (Jerman), dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Meskipun tidak dapat secara intensif terlibat dalam percakapan mengenai sastra, tetapi pertemuan tersebut bagi saya telah membantu menambah semangat untuk belajar dari totalitas mereka dalam bersastra. Ada suasana keakraban khas seniman yang memberikan energi gembira. Bagaimanapun saya masihlah pembelajar dalam bersastra.
Dalam acara kali ini, Jilfest menerbitkan 2 buku yaitu Antologi Cerpen Pemenang dan Nomine dalam Jilfest 2008 & 2001 (dalam Jilfest pertama tahun 2008 tidak diterbitkan buku antologi karya) dan Antologi Puisi dan Cerpen Peserta Jilfest 2011 yang diberi judul Ibukota Keberaksaan. Ada 2 puisi saya yang termuat di buku Antologi Puisi dan Cerpen Peserta Jilfest 2011 yaitu berjudul Tuan Tuan yang Telah Anjing dan Kabut di Kotamu. Di sini akan saya cantumkan 1 puisi pertama.
Tuan Tuan yang Telah Anjing
untaian dekade merupa wajah tirus terkucil. letih kami tak
terlihat oleh mereka. dan kata kata telah basi sebelum
terucap, dari ruang ruang megah tanpa nurani.
anjing anjing berkostum rapi. yang selalu siap mengirimkan
cabikan ke hulu kisah. mondar mandir di sekitar istana.
sembunyikan ekornya. mulutnya rajin menenteng kitab suci,
tak lupa selalu berpeci. telah berapa banyak para pengabdi
tergigit.
ah abad kian rapuh, oleh birahi tampuk kuasa. keteguhan
kata kian renta, bertubi diserbu ciuman basah tahta. ruang
kelas sepi tak ada yang bisa terbaca. buku buku terkatup,
penuh jamur kedunguan yang akut. serupa kegemasan yang
menarikan takut.
apa yang terbit dari gonggongan, selain hasut dan tikaman
diam diam. lidah dongeng sembunyi sembunyi menjilati anus
laknat. jelaga menghambur di sekujur usus tualang. sendawa
melahirkan todongan todongan kuno dalam balut pengecut
yang kian kecut.
tak kau lihatkah, tuan tuan yang telah anjing. berpidato dari
mimbar mimbar batu. kalimat kalimat serupa pelangi yang
menabur gas berracun. melenakan pada setiap nafas pemirsa,
sedemikian terlupa pada tuah pertapa.
Bekasi, 2010
“…design website ini menarik juga, suatu saat saya akan kembali lagi. Buat yang ingin memiliki website murah & memuaskan…Silahkan kunjungi jasa pembuatan website di http://www.shop737.com/?id=gunpantau
terima kasih
sungguh
saya suka membaca puisi ini
sangat tegas