Ada tiga puisi saya yang termuat di koran Padang Ekspres edisi hari Minggu, 29 Januari 2012. Ketiga puisi tersebut berjudul Kepada Perempuan Bersayap Laut, Kilau Ungu Pukau, dan Menafsir Tentangmu.
Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Menafsir Tentangmu.
Menafsir Tentangmu
menyeruak langit tatap dan rasa
angkasa menjadi ladang ladang
persemaian tikai pandang
galaksi berpendaran
mengusung rintih kisah silam
ruah getah pembebasan
awan bercengkerama dengan ribuan almanak
mencari sketsa garis tangan
serta samar lambang dan tanda tanda
matahari mengirimkan anak anaknya
lewat rimbun cakra nafas
dalam sembunyi terus berpinak
tembang dolanan menjelma korona
pada siluet emas purnama
gemintang membingkai di sebuah jendela
sungai kata tetap mengalir
mana hulu mana hilir
kesturi wewangian berpusar semilir
riak jejak suar debar
menjelma perdu paragraf purba
kitab kitab yang terbuka
sepoi nada lirih shalawat
mengusap segala dinding doa
nuju titik pucuk pemaknaan
negeri dalam tempurung bimbang
gamang mengaji gerak bayang bayang
dalam layar pejam terawang
ah tentangmu,
serupa hujan salah musim
ombak pasang di remang malam
betapa zaman masih gagap mengeja
menikmati ya Mas Budhi
sungguh saya selalu suka membacanya…
matur nuwun mas, kula inggih taksih sinau ing babagan sastra/puisi mas.
salam taklim mas Akhmad Muhaimin Azzet.
mas kirimi maksud dari geguritan ilir-ilir 087737941669 trimakasih
Assalamualaikum mas Budhi Setyawan,
hmmmmmm…… berjalan jalan di blog mas Budhy sungguh menyenangkan
rasanya aku tak mau beranjak pergi
rasanya aku tak mau meninggalkan semua yang tertuang di sini
menikmatinya dengan hati
aku terkesima membaca larik larik aksara yang indah
semuanya indah….
to be continue….
salam sastra
waalaikumsalam. mba Ummi Rissa.
terima kasih telah sudi dan berkenan singgah blog saya.
ya begitulah adanya, semua karya saya masih daam proses pembelajaran.
minta kritikannya ya mba, agar sy dpt lebih baik ke depannya.
salam..
maz Budhi Setyawan..
mau nanya maz…
apa maksud dari puisi Menafsir Tentangmu yang anda buat ?
puisi tsb sebenarnya sy tujukan kepada seorang yg termasuk tokoh namun krg diapresiasi. jd banyak hal2 yang baru atau lbh maju dr ide2 dia, namun orang2 sekitar belum bisa mengikuti pola pemikirannya. memang ada orang yang sangat visioner, shg lingkungan belum bs menerima.
makanya di akahir puisi sy tulis: betapa zaman masih gagap mengeja.
terima kasih Asa Tuna.
salam sastra penuh asa!