SASTRA adalah bagian dari seni.
sastra adalah menebar keindahan.
sastra adalah menyebar kerinduan.
sastra adalah menjelma kehidupan.
***
Menulis puisi menjadi bagian yang melekat dalam hari-hariku, di manapun berada. Puisi-puisi yang sudah aku tulis terdapat dalam 15 kumpulan puisi yaitu:
1. Kidung Budaya Budhi
2. Kepak Sayap Jiwa
3. Penyadaran
4. Kebangkitan
5. Aku Lahir Satu
6. Sukma Silam
7. Bacalah
8. Gema Sunyi
9. Kelopak Rasa
10. Mata Musim
11. Senggama Debu
12. Mantra Belantara
13. Simpul Jiwa
14. Dialog Zaman
15. Pusaran Bayang
Kumpulan Kidung Budaya Budhi dan Kepak sayap Jiwa telah diterbitkan menjadi buku dengan judul KEPAK SAYAP JIWA (2006) dan kumpulan Penyadaran dan Kebangkitan terbit dengan judul PENYADARAN (2006).
Sedangkan kumpulan Aku Lahir Satu dan Sukma Silam telah diterbitkan menjadi buku kumpulan puisi berjudul SUKMA SILAM pda bulan Agustus 2007.
Beberapa puisi karyaku pernah dimuat di harian Tribun Kaltim, Balikpapan hari Minggu 16 Oktober 2005, Majalah GONG edisi 98/IX/2008. Sedangkan beberapa geguritan atau puisi dalam bahasa jawa dimuat majalah DAMARJATI dan PANJEBAR SEMANGAT.
&&&
SEKILAS NILAI KEMANUSIAAN SASTRA
Buku-buku populer kelihatannya saja laris. Artinya, penerbit untung besar dan pengarangnya mendadak kaya. Tetapi sesungguhnya karya-karya populer tak pernah tahan lama. Karya-karya ”kacang goreng” itu tak bakal menjadi buku klasik. Padahal buku Siti Nurbaya, Atheis, Cerita dari Blora meskipun tidak segera membuat pengarangnya jadi jutawan, tetap laris dan menyebar kemana-mana. Rupanya buku populer memang menguntungkan sesaat, sedangkan buku yang baik menguntungkan selamanya.
Karya sastra menonjol karena nilai-nilai kemanusiaan yang menonjol di dalamnya. Nilai-nilai inilah yang bertahan dalam mengarungi jaman, dan menembus batas-batas geografis, politis, etnis maupun filosofis manusia. Kalau tidak percaya cobalah buka lagi karya-katya Shakespeare, Goethe, Ranggawarsita, Basho, Tagore, dan penulis-penulis Kitab Suci.
Kitab-kitab yang disucikan oleh berbagai agama, pada hakikatnya adalah karya sastra yang sempurna. Keindahan bahasa, kedalaman isi, luasnya wawasan, dan sentuhannya yang sampai ke sukma. Itulah bukti betapa tinggi nilai sastranya. Di dalam kitab-kitab itu, manusia mendengar firman Yang Maha Pencipta. Memang untung, Tuhan berkenan menggunakan bahasa manusia. Dan penulis firman-firman itu, tentunya sangat dekat dengan-Nya.
(sumber: Menggebrak Dunia Mengarang, karya Eka Budianta, Penerbit Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, Jakarta, 1992. Dari Bab Satu: Nenek Moyang Juga Pengarang. Saya ambil tanpa ijin penulis dan penerbit, karena sesama pengarang, dia langsung saya ’klaim’ sebagai teman, sahabat, saudara….hehehe…. salam hormat Bung Eka!)
Seru !!!
Mari kita buktikan bahwa kita ada …
Aku bermanfaat (bagi orang lain) maka aku ada
Salam
saya pikir puisi pak budi hanya tentang religi spt yang pernah saya baca di milist penulis lepas atau penyair, ternyata kaya ragam berbagai topik. wish you success and always under His guidance
sak ben aku moco puisi sampeyan mesti mrinding lho bulu … ku
kang, salut untuk karya dan ke istiqomahan mu…..
kapan maen ke rumah ndengerin lagu ku….
salam kenal,
satu pertanyaan.
rahasia apa yang anda gunakan, begitu ringan melayang di setiap kata yang terucap.
maaf sebelumnya, saya belum pernah baca karya anda tapi akan saya cari besok di toko-toko buku malang.
komentar pertama nih… hm tulisan mu bagus2 semua… jujur, zu senang sekali
Pertama kali baca puisi pak Budhi ini di miis Sastra_Bentang, dan akhirnya sampe di blog ini dan asyik membaca tulisan2nya,
Nece poem pak
Salam
Pertama kali baca puisi pak Budhi ini di miis Sastra_Bentang, dan akhirnya sampe di blog ini dan asyik membaca tulisan2nya,
Niece poem pak
Salam
hebat & ucapan selamat jg terkirim doa semoga sukses terus dengan munculnya karya2 terbaru mas budhi, insya allah Amien…
aku sangat senang dengan segala sesuatu yang berhubungan alam, karena ketika kita dekat dengan alam, yang dirasakan hidup lebih bermakna, bersemangat, dibawa sinaran matahari, bulan dan bintang yang bersinar, dikelilingi pepohonan hijau nan indah, telaga yang tenang dengan pancaran kesegaran, disitulah kita akan merasakan kebesaran Ilahi. inilah sebagian kecil yang sudah diangkat mas Budhi dalam karyanya.aku senang dengan itu selamat berkarya terus….
nukilan telah ku baca
tanpa sedar kolam mataku berkaca
kerna sedang dengan siapakah aku berbicara?
malu dalam mau menegurmu penuh sayu
layakkah aku…sebagai teman puisimu….
salam puisi….
tadinya aku bingung banget waktu kamu menyapaku dengan kalimat itu
ko? aneh aja…….
lah, ternyata si penyapa itu seorang penyair yg akuntan hehehehe
karna aku ga intens ngikutin karya2 sastra, aku cuma bisa bilang, hebat…
banyak ternyata generasi dengan karya yang patut diacungi jempol
insyaAllah kalau nongkrong di toko buku aku longok karyamu
hehehe………trs dibawa pulang tuk’ dinikmati
U’r poems collection so nice..
I can Imagine it
Saya tidak tahu puisi yang baik itu yang bagaimana. Ada yang bilang yang punya nafas panjang, abadi, ada yang bilang yang dapat memberikan pengkayaan rohani, memberikan pengharapan hari esok dan penghiburan kini.
Namun yang dikatakan baik dan menjadi buku utama pun oleh pihak lain kadang ditempatkan pada posisi yang problematis. Demikian juga ketika saya menikmati Kepak Sayap Jiwa, mengeja bait demi bait organisasi kata-katanya, mencoba mengkais-kais makna seperti ada yang kurang. Saya tidak bilang “tidak bagus” karena sebagaimana saya katakan diawal, saya tidak tahu puisi yang baik dan puisi yang jelek, karena saya memang “Awam Puisi”. (Menurut HAH tidak ada puisi yang buruk).
Mungkin ketidak “sreg” an saya dalam menikmati Kepak Sayap Jiwa karena terbiasa menikmati puisi dengan bait-bait panjang, metafora-metafora yang kaya seperti punya Sapardi Joko Damono, Joko Pinurbo, atau puisi-puisi dari dunia maya (Mohammad Misbakhudin yang sempat memberikan karya puisinya lewat email, D. Zawawi Imron, Dorothea, dll yang saya dapat dari sumber2 free lainnya). Meskipun terkadang saya masih mencari-cari makna dalam puisi-puisi tersebut, tetapi rasanya ada kepuasan tersendiri menikmati bait-bait panjang dengan metafor-metafor yang kaya.
Wah saya jadi kuatir jangan-jangan saya terpengaruh kredo-nya Sutardji: buatlah puisi yang memenuhi unsur-unsur puisi (puisi yang puitis kali) masalah isi akan dicari-cari sendiri oleh pembaca. Kayaknya saya memang suka membaca karya puisi dengan metafora-metafora indah dari para penyair meskipun seringkali mengkais-kais makna yang tersembunyi tak juga ketemu he..he…
nderek tepangan bos…
Mas aq butuh bantuan mas.tolong carikan alamat yang memuat tentang sejarah sastra,pereodeisasi dan perkembangan sastra indonesia.Trims
Salut bung….bahasa puisinya sangat mendayu-dayu….apalagi puisi yang berbahasa jawa.
Wis jan apik tenan…mugo-muga aku isok ketularan bung Setyawan…..
Salam sastra! Masya Allah, puisi-puisi Bapak bagus-bagus! Info tentang sastranya juga sangat mencerahkan.
Sebuah kehormatan Bapak telah berkunjung di laman saya. Terima kasih atas kunjungan Bapak tersebut.
mas, walo aku baca cuma sekilas namun puisi2 mu mengena bgt di ati..
bahasanya kliatanya susah tp, ternyata klo didalamin ak tau bgt maknanya..
maklumlah ak org awamyg g begitu ngerti tentang sastra..
sukses deh buat kamu..
moga2 nanti jd org besar dlm dunia sastra..
take care…
Halo mas Budi,… blalang baru mampir neh hehehe, pa kabar..???
sekarang tambah sering aja nongol di apsas ya…blalang baru punya yang sukma silam nya neh, hehehe, buat koleksi juga seh
masih nge drum-nya boss?
sukses trus ya boss..
salam
blalang_kupukupu
http://asharjunandar.wordpress.com
makasih mas budi buat bukunya…
mas kapan2 maen ke semarang lagi ya…
aku blum sempet baca semua puisinya mas budhi
sekali lagi terimakasih
terus berkarya
salam budaya!!
puisi na baagus baaangeeet. yang judul na karo aku
akhirnya sempat ke warnet juga…blognya asik,, kalo bisa dilipat..bolehlah di bw pulang..ha ha.Gimana sih,,,ktnya pemula taunya mesti jadi mentor.aku masih meraba raba dalam menulis..keliatan ya gamangnya??jd nulis yang panjang aku ngga berani, sering tjebak.emang puisi yang bagus mesti pnjang yaa ??ya ngga musti kalo saya… itu lebih ke subyektif aja.(ini menurut pendapat sy yg juga subyektif..ha ha..)aku nda suka dikebiri kalonulis..nulis ya nulis aja,, nda ada target targetan..mo jadinya panjang ato pendek..doesn”t matter..yang pentig full.aku lebih suka yang simpel dan dalam.Tapi aku bakal ngasih 4 jempol ke puisi yang panjang, metafor yang ngena, dan tetap asik sampe akhir.
nda kyk sinetron indonesia yang kelewat di ada adain..panjang, nda jelas,nda natural, dan bikin buruburu pndah chanel.Waduh..saya kok bicara smape kmana mana..ha ha..slamat bertapa deh mas,,cepet dpt pangsit..ups wangsit yaaa…
calam cayank ‘n knal
aye pnya commentar ma ente
ni komentnya:
ngke mah masukin karya2 pujangga lama ma karya2 pujangga baru
soalnya aq ghie kleksi karya2 ne.
dah cma sgtu kment aq
maap kalo d slh kt.
moga2 apa yg di tlis d ats bs dkabulin.
thanks ;]
Salut deh……..Sastrawan memang nggak ada matinya! Kutunggu terus kiriman puisinya yaa….walaupun lewat sms, aku makin cintaaa…….he 3x!
Kirimi kami buku-buku kumpulan puisi Bapak untuk bahan diskusi apresiasi sastra dan bahan pengajaran bahasa dan sastra indonesia di sekolah kami, yaitu SMPN 2 Kusan Hulu, Jl. Valgosons Desa Teluk Kepayang, Kecamatan Kusan Hulu, Kab. Tanah Bumbu 72272 Kalimantan Selatan
manteb, sukses terus mas…
wow… akhirnya saya menemukan mas Budhi ada di tempat tenang semacam ini, sebuah wadah indah dengan obrolan yang ringan antara bumbu sastra dan aroma seni,….. salam kenal MAs Budhi…… terima kasih ya atas mau dikirimkannya Koran Jurnas….
Saya salah satu penggemar sastra puisi, bagus sekali karya-karyanya. semoga terus bisa berkarya terus dan tetap berpuisi..
http://melihatkebaikan.blogspot.com
Juli 10, 2007 pada 6:06 am
salam budaya,
terima kasih telah mengunjungi blog saya.
ngomong2, kapan halaman ini diisi nih mas….
kok kosong….
oi oi oi
gimana kabar di Moskow….boleh cerita dikit dong….
tetap berkarya ya….
salam…………….