Kepakkan Sayap Jiwamu!


Musim hujan kian dekat akan berlalu, meninggalkan berbagai wajah cerita. Dan kemarau akan segera mengisi kisi-kisi hari. panas terik dan debu adalah muatan dalam perjalanannya. debu kering mengangkut gersang disebarkan ke penghuni semesta. debu-debu berjalan pelan, lalu berlari seperti badai, menelusup sudut-sudut sempit dedauan yang didera haus.

Ketika kemarau meradang, banyak yang mengeluh. Tak hanya manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Seperti ayam, yang kalau siang hari mencari tempat teduh di bawah perdu pohonan. Juga peohonan mengurangi beban kerjanya dengan menggugurkan daun-daunnya. Apakah manusia juga seperti itu? yang tersering terdengar adalah ah…kemarau ini sungguh panas!

Dan kemarau akan kembali berganti musim penghujan. Banyak awan mendung yang kian rindu menumpahkan deras air ke bumi. Hujan memberikan kesejukan, mengobati dahaga bumi. Para petani menyenandungkan lagu gembira, sawah-sawah kembali basah, tanaman akan menghijau kembali. Hanya kadang manusia masih banyak yang kurang bersyukur. Dan alam akan memberikan peringatan dalam wajah: tanah longsor, banjir, badai, dll

Hendaknyalah pergantian hari, pergantian bulan, pergantian musim; menjadikan bahan untuk berpikir dan merenungkan kehidupan. Dengan merenung, kembali ke dalam, menyelam ke jiwa; diharapkan akan terbit satu sikap arif bijaksana. Arif dalam bersahabat dengan alam, bijaksana dalam memesrai kehidupan. Salam.

“MEMAYU HAYUNING BAWANA”

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Spiritual 1. Tandai permalink.

10 Balasan ke Kepakkan Sayap Jiwamu!

  1. Irwanda Wisnu W berkata:

    mantaf…

    ayo dung pak, lebih banyak kata2nya. pasti jadi seru dan penuh filosofi.

    btw, aku lihat buku pak budi banyak di bandara juga. duh, doain aku segera menyusul terbit ya bukunya…

  2. Sugeng Suryawan berkata:

    Wah, foto taon piro kuwi Dab, masi alami bgt kyne

  3. nh wibowo berkata:

    salut mbanget buat kang budi

  4. Titik Embun berkata:

    Kepakkan Saya Jiwamu disebut Puisi atau Elegi ya?. Elegi maksud saya puisi yang bercerita panjang.Bagus saya suka kandungan Filsafatnya. Nanti saya analisa lebih lanjut ya, mas Budhi.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mb Titik Embun, banyak komentar di blog saya. sy msh belajar. sy sebut sbg esai pendek yang puitis. saya dulu sering nulis seperti itu. sebelum Denny JA mengatakan dia menulis puisi esai; saya jauh lebih dulu nulis “esai yang puitis” yang saya sebut sebagai “espuisai” atau esai puitis.🙂

  5. Tolong dibantu proses kepenyairanku yang terpinggirkan di desa terpencil ini bisa menjadi mitra mas Budhi..semoga.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih telah singgah blog saya ya RA Al Dzikro. Sukamanah itu di tasikmalaya ya?
      di desa terpencil memang akses terhadap buku agak sulit. tetapi dengan adanya internet; maka bisa belajar banyak dari puisi2 bagus karya penyair2 terkenal yang tersebar di website atau blog. dengan demikian tidak ketinggalan. yang penting niat.
      kalau ada kemauan pasti ada jalan. bukankah dalam surat al insyirah juga disebutkan bahwa sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. (atau bisa juga diartikan; di antara kesulitan ada kemudahan).

      jadi silakan terus menulis dan berkarya ya. jangan kecil hati atau surut. terus malangkah. terus berkarya.

      salam progresif!
      Buset.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s