3 Puisi

prambananbudhi4.jpg

 

MACET DI MANA – MANA

Kota Jakarta mengayuh remang senja

berjejal orang meniup kereta

jalanan macet di mana-mana

debu beterbangan

menempel di tiang bendera

dan di kaca jendela

kota ini tertatih

membawa beban di jurang dunia

merangkak di bawah jembatan

sedangkan lilin belum dinyalakan

lupa

di mana diletakkan

di mana lilin kemarin

lupa tak henti-henti

kota ini telah melahirkan

berjuta-juta Jakarta

dalam otak, benak manusia

senantiasa menyeret rumpun api

melewati jalan-jalan yang penuh

pecahan genting, lancip beling kaca mata

jarum suntik menusuk jantung bumi

memacetkan arus embun

nurani tak mampu keluar kamar

disekap kemabukan berasap

membubung, membakar atap rumah

lubang menganga menjalari ubun-ubun

sarang berbiak ular berbisa

kota telah letih

tapi, di mana tempat menaruh beban

sementara

pandangan terus kabur

tapi takabur

memeluk hari-hari menelan api

lah…

pengemis dekil terus menabuh bedug

atau genderang di lembaran-lembaran koran

kumandangkan tembang bumi langit

Jakarta, Desember 2000

 

 

HARI KEMENANGAN

Hari yang dinanti-nanti

telah ada di depan wajah

menyusupkan tali getar

ke sela-sela tulang iga

 

adakah kemenangan yang kami raih

kemenangan di pertandingan mana

sedangkan berjuta sangsi

berputar-putar di nafas kami

 

adakah puasa kami

disebut puasa

sedangkan indera kami

menangkap dunia berbekal nafsu

 

benarkah kemenangan telah kami genggam

 

sementara hari ini kami menyebut kebesaran-Mu

kami akan kembali ke dunia kesenangan dan keegoan kami

 

sementara atas nama-Mu

kami musnahkan dan bunuh

sesama

 

sementara sebut keadilan-Mu

kami berpuas-puas makan

di antara geliat tangis mereka yang kelaparan

 

sementara sebut keagungan kasih-Mu

kami sering membuang wajah-Mu

dari sikap dan langkah kami

 

 

Purworejo, 27 Desember 2000

 


JEJAK – JEJAK

 

Langkah-langkah sunyi yang lewat di langit

masih sangat nyata terngiang

ketika akan kutangkap

kenapa aku selalu tertinggal

 

tapak sujud di sajadah malam

masih sangat dekat terbayang

ketika akan kusentuh

kenapa aku selalu tertinggal

 

hening puasa di perjalanan bulan

masih sangat lekat terasa

ketika akan kusunting

kenapa aku selalu tertinggal

 

biru tafakur di gua pedalaman

masih sangat tenang terhias

ketika akan kudekap

kenapa aku selalu tertinggal

 

gelombang rindu di serambi janji

masih sangat jelas terpatri

ketika akan kucumbu

kenapa aku selalu tertinggal

 

magma cinta di dasar bumi

masih sangat nyala terjaga

ketika akan kumaknai

kenapa aku selalu tertinggal

 

semesta syukur di seluruh jagat

masih sangat luas terbentang

ketika akan kuselami

kenapa aku selalu tertinggal

 

 

Purworejo, 31 Desember 2000

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

5 Balasan ke 3 Puisi

  1. kiky cute berkata:

    semoga goresan2mu,
    bermakna…
    untukmu, untukku, dan untuk mereka…

  2. budhisetyawan berkata:

    Aku berharap kehadiran tulisan2ku mampu memberi arti, secara minimal buatku sendiri. Semoga mampu menjadi api dan prasasti!

  3. ficka berkata:

    puisinya sangat bagus dan membuat hati semua orang yang membacanya tersentuh

  4. Titik Embun berkata:

    Puisi Okt. 2007, Macet dimana-mana, Hari Kemenangan dan Jejak
    -2 masih sederhana, mudah dipahami tapi betul-betul mamakai kata pilihan. Sederhana tapi penuh makna. Sukses selalu, mas Budhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s