Inikah (sebagian) puisi bernuansa cinta (asmara)?

 Sungai Kodil di selatan kampung asalku, Purworejo

SELANJUTNYA

 

Selanjutnya kita akan bercakap

selanjutnya kita akan melihat

betapa kita bersikap

ungkapkan suatu hasrat

tersirat

lalu makin dekat

selanjutnya kita akan berucap

adakah jawab sudah terdekap

 

Yogyakarta, 4 Maret 1990

 

PERJALANAN

 

Di bawah mentari, aku berlari

dengan, segenggam resah

meniti jalan, penuh lubang dan jerami

begitu berliku

ejekan burung terbang

lihat gelisah di dada

pohon-pohon berbisik

“akan putus asakah bila tak kau temui yang kaucari”

aku terdiam

 

sementara aku tetap berlari

dengan dekap seulas harap

 

Banyuurip, 25 Maret 1990

 

KERING  I

 

Angin Agustus bertiup

kering

mencipta segenap deru

debu

patahkan ranting-ranting

kerontang

menghembus teras hati

sepi

luruhkan daun-daun

sunyi

 

Purworejo, 26 Agustus 1993

 


NAFSUMU, NAFSUKU, NAFSU KITA

 

Kupu-kupu salju

yang hinggap di batang ara

memahat kobar cahaya

di ruas-ruas waktu

gagu-gagu

memburu

 

belalang biru

menggeret batang-batang bisu

panggil jengkerik

yang mengerek kereta api

di ubun-ubun malam

merentang lidah api

hingga rerumputan dahaga

mabuk menari-nari

 

waktu yang melompat-lompat

dari ranting sunyi ke lorong badai

menelan semuanya

lalu tertegun kelu

(habis amuk rindu)

 

Jakarta, 22 Desember 1999

 

SAAT  INDAH

 

Saat indah, lihat kerling matamu

                 menusuk tajam rongga sukma

                 derai ilalang melambai lesu

 

Saat indah, tangkap ulas senyummu

                 memeluk jingga-jingga biru

                 merunduk mencari garis pelangi

 

Saat indah, gamit lenganmu

                 menulis puisi dalam rasa

                 lebur malam cerah

 

Saat indah, lepas aku

                 renangi kolam angin

                 dahaga merintih rindu

 

 

Jakarta, 6 Juni 2000


SAPI  LEPAS

 

Sapi betina-sapi betina

dengan paha terbuka

keluar tinggalkan kandangnya

kangkangi angkasa kota

berjalan beriringan

tanpa pedati

bersepatu hak tinggi

tak takut jatuh luka kaki

bahkan bergoyang

di atas gedung-gedung mencekik langit

 

sapi betina

lagi bunting besar

hasil kawin suntik

siap melahirkan bayi montok

yang sigap memainkan pedang

menikam jantung peradaban

          sapi betina bertanduk manja

          terus keliaran

tak peduli bertemu manusia

malah melenguh manja

bangga tampakkan belahan dadanya

 

 

Jakarta, 15 Oktober 2000

 

CINTAKU

 

Cintaku adalah debur ombak samudera yang

selalu hadir dengan kesetiaan yang meliputi

tak pernah henti penuh energi

menciumi bibir pantai yang merekah

namun tak ganas bagai majikan yang mencoba

memperkosa pembantunya di bawah malam

yang lalaikan kebijakan demi kepuasan bisa tertelan

 

cintaku adalah semilir sejuk angin pagi

datang dengan kabar gembira membelai pucuk daunan,

ranting dan pepohonan

membawakan kesuburan serbuk sari pada sang putik yang

rindu menunggu di ujung kerisauan

namun tak kencang seperti angin badai puting beliung

yang menerbangkan rumah, segala macam barang dan

harapan insan, dan terpuruk dalam jelaga kekufuran

 

cintaku adalah udara bersih bebas polusi

menyebarkan manfaat bagi yang menghirup

menyelimuti sang bumi yang sesak hingga merasa segar

memberikan kreasi nuansa kasih di setiap lembar hari

namun tak mengepul laksana udara sarat asap pembakaran

dari pabrik, kendaraan dan hutan kering

yang mengedarkan penyakit masuki gerbang jiwa dan raga

lenyapkan kesadaran, mabuk kepayang

lupakan manusia dari agama dan Tuhannya

 

cintaku adalah indah

seindah cinta yang lagi jatuh cinta

 

Pantura – Purworejo, 16 – 17 Pebruari 2001

 

TELAH SAMPAI MANAKAH PERJALANAN KERINDUAN

 

Gelas berisi minuman di atas meja

menjadi tempat berenang mata dengan pandangan tajam

lalu menyelam di kedalaman taman laut

mencari akar bahar dan mutiara

‘tuk dijadikan gelang penghias dan kalung

jejaka dan perawan yang lama bersemayam di gua persembunyian

menghindar dari kejaran prajurit kerajaan

 

makanan yang tersaji di atas meja

menampilkan layar televisi yang menyiarkan

acara penuh teka-teki

pertanyaan yang entah kapan mendapatkan jawaban

bocah kecil menanyakan tempat bermainnya

untuk membuat garis lurus ke masa depannya

 

buku-buku tebal berisi soal ujian

telah mengajak, menjebak dunia pikiran

ke arena pergulatan berbagai kepentingan

sekat dan pagar menjadi nampak jelas

membatasi pergaulan dengan dunia kebersamaan

porak-poranda bangunan nilai dan norma

yang sangat sulit untuk menegakkannya

 

akankah rindu damai

menjadi kerinduan kekasih sejati

yang akan menumpahkan cinta, setia memberi

tanpa mengharap balasan kembali

 

Purworejo, 17 Pebruari 2001

 

PINGSAN  CINTA

 

Sehelai rambutmu yang terbang terbawa angin

bagai elang mengepak rembulan

membawa lahar Merapi merayapi sungai-sungai dalam dadaku

mengalir menggelora, memacu kijang kencana

menyerbu ke arena lain dunia

 

malam-malam menunjukkan kekuatannya

dengan magnet yang sangat lekat

membentuk jalanan satu arah di alam pikiran dan perasaan

serasa pusaran air yang tak henti

kian deras mencipta kerucut meruncing

mencocok hidung kerbau, meruntuhkan dinding

keangkuhan semu kepura-puraan

 

tanpa suara dan tanpa permisi

engkau telah mengalirkan lahar selalu

menggolakkan magma di dasar bumi,

ke pipa-pipa biru dalam tubuhku

manjakan bintang-bintang menyorotkan

sinar ke dedaunan basah

mewadahi tenaga api, angin, air, tanah

 

jagadku yang kecil

kebingungan membaca skenario zaman

saat semua tenaga menerpa, unjuk gigi

dengan wajah berwarna-warni

lengkap dengan alat sesaji

          ini terlalu menyenangkan

          ini terlalu menggembirakan

          ini terlalu berat

sedangkan seorang Musa pingsan di hadapan Bukit Tursina

 

aku tak ingat apa-apa

dengan aliran lahar selalu

aku telah menggali sumur

terus masuk ke pedalaman sumur

dengan sarat mata air

ingin . . .  ingin . . .

 

 

Jakarta, 23,24,25 Pebruari 2001

 

OOH  CINTAKU

 

Angin berjalan pelan karena jalanan licin

meski perasaan diburu perasaan

pusaran amuk rindu yang telanjang

bergolak-golak bagai batu es

dingin beku sarat dengan deru

memerah semburat biru pipi langit

 

angin rindu menyeretku ke dunia bawah laut

mencoba menebak di mana engkau sembunyi, cintaku

di balik karang, di bawah pasir, di dalam ikan

atau engkau telah menjadi ikan atau bahkan air

mengapa aku masih kebingungan mencari engkau

aku hanya berputar-putar tak kemana

hantaman rindu telah membutakan dunia

hingga yang ada hanya ingin engkau ingin

tanpa terasa ganggang biru telah baluti tubuhku

 

ikan rindu

kerang rindu

air rindu

bumi langit rindu

memecah jantung rimba raya

kenapa rindu memaksa

kebangkitan resah gelisah gundah gulana

sedangkan, meskipun aku telah bertemu dengan engkau

bahkan menyatu denganmu

aku tetap selalu rindu

 

Jakarta, 26 Maret 2001

 

KEKASIHKU 1

 

Malam berenang ke tepian keheningan

meninggalkan suara belalang dan orong-orong

lalu terdiam tanpa suara

yang terdengar hanya derit nafas tanya serta

letupan-letupan sukma kelana

 

sukma mencoba menahan nafas sebentar

takut terdengar oleh pepohonan dan rumputan

namun justru batuk tersedak yang keluar

serta ungkapan cerita luka kasih semesta

 

betapa berat mengandung rindu

yang semakin membesar dari bulan ke bulan

karena rindu menghisap tenaga dan makan otot-otot

kian lemas tubuh sukma perindu

 

malam ini, kekasihku

aku tak ingin segera tidur, seperti biasanya

masih kuingat-ingat wajahmu

kucoba gambarkan dirimu di dinding kamar

tapi bukan untuk menakut-nakuti cicak

 

malam ini, kekasihku

kuacak-acak kertas-kertas koran

‘tuk temukan wajahmu

biar aku tak tersendiri termangu

 

malam ini, kekasihku

akhirnya kutemukan wajahmu yang mengalir tenang

namun aku lupa pada wajahku

di manakah wajahku

 

Jakarta, 8 April 2001

 

 


KEKASIHKU 2

 

Kumencoba menuliskan kata-kata

yang pernah keluar kauucapkan tempo hari

seperti menganyam rotan yang berlipat-lipat

dan di tempat tertentu terdapat simpul janji

 

rasa sesak yang terus saja merayapi

serta kucing yang menggosok-gosokkan kukunya

di batang kayu kering

mencari kemana larinya awan yang kemarin terbang rendah

 

di titik-titik pertemuan yang direncanakan

merubah warna belantara yang kehijauan semburat jingga

serta satwa penghuninya yang saling bercerita

tentang pertemuannya dengan manusia dunia

 

ketika penaku tak lagi kupegang

pena menuliskan sendiri isi tintanya

tak bisa lagi kukendalikan jalannya

bagai kuda liar keluar dari hutannya

 

merobek pagi dengan ringkikan nan khas

lari-lari mengitari tanah lapang

sambil mengibaskan ekornya

yang keberatan oleh dendam kerinduan

 

duhai kekasihku

apakah aku mesti jadi kucing lincah berkuku tajam

atau jadi kuda liar kegalauan

hanya untuk sekedar mencium wangi nafasmu

 

ketika tersadar, aku hanyalah

lelehan tinta yang merembes di kertas

yang terus mencari dan mencari

 

Jakarta, 8 April 2001

 


NAFAS  EKOR  KUDA

 

Bunga yang tumbuh di balik nadi

menarik nafasku mengarungi belantara

menggelitiki hidungku geli

dan bersin menyebarkan salam

 

nafasku yang turun naik memegangi ekor kuda

bertanya-tanya apa maksud sebenarnya

pertikaian membelenggu langkah ubur-ubur

mencari sosok akar kata di pinggir perkampungan

 

pagiku beranjak sendiri, dengan tanpa basa-basi

berlalu meninggalkan kepulan asap rokok

menggelitik hidung alam raya

nafas terbelenggu di bawah tempurung

 

ekor kuda yang menepuk-nepuk mukaku

menjadi tangan kekasih yang lincah

mengelus seluruh sudut kelemahanku

dan terengah-engah memburu bulan bulat di langit

 

lalu dimanakah kini kekasihku?

 

Jakarta, 8 Mei 2001

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

7 Balasan ke Inikah (sebagian) puisi bernuansa cinta (asmara)?

  1. Eva S berkata:

    Lagi dunk Puisinya yang lebih romantis……Thx

  2. Misterius cinta berkata:

    Kalau bisa di kasih read more>> yah biar ngak terlalu panjang ke bawah, saran nih. jangan marah ya……..
    ^_^

  3. ragil berkata:

    yang baru mana bosssss

  4. verry berkata:

    tolong puisi nya yang bagus

  5. Sapta berkata:

    keren….. ei!!

    hahahah^^

  6. siti-al berkata:

    merinding alias geli ah…..baca na
    ada yang lebih mantap age g??????
    hehehehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s