Puisi-puisi Soekoso DM

 

SEORANG PENYAIR BACA SAJAK

 

di bawah lampu temaram

di batas ungu zaman

ia teriakkan tangis berbalut nyanyian

:cintaku padamu langit perak!

tapi sekitarku kabut berarak

di atas pentas yang miskin

di sela massa yang tuli

ia kuakkan luka berselimut mimpi

:betapa aib wjahmu wajahku saudara!

meradang di balik topeng kayu cendana

diseretnya peribahasa bunga

buat tawarkan kebusukan-kebusukan

dihelanya ungkapan duri

agar terkikis lumpur debu kehidupan

agar hujan membasuh bumi

di atas belahan kaca retak

penyair guratkan berribu sajak

tapi kau-aku tak juga bijak

1985

 

SUNGAI APAKAH*)

Sungai apakah telah membelah kota

gemerecaknya bagai tawa

 

sejumlah orang berenangan disana

berbedak, bertopeng, bergincu & berpura

lantas mandi cahya semu

sungai apakah telah menggasak malam

mengalirkan lumpur hitam

sejumlah orang terjun dan menyelam

bermabok, bermimpi, bertidur & berlupa

lantas nyanyi lagu palsu

:itu sungai tuba, itu sungai tuak

terdengar dusundusun berteriak

menuduh, menuding, memaki & mendakwa

sementara tanpa dimengertinya

pendudukpenduduk mulai membasuhkan kakinya

(bisakah kauaku membendung

dalam zaman yang gemblung?)

1982

*) Sajak ini terpilih sebagai puisi terbaik pada lomba Cipta Puisi se-Indonesia versi Sema FKSS Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta dalam rangka peringatan Bulan Bahasa & Hari Pahlawan 1982

(sumber: WASWAS WASWAS WAS!, Sajak-sajak SOEKOSO DM, 1980 – 1995, KOPISISA)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Penyair Lain 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s