Beberapa Puisi dari kumpulan KEPAK SAYAP JIWA

KEMBANG MALAM MENCARI PAGI

Nafas-nafas lusuh

langit kamar

meleleh lumar

berenang ke pematang cakrawala

apa bisa !

 

jemari kumal

rumput di comberan

melukis ranting-ranting kenangan

memunguti retakan bintang

ke dalam keranjang

apa bisa !

 

lolong hati merobek sunyi

Jakarta, 20 Desember 1999


N A F S U

Serigala-serigala jingga

dengan gincu dan pemulas pipi

yang berseri dalam pusaran musim

dan melolong tanpa suara

bukankah diri kita ?

kemana mesti memangsa !

Jakarta, 20 Desember 1999

 

 

KADANG – KADANG TUHAN PINGSAN

Kala aku rangkaki masa

mangsa satwa

candra sengkala

pacu raga mengembara ke padang angkara

sapu iba bela murka

puasi kuda-kuda singa

gelegak aliran renjana sarat lava

reguk tahta mabuk harta

dan penghambaan nirwana maya

pesta dansa membubung sonya

kulihat Tuhan berdiri sendirian

di kejauhan

tertegun diam tanpa sapa

kutawari suguhan anggur hangat

diam . . .

makin kudekati

kuajak jabat tangan

tiba-tiba Dia pingsan

ketika akan kusentuh

lenyap hilang dari pandang

kuceburkan diri ke lautan

dalam sesak nafas perburuan

kuingin Tuhan segera siuman

obati kerinduan yang dalam

Jakarta, 15 Agustus 2000

 

 

PAKAIAN KOTOR

Berserakan pakaian kotor di kamar

membius udara membubung asap

menerobos pepohonan berburu keinginan

menyambar sarang laba-laba

berkelebat cepat lalu sembunyi

di bawah dipan pengap

mengaduk-aduk waktu

dalam permainan seru

Pakaian dinas kotor di kamar negara

menembus cakrawala menyaput pegunungan

melahap makanan di segala tempat dan jalanan

membakar nasib-nasib semut

racuni burung-burung terbang

menghalangi laju alur deras cita

kemakmuran

keadilan dan

hidup tenteram

Jakarta, 11 Nopember 2000

 

 

 

 

JEJAK – JEJAK

Langkah-langkah sunyi yang lewat di langit

masih sangat nyata terngiang

ketika akan kutangkap

kenapa aku selalu tertinggal

tapak sujud di sajadah malam

masih sangat dekat terbayang

ketika akan kusentuh

kenapa aku selalu tertinggal

hening puasa di perjalanan bulan

masih sangat lekat terasa

ketika akan kusunting

kenapa aku selalu tertinggal

biru tafakur di gua pedalaman

masih sangat tenang terhias

ketika akan kudekap

kenapa aku selalu tertinggal

gelombang rindu di serambi janji

masih sangat jelas terpatri

ketika akan kucumbu

kenapa aku selalu tertinggal

magma cinta di dasar bumi

masih sangat nyala terjaga

ketika akan kumaknai

kenapa aku selalu tertinggal

semesta syukur di seluruh jagat

masih sangat luas terbentang

ketika akan kuselami

kenapa aku selalu tertinggal

Purworejo, 31 Desember 2000

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s