Mari Mengarang!

Semua orang dapat mengarang. Buta huruf atau tidak, tak ada masalah. Bahkan John Milton, dalam keadaan buta bisa menjadi penyair kelas dunia. Orang lumpuh, bisu, tua, muda, laki-laki, perempuan, banci, petani, pedagang. Semuanya. Yang penting dapat mengekspresikan diri. Orang gila juga boleh mengarang. Kabarnya baik sebagai bentuk terapi.

Pengarang adalah bos sekaligus kuli. Ia memerintahkan dan menjalankan tugas-tugas sendiri. Tidak heran kalau mereka sering dinamakan “yang punya wewenang”. Dalam Bahasa Inggris author, artinya: pengemban otoritas. Dengan kata lain ia harus berani mengangkat, menggaji, dan memecat diri sendiri.

Jangan tanya apakah anda berbakat atau tidak. Semua orang punya kecenderungan mengarang. Entah dalam obrolan sehari-hari, dalam menunaikan tugas, maupun dalam menghadapi polisi. Tukang kerupuk yang merantau dari pedesaan ke kota, bisa menceritakan riwayat hidupnya seribu satu malam. “Ah kalau saya punya bakat, tentu hidup saya sudah jadi roman,” katanya.

Ibu-ibu di pasar juga demikian. Banyak suka-dukanya. Punya cita-cita, suami yang lucu atau anak yang suka pilek. Semua bisa jadi kisah menarik. Novelis Iwan Simatupang pernah menyayangkan bahwa kary-karya filsafat terbaik bangsa Indonesia menguap begitu saja dalam obrolan di warung-warung.

Padahal mengarang itu mendatangkan rejeki. Mungkin uang, mungkin ketenaran, pacar gelap, musuh baru, dan tukang peras. Kalau Anda beruntung mungkin dalam tempo singkat jadi jutawan. Misalnya buku yang Anda tulis tiba-tiba laris, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, difilemkan, dan dijadikan pegangan oleh semua milyuner di dunia.

Nah selamat mengarang. Jangan takut mata jadi rusak karena terlalu lama menatap huruf-huruf. Jangan pula takut jadi terkenal, banyak uang dan dikritik di koran-koran. Kalau ada yang menjengkelkan, tulis saja buku baru dengan judul “Hanya sapi yang tidak suka karya saya”. Tapi kalau anda sendiri tidak suka, jangan lupa menulis sambungannya “Saya sapi, jadi tak suka membaca”. Ditanggung dalam waktu singkat orang akan menulis jawabannya, “Saya juga sapi, tapi gila membaca”.

 

(diambil dari Pendahuluan, hal. iii – vi, buku MENGGEBRAK DUNIA MENGARANG, karya Eka Budianta, Penerbit Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, tahun 1992; tanpa seijin penulis dan penerbit, karena jelas untuk niat baik agar semua yang membaca ini menjadi pengarang!)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Spiritual 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s