“HANYA”

‘kalau hanya menumpuk-numpuk potongan kayu seperti itu, mudah… saya juga bisa…’

‘kalau hanya membuat novel seperti ini, apalagi cerpen ini, aah…. apalagi puisi-puisi pendek ini, sangatlah mudah. anak-anak SD juga bisa’

‘kalau hanya mencoret-coretkan cat pada kanvas, tak perlu belajar itu. anak kecil juga bisa’

ahai…. sebuah kata pendek, terdiri dari 5 huruf: HANYA. Begitu banyak orang sering berkata dengan memakai kata ‘hanya’ seperti kalimat-kalimat di atas. Lantas apa makna kata ‘hanya’ tersebut? Dia mewakili apa? Dalam posisi apa seseorang berkata dengan kata ‘hanya’ seperti dalam kalimat di atas?

Pada masa kecil, waktu di lomba melukis dan tari-tarian di kampung, ada seseorang yang dari ide awal acara sampai dengan acara tersebut selesai,  banyak bicara: ‘kalau ‘hanya’ lomba seperti itu, tak ada gunanya….dst’. Kemudian berlanjut ketika seorang anak yang cerdas dan sering juara kelas, dia pun berkomentar: ‘ah tak juara kelas juga tak ada masalah, sekarang jamannya kan uang yang berbicara’.

Dalam perjalanan  selanjutnya memang ada tipe-tipe orang yang suka sekali berkomentar, dengan nada mencibir, seperti kritikus. Singkatnya, dia atau mereka akan bilang: ‘karya patung hanya permainan bentuk saja; lukisan hanya permainan warna dan gores saja; puisi hanya permainan kata-kata saja’. Sesungguhnya akan berguna jika orang yang berkomentar seperti itu, juga berbuat, menghasilkan karya. Akan tetapi betapa banyak yang berkomentar layaknya penonton sepakbola: Maradona dibilang bodoh, Platini dibilang kacau, Klinsmann dibilang tolol, Kaka dibilang manja, dst….. tetapi pengomentar itu sendiri tak bisa bermain bola; bahkan tak tahu berapa ukuran lapangan sepakbola, lebar gawang, dll.

Sungguh layak kita kasihan kepada orang yang hanya bisa berkomentar, namun dalam hal karya NOL besar. Itu adalah kelemahan yang ditutup-tutupi dengan merasa gengsi dan sombong, padahal dalam dirinya, pikirannya, perasaannya, jiwanya: KOSONG.

Oleh karena itu kepada semua teman2 yang sedang mulai belajar/berkarya, tetaplah komitmen dan setia pada kesungguhan berkarya; proses belajar yang berkelanjutan (continuous learning). Kita menjadi kaya dengan pemahaman yang benar tentang ‘konsep diri‘ dan kita aktualisasikan ke dalam karya, apa pun bentuknya. Janganlah berhenti oleh komentar yang kosong dan tak bermakna. Mari kita menjawabnya dengan GELOMBANG KARYA. Buktikan bahwa kita tegar dan bisa, juga ‘berbisa’.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Spiritual 2. Tandai permalink.

2 Balasan ke “HANYA”

  1. vitri putri berkata:

    Hallo, mas Budhi..ketika saya baca tulisan mas tentang sebutir kata “hanya”, saya benar-benar jadi sadar kalau kata itu bisa memacu seseorang untuk mengasah potensi diri atau malah menumpulkan segala hal yang ada pada diri seseorang..kapan, ya, saya bisa bertukar pikiran dengan mas Budhi bicara tentang sebuah kata “hanya”. Tapi bener, kok, saya pernah dicela karena ikut lomba puisi karena menurut “si pencela” baca puisi itu “tidak intelek”, dicela karena syair saya dimuat di buletin kantor, karena syair saya dianggap “ngelantur, bohong dan mimpi”..ora pa pa, maju terus pantang mundur untuk kebaikan, ya, mas. Blog nya apik, mas…tulis lagi yang banyak, mas, saya sudah khatam satu kali, tapi masih buka lagi, buka lagi..bertamu lagi..

  2. Izah berkata:

    met pg!mas budi,pertama kubaca butiran kata tentang hanya.s’t i2 aq sadar klo t’nyata aq hanya bisa b’kata tp,t’ pernah bisa melakukan makasih dah mo bwtq sadar.dan kuakui klo kta hanya i2 dahsyat tuk jadi sbuah motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s