KONCOISME DALAM SASTRA, ADAKAH?

Mungkin judul di atas akan sangat menohok bagi yang merasa seperti itu. Sebenarnya saya lebih mempertanyakan pada pemuatan sebuah karya sastra, terutama cerpen dan puisi, di media massa. Lebih utama pada sejumlah koran edisi akhir pekan/ minggu yang menyediakan kolom sastra.

 

Mungkin beberapa pembaca ada yang lebih jeli mengamati? Sejauh pengamatan saya yang awam dengan dunia jurnalisme dan persuratkabaran, sangat sering muncul karya-karya sastra dari pengarang yang telah begitu dikenal. Ada juga beberapa nama baru, dengan karya yang cukup bagus. Namun ada juga nama baru, yang dengan karya yang menurut penilaian saya ‘biasa-biasa saja’ tetapi dimuat di media nasional. Nah yang terakhir ini apa pertimbangannya?

 

Untuk karya dari pengarang terkenal, itu sudah pasti dari pihak koran tersebut ingin menaikkan nilai medianya pada edisi tersebut. Apabila ada pembagian yang relatif adil mungkin bisa diterima, misalnya pada satu edisi minggu dimuat karya dari pengarang terkenal, dan di 3 atau empat minggu yang lain dimuat karya pengarang baru/pemula, tetap dengan seleksi secara fair. Sudahkah ada pola semacam itu? Karena jika pola semacam tersebut berjalan baik, maka para pengarang baru yang karyanya bagus tetapi mempunyai keterbatasan ekonomi, bisa mengenalkan karyanya melalui media tersebut. Lain halnya apabila seorang pengarang baru dan belum dikenal (meskipun dalam profesi lain telah sangat terkenal, misalnya sebagai pengusaha, artis, akademisi, dll), tetapi mempunyai kekuatan secara financial, maka dia bisa menerbitkan dalam jumlah besar, kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi di kampus-kampus atau tempat-tempat tertentu. Lebih dahsyat lagi apabila ada orang dari kalangan penggiat sastra (baca: sastrawan senior) yang memberi komentar secara bombastis, pasti di pasaran akan ikut terbantu.

 

Kembali ke permasalahan pokok, adakah koncoisme, atau apa pun istilahnya agar karya yang ‘biasa-biasa saja’ bisa nampang masuk di koran? Kalau memang ada, sepertinya ini sedikit menciderai sportivitas. Saya beberapa kali membaca karya, terutama puisi yang ‘biasa-biasa saja’ dan terpampang di halaman sastra surat kabar nasional. Bagaimana pun juga redaktur adalah manusia biasa, yang juga bisa subyektif, itu pasti. Subyektivitas sanagt mempengaruhi pada penilaian sebuah karya dikatakan baik atau tidak, lebih pastinya ‘layak muat’ atau tidak. Akan tetapi kalau berkaitan dengan pertemanan, lantas tanpa ada penilaian langsung dimuat? Sebenarnya juga koncoisme atau pertemanan itu sah-sah saja, sejauh mana karya dari teman tersebut memang layak muat. Nah kalau sebenarnya tidak layak muat, tapi muncul di halaman sastra?

 

Sangat disayangkan apabila kebusukan tidak hanya ada di politik, ekonomi, hukum, tetapi juga telah merambah ke dunia sastra. Atau koncoisme hanyalah hal kecil saja? Adakah sesuatu yang lebih dahsyat di dunia sastra Indonesia? Kita lihat saja bersama-sama….

 

Bekasi, 24 Desember 2007

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Intermezzo. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s