Puisi-puisi Penyair Purworejo

Berikut ini adalah beberapa puisi karya penyair Purworejo, yang ada dalam buku KIDUNG BULAN TERTIKAM; ANTOLOGI PUISI PENYAIR PURWOREJO, Kopisisa, tahun 2000.

 

Atas Danusubroto:

 

DALAM MIMPI

 

danau dengan mata air darah

tambah gairah ikan memburu kaumnya

kita terjatuh di sini:

                        pejam-pejamkan matamu

serta biarkan kaki-kakimu

lepas kemudian melangkah bebas

mirip kelugasan puisi

 

ternyata danau tanpa dasar

tanpa langit, tanpa matahari

tanpa garis cakrawala

tanpa kau – ternyata aku kian sendiri

di bumi kelabu

pegang-pegang tanganku

jangan biarkan menggerayang bayang-bayang

 

danau – di sinikah kesendirianku

semakin bisu

 

1995

(dicuplik dari sajak-sajak persiapan tahun 1995)

 

 

Agung Hary Wibowo:

 

PINTU GERBANG YANG INGIN KUBUKA

 

Pintu gerbang yang telah terturup

dan telah terkunci rapat

            untukmu

            untuku

            untuk semuanya

kita harus menunggu sampai ada yang harus membuka

ataukah kita yang harus mendobraknya

            supaya manusia-manusia ini

            tahu semua tentang kemunafikan yang tertutup kabut

            tentang kemunafikan yang berselimut redup

            dan tersingkir oleh tabir sang petir

tapi apakah semua tahu

bahwa semua itu kulakukan hanya untukmu

            tapi mungkin hanya yang memikir

            yang dapat memberi keputusan akhir

dirimu atau diriku

yang pantas jadi abu

 

 

Ustadji Panca Wibiarsa:

 

KIDUNG

 

gandrungku pada kidung pucuk malam

bersukma kesejukan embun

berhati keteguhan hening

 

kidung menyelimuti jiwa

dari demam berigau yang berkepanjangan

karena pergantian musim di tanah kecintaan

ternyata masih digerogoti kuman-kuman

kidung yang jadi perisai raga

dari serbuan nyamuk-nyamuk nakal

yang masih haus darah juga

kendati kurban sudah berjuta-juta

kidung memberi kesetiaan

memelihara arti malam-malam panjang

sebuah keluarga menganyam ketenangan di ranjang

bekal bagi kesungguhan langkah bersih esok pagi

 

o, betapa melangit gandrungku

nyaris kutuntut ke hadapan ruh

yang tak jemu-jemu memangku hidup

mungkin sengaja kidung disembunyikannya

agar digelar pencarian demi pencarian

 

            Kutoarjo – Purworejo, 1998

 

 

R.I. Ciptadi:

 

KUHARAP MURKAMU

 

(Menerawang beribu mil jauhnya

negeri ini memerah menghitam

lampung pidie dili dan irian)

banyuwangi ketapang semanggi trisakti

negeri ini Indonesia

Hu! Jalanan ini berduri

menganga luka

menganga luka

 

Tuhan! Kuharap murkaMu

 

Tercecer wanita ternoda tercecer cabikan kepala

kanak-kanak habis sabarku, Tuhan!

Kuharap murkaMu

 

Atau murkaMukah, ini?

 

 

Ratna Widyastuti:

TEMA

 

kugenggami setiap dosa

kuitansi kealpaan picikku

kukemasi cermin nista

gambaran pijak hitamku tadi pagi

 

hanya bias dan kurva tak berbentuk

mencuat dalam selokan perih

langkah-langkah tak bertemaku

 

melebur aku dalam tuju tak tentu

dalam undang-undang tak berpasal

dan dalam kalimat tanpa jeda

pada dunia tak berjendela

 

 

Khodijah:

 

SENJA

 

gelap menapak cakrawala

gema adzan merayap

di bukit, dinding dan atap-atap

awan hitam diam

menunduk khusuk

pada penghabisan batas pandangan

 

bulan mengucap salam untuk alam

bintang bermunculan menjelma banyak mata

melalui muntahan sinarnya, menghunjam manik mataku

menembus dada

 

rinduku kian membatu

 

            Cimindi, 22 Juli 1996

 

 

Kristina Kusuma Indrawati:

 

KEHENINGAN SUJUD

 

Di sajadah yang kuhamparkan diam-diam

ada mimpi dan ilusi berjalan-jalan, memabukkan

melantunkan doa-doa

mengabarkan semerbak sungai nirwana

dan nasyid-nasyid kepasrahan

 

            terasing pada lembar-lembar menggetarkan

            aku membaca dan memahami

            karangan-karangan Tuhan

            pada padang-padang dan sukma membatu

 

semua sindhung berlalu melewatkan

ujung-ujung senja tak berjarak

 

            kudekap jiwa dan

            tangis seperti sajak bulan di gelas

            menjadikan malam tanpa lenguh

            Tuhan, hari ini

            kian tandus dan diam?

 

            Januari 2000

 

 

Dandung Danadi:

 

NYANYIAN URBAN

 

di sini tonggak-tonggak berubah jadi besi

di sini siang tak memberi malam hanya mimpi

langkahku tak kuasa menyibak semak kota

mulut pun berbau lebih busuk dari tinja

 

di sini raut wajah desa semua melintas

selebihnya yang ada hanya perasaan cemas

menggigil meringkuk dalam rumah dari kertas

bermimpi senggama sambil berbantalan emas

 

            banyak wajah bertopeng tembaga

            bergentayangan menggilas tanpa iba

            cara-cara nista menebar benih-benih luka

            menghisap tanpa sisa

 

di sini nyawa orang tak ubahnya sebutir debu

bisa melayang hanya karena singkong dan mencuri sepatu

tubuh pun ditikam dicincang bagai binatang

terkulai diseret dibuang tanpa pakaian

 

 

Thomas Haryanto Soekiran:

 

SAJAK ISTRI

 

katanya,

hidup ini hanya semalam

sekali tersenyum terlewati sudah

 

katanya,

buat apa bahasa

untuk apa kata

jika terlalu penuh bicara

 

katanya,

nikmati nasi dan sambal

air putih jika ada

 

katanya,

hidup yang semalam

tanpa bahasa

sepi kata

nikmat rasanya

 

            Purworejo, 1998

 

 

Tri Murni:

 

PENCARIAN

 

berkali-kali

kubenahi rambut kusut

agar tak mengganggu pencarian

di rimba banyak jejak

penjebak

 

keterbatasanku

membuatku tertipu

semakin jauh dari yang kutuju

 

hari gelap sudah

aku semakin gelisah

belum kutemukan juga

apa yang kucari

 

            Purworejo, 1999

 

 

Soekoso DM:

 

SYAIR BENDERA PARTAI

 

sudah dikibarkan bendera partai

di tiang-tiang demokrasi

penuh warna-warna harapan

 

bersama pemimpin mereka

berlaksa-laksa sosok kepalkan tangan

dengan mata menyala

meneriakkan suara nurani gejolak jiwa

yang lama terpendam

 

tapi siapa di kegelapan

lempar batu sembunyi tangan

melumuri bendera dengan darah

melepaskan panah fitnah

menikambinasakan saudara sendiri

dengan pisau hujatan berduri-duri

membiarkan kebebasan melindas hak azasi?

 

sudah dipancangkan bendera partai

menawarkan seribu janji

bisakah mengeringkan luka-luka pertiwi?

 

            1999

 

 

Sumanang Tirtasujana:

 

NEGERI YANG HOROR

 

negeri ini seperti dibalut kesunyian atas luka

tapi lampu-lampu berhamburan cahaya

lihatlah, orang-orang berkepala buaya, badak

ular dan biawak, berdesakan dalam bus dan kereta

mengenakan baju seragam, bernyanyi satu nada

 

seperti manusia-manusia negeri ini

tinggal kelongsong belaka

dan kau tak harus tertawa

kau pun tak bakal mampu menyihirnya

 

lihatlah, ia mengenakan sepatu, dasi dan lencana

tapi otak dan kepalanya tak lagi manusia

seperti monster, di tangan terhunus pedang menyala

 

diam-diam kita pun turut bernyanyi

dan mereguk dunia yang hancur!

 

            Purworejo, 2000

           

 

Junaedi Setiyono:

 

SEJARUM KECEMASAN

 

Hanya kehilangan jarum. Jarum pinjaman. Bukan masalah sebenarnya. Tapi mengapa aku cemas? Kalau pinjam dan tak mengembalikan mereka pasti maklum: itu tabiatku selalu. Jika aku bilang pinjam itu artinya minta. Jika aku bilang minta (awas!) itu artinya harus diberi berlipat. Tapi bedebah benar jarum brengsek itu. Masa’ aku sampai lupa menaruhnya. Di tempat tidur? Di meja makan? (ya memang di dua tempat itu aku selalu). Aduhiyung, aku mimpi seram sekali; jarum itu menerobos masuk pantat melaju merobek jantung mencoblos otak bablas memecah batok kepala. Broll! Keparat, aku disate jarum. Kurangajar, mereka menggigitku, mengunyahku, menelanku… lalu, broll! aku jadi kotoran. Bunda, inikah proses yang mesti aku jalani untuk jadi sampah?

 

            1999

 

 

Maskun Artha:

 

MESTINYA NEGERI INI MENGAPUNG

 

mestinya negeri ini mengapung dalam samodra takbir

mestinya pulau mengambang dalam laut tahmid

mestinya kapal angkat sauh dalam telaga salawat

mestinya nakhoda nyemplung dalam kolam dzikir yang teduh

 

sesegar teratai mekar di blumbangan dunia

berbunga-bunga putih maupun jingga

menghadang matahari khatulistiwa

 

tetapi bunda mana bisa bebas dari cemas

melepas biji matanya

mencari wawasan di jagat luas

 

ketika langit bermendung penghujatan dan caci maki

tatkala desa kota terkepung ranjau tersembunyi

manakala taman berkubang darah karena kiblat beda

bilamana penegak hukum celingus dilibas amuk massa

 

kalaupun ada tontonan

sekedar tarian Lempar Batu Sembunyi Tangan

 

kurindukan sayup tong-tong di gardu ronda

saat warga terlena dalam mimpi gulita

entah pertanda jaga, entah aba-aba waspada

 

karena negeri ini mengapung

dalam samodra kas bon, kapal dijarah

di telaga lamun, sekoci-sekoci buncah

 

(awak syahbandar pada main serobot

dan nakhoda semangkin repot)

 

            Mei 2000

 

 

Masdi Artha:

 

BULAN TERTIKAM

 

bulan merah di tengah celah

lelehkan darah tertikam panah

misteri jagat tak tercatat

pada prasasti dalam sejarah

 

bidadari mendesah

malaikat menggeliat

 

rimba belantara bergejolak

jagat raya mencairkan gletser ke setiap ketiak alam

menenggelamkan segala rasa, sungguh dalam

 

bencana apakah ini maka lingga muncratkan gairah

gelora apakah ini maka telaga semburkan kekuatan megah

gempa apakah ini maka badai pusingkan kutub-kutub bumi

 

di atas hamparan salju merekah kembang ayu

dan seekor kumbang menukik mengucup madu

meneteskan kencing biru

 

bidadari mendesis

malaikat mengayunkan pedang wasiat

menyala berkilat

sesaat teramat cepat tanpa isyarat

 

bulan merah tertikam

bukit yoni pun pecah terbelah

: duhai dahsyatnya!

 

            2000

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Penyair Lain 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi-puisi Penyair Purworejo

  1. hasanalidrus17 berkata:

    mAAF MAS INI SAJAK YANG DAPAT AKU PERSEMBAHKAN PADA SELURUH REKAN-REKAN YANG BERPAKAIAN NILAI SYAIR DALAM PERJUANGAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s