KONSEP DIRI

Alun-alun Purworejo

Setiap hari saya dan mungkin juga anda yang naik angkutan umum ke tempat beraktivitas, entah itu sekolah, kuliah atau bekerja, bertemu dengan orang yang tidak kita kenal. Dapat dipastikan, begitu melihat orang tersebut kita akan memberikan penilaian. Penilaian di sini bisa berlangsung lama maupun sesaat, kemudian lupa atau mengalihkan pandangan ke obyek lain. Namun satu hal yang pasti kita akan memberikan penilaian tentang sesuatu yang berhubungan dengan fisik, misalnya wajahnya bulat, hidungnya mancung atau pesek, kulitnya hitam, sawo matang atau putih seperti kulit bintang iklan yang menguasai dalam tayangan televisi, rambutnya lurus, berombak, hitam legam atau banyak beruban (seperti saya…he3), dan seterusnya. Apabila kita fokuskan mengenai penilaian ini, maka penilaian itu akan berkembang.

Perkembangan penilaian dimulai dari kita berkenalan dengan memulai percakapan (kalau tidak terjadi interaksi, penilaian cenderung berhenti pada sisi fisik saja). Dalam percakapan awal biasanya dimulai dengan hal-hal yang ringan dan bersifat umum. Bisa mengenai cuaca yang selalu dipenuhi hujan sepanjang hari saat musim penghujan, atau pun terik yang membakar ketika musim kemarau, berita kenaikan harga-harga, berita perang, bencana, (bisa jadi gosip artis…he3) dan lain-lain. Dalam percakapan ini pun ada penilaian dari masing-masing pihak. Kita akan menilai lawan (atau lebih tepat ‘kawan’?) bicara, mulai dari struktur fisik yaitu intonasi pengucapan sampai isi dari percakapan, terlebih saat membicarakan hal yang serius. Percakapan kemudian cenderung kian beranjak ke strata yang lebih tinggi dan mengerucut pada hal tertentu. Dibilang ke strata yang lebih tinggi karena mulai dibicarakan hal-hal yang lebih khusus dan ada unsur pengapresiasian terhadap topik tersebut, bahkan mungkin sebuah analisis. Misalnya tentang pergantian direksi sebuah bank sentral, akan diikuti dengan membandingkan calon-calon yang akan menduduki jabatan tersebut. Percakapan kemudian akan berlanjut ke latar belakang pendidikan, pekerjaan sebelumnya, hobinya, keberhasilannya, kekurangannya, atau bahkan isu skandal baik berkaitan dengan ekonomi/perdagangan/keuangan maupun yang bersifat pribadi. Dari pembicaraan tersebut, maka ada semacam pengujian, seberapa banyak dan dalam informasi yang kita punyai maupun dari teman bercakap kita. Dari sini kita akan memberikan penilaian pada sisi verbal atau bicara.

Setelah sisi verbal, ada penilaian lebih lanjut lagi yaitu mengenai sikap (attitude). Sisi sikap ini dapat kita amati dari cara teman bercakap kita memandang, merespon jawaban, merespon terhadap sesuatu yang mengejutkan, dan lain-lain. Sisi sikap ini lebih merupakan rekasi orang terhadap hal-hal yang ada dalam diri dan di sekitarnya, yang didasari oleh naluri dan pengetahuan yang diperoleh selama ini.

Satu hal lagi setelah mengenai sikap, atau mungkin berimpit dengan sikap adalah tindakan atau tingkah laku (behaviour). Tingkah laku merupakan gerak setelah ada respon sikap terhadap sesuatu hal. Tingkah laku atau perbuatan ini akan terwujud dari akumulasi naluri, pengetahuan, sikap dan dalam jangka waktu yang lama akan menjadi suatu kebiasaan (habits). Mengenai bicara, sikap maupun perbuatan, dalam suatu waktu bisa dibuat sedemikian rupa sehingga akan nampak seuatu yang baik. Akan tetapi dalam kondisi tertentu akan keliahatan mana yang suatu pura-pura dan mana yang sesungguhnya.

Berkaitan dengan sikap dan tingkah laku, tidak bisa memberikan kesimpulan dari pertemuan yang sesaat. Diperlukan intensitas yang cukup dan pendalaman serta pengamatan yang memadai untuk sampai pada kesimpulan: sikap dan tingkah laku orang ini baik. Tentu akan menyesatkan apabila dari pertemuan yang hanya sekali di bus, angkot, kereta, pesawat atau angkutan umum lainnya, dikatakan seseorang itu baik. masih diperlukan pengujian-pengujian lain untuk sampai pada kesimpulan tersebut.

Maka alangkah baiknya apabila kita mengoptimalkan segala potensi dan daya yang ada pada sisi fisik, bicara, sikap dan tingkah laku untuk mencapai apa yang kita cita dan dambakan. Seseorang yang terpana dengan kelebihan sisi fisik kita, maka akan segera tak menganggap baik diri kita, bahkan akan meninggalkan kita apabila, bicara kita tidak baik, sikap kita tidak baik, apalagi tingkah laku kita tak pernah mencerminkan kecerdasan. Pemberdayaan secara simultan empat unsur tersebut akan merujuk pada apa yang dinamakan KONSEP DIRI.

Semoga Anda para pembaca, juga saya, kita akan selalu dalam semangat yang terbaik!

(Sta. Bekasi – Gambir, 19 Februari 2008: itulah sebuah topik yang bergelayut manja di benak saya, waktu di perjalanan dengan kereta api KRL Ekspres Bekasi – Kota; dan semampu saya yang tidak pernah belajar Ilmu Psikologi secara formal. Lha wong belajarnya Akuntansi……he3. Maaf bila banyak kekurangan. Silahkan dikomentari..)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Spiritual 2. Tandai permalink.

2 Balasan ke KONSEP DIRI

  1. M.Arqomsyah berkata:

    ass……
    Mas Budhy salam kenal…
    saya arQom mahasiswa Universitas Bina Darma Palembang.
    Saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuannya,karena dengan adanya
    artikel yang menjabarkan tentang masalah konsep diri,saya dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
    thank’s………..

  2. ghandi s manik berkata:

    saya ghandi manik, terimakasih kepada ria hastuti telahah memberi kacang atom unutk ketenangan pikiran dalam mengerjakan tugas apresiasi budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s