Baca Puisi di REBOAN perdana, 30 April 2008

Budhi in action
Pada acara REBOAN edisi perdana dari hajatan PASAR MALAM di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan, saya ikut baca puisi. Yang saya baca adalah 2 puisi tulisan saya sendiri, yaitu berjudul KATA PENGANTAR dan NADA-NADA YANG BEREBUT DALAM LAGU. Puisi berjudul KATA PENGANTAR saya bacakan dengan mencoba menyelaraskan dengan acara REBOAN yang pertama, dengan menganalogikan ibarat sebuah buku sebelum masuk pada isi biasanya ada Kata Pengantar. Apakah sesuai dengan suasana acara, semoga saja memberi kesan meski hanya semburat nan samar. secara umum acara REBOAN edisi perdana berlangsung ramai dan semarak, meski tentunya ada beberapa kekurangan, yang akan menjadi pelajaran agar penyelenggaraan ke depan lebih ‘menggairahkan‘.

KATA PENGANTAR

masih tertutup gerbang
rapat bergeming
membeku pandang

belum terkuak
sebaris tabir
menunggu mantra

kapan terbuka
setapak kata
kesiap cahaya

Jakarta, 10 April 2008

NADA-NADA YANG BEREBUT DALAM LAGU

do re mi fa sol la si do
do si la sol fa mi re do

do…do…do…
dodol jadi kado doa-doa
menyusur kuah kare
re…re…re…
rengek kerdil tikus
di bawah lusuh jerami
mi…mi…mi…
mintalah uang pada raja
yang bercengkerama di sofa
fa…fa…fa…
fana geliat sungsang
sepatu mencari sol
sol…sol…sol…
solilokui lindap melenyap
mencari kata asal mula
la…la…la
lapangan direngkuh lengang
lusuh membasah basi
si…si…si…
sisa perang abu beku
kuda tak kenal sado
do…do…do…
dongeng tersedak tersedu
merindu penutur melebur

duri mata suka lupa
dosa lama buru raga

Jakarta, 11 April 2008

Sekedar informasi, pada 2 hari sebelumnya yaitu senin malam tanggal 28 April 2008 saya juga ikut baca puisi dalam mengenang Chairil Anwar di Planet Senen. Penyair-penyair yang ikut berpartisipasi antara lain Imam Muhtarom (Ketua Komunitas Planet Senen), Irmansyah, Viddy AD Daery, Anya Rompas, Sihar Ramses Simatupang. Dari pembagian pembacaan puisi Chairil Anwar saya kebagian membacakan puisi yang berjudul SENJA DI PELABUHAN KECIL; yang puisi tersebut kebetulan ada lama menghuni di blog saya, dan sebuah puisi tulisan saya sendiri berjudul KUDA-KUDA MEMERCIK API.

KUDA-KUDA MEMERCIK API

kuda-kuda kekar berlari gagah
menepuk jalan
menjejak jarak
mengeluarkan percik api
menghambur sepanjang cerita

percik-percik api membara
terus menyala
cakrawala tak pernah padam

di belahan dunia sana
anak-anak muda
rajin memunguti butir-butir bara
lalu dikumpulkan
dan kini tlah menjadi matahari

di sini,
anak-anak bangsa masih nyaman
berjalan dalam temaram
lalu siapa pewaris negeri ini
yang akan tekun menyusun bara-bara ini
hingga menjadi seribu matahari

Jakarta, 11 Januari 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Baca Puisi di REBOAN perdana, 30 April 2008

  1. raisa berkata:

    haiiiiiiiiiii..

  2. Jadi teringat cerpennya Lan Fang dalam ‘Lima Pusaran’. Lan Fang, juga menggunakan do, re, mi, fa, so, la, si.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s