AKU MENUJU MESIN

Pada sekeping pagi yang keras, aku masih malas beranjak dari ranjang yang terbuat dari berontak kata. Kuhampiri sebutir mimpi yang kurus kedinginan, aku elus dan usap. Dia yang menyimpan segala suara-suara dalam pelepah dan ranting silam. Cicit anak ayam kicau burung kokok ayam jantan embik kambing serta interlude nada dari jengkerik dan belalang yang membalut orkestra sunyi. Aku ciumi, aku peluk, dekap dan kududukkan di kursi lampau, sambil kutitipkan sejengkal jangkau.

Matahari tlah mengirimkan bias cahaya menembus kerlip embun menelusup dinding kamar yang panik berdiri, begitu cepat terang menindih kelam malam. Pagiku belum siap benar, masih gamang mengingat pagi kemarin, ingin sekedar bersalaman sambil berucap: “istirahatlah engkau, kini aku yang berjalan menyusur detik dengan segala detak”. Mengapa tak kauceritakan dulu padaku, kemarin engkau bertemu siapa, kau dapatkan apa? Ah usah lah cerita, nanti juga engkau akan temui sendiri, dengan rintik rumbai yang menyentuh jalanmu.

Ah… terengah-engah siang mengejar pagi, ketinggalan kereta yang begitu perkasa mengoyak derap. Dan selalu ada kata-kata yang jumawa sambil lurus tegak: “salahmu sendiri, kau selalu mencari romantis sunyi. Sia-sialah yang kau damba, putuslah yang kau rangkai. Di sini kau harus tetapkan kepastian batas, tinggal kau lihat jadwal di kamar kota, lalu ikuti langkahnya. Tak usahlah engkau mencoba menampakkan pikir, mengungkap nada-rasa. Tak ada gunanya. Kalau kau masih bertahan dalam alammu sendiri, bersiaplah kau akan menemu rongga sepi yang berduri, akan menancapmu, dan meretakpatahremukkan rangkamu, dan kau akan menempuh kulai layu, mati menuju debu.”

Hi.. aku belum mau mati. aku tetap harus hidup menempuh sejarah yang sarat cerita kotbah, yang gemar meracik jerit luka lolong tangis, mencipta amis darah dan nanah. Sejarah yang hobinya berlari, berkelebat meninggalkan dunia batin yang terduduk di pinggir jalan sambil minum teh, terkadang diserempetnya dan jatuh meringkuk. Aku harus ikut berlari, di pinggir-pinggir jalan sejarah, meski kadang ku dikibasnya, dan dengan kakiku yang kian merapuh mengeropos di terjang gersang kemarau rasa.

Ku masih ingat katamu di malam itu, di pematang sepi tepi sawah sahaja. “Ayo ikut aku, kau tak akan jadi apa-apa kalau masih di sini. Di kotaku, kau akan mampu mewujudkan mimpi yang lebih riuh dan berwarna yang sering menohokmu dalam risau harimu”. Dan sekian waktu merayap hingga bisa berlari, kau lalu lari meninggalkan gagap merenggut tanya. Sekarang aku di kotamu, dalam keramaian aku sendirian, tak banyak ucap, tak ramai tanya, apalagi usap, tlah melayang entah kemana. Aku baru mengerti, jangan mencari kasih sayang dan cinta. karena di sini semua ukuran telah dibakukan, semua aturan telah dikaburkan, demi sebuah pencapaian yang berwujud, semua harus kasat mata. Materi adalah kenyataan, kehidupan. Gila. Kota ini tlah gila, atau aku yang gila. aku tak pernah diberi jatah meski sekejap untuk sekedar bertanya, bersapa dengan teman, saudara, bahkan ku tak mampu bertanya dan bercakap dengan diriku sendiri, di kamar batinku, di gua jiwaku. Ini galau terus menumpuk, gundah kian tereguk. Edan!

Ya.. namun aku harus tetap hidup, meski aku menempuh warna pura-pura, rute-rute yang semu. Lalu aku mulai belajar ilmu mengubah wujud. Kuubah otakku menjadi mesin, tangan menjadi mesin, kaki menjadi mesin, tubuhku mesin, degupku mesin, pikirku mesin, rasaku mesin, kelaminku juga mesin…… wah enak juga ternyata menjadi mesin, semua telah diprogram, tinggal jalan saja. Ya… aku tlah mencapai keberhasilan, aku telah memintal sukses, merajut kebesaran sejarah. Akulah mesin paling sukses. Akulah mesin paling berharga. Dan kau semua, tak usah lah banyak bicara, atau akan kulindas segera, kugiling saat ini juga.

Aku kian cepat berputar, kian keras suara terdengar, kian menggelegar, siap-siaplah engkau semua, akan kusambar, hingga kau menemu gelepar dan terkapar.

(bersambung)

Jakarta, 10 Juni 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

4 Balasan ke AKU MENUJU MESIN

  1. masandhy berkata:

    pak budhi…,
    ijin nikmati kidung hatinya…
    (tambah produktif nih,,,)

  2. Weni suryandari berkata:

    Mmm…gmana yah? Aq makin salut aja! Tnyata tak mudah berdamai dg gundah. Sbab penyair memang berkata dlm gundahnya. Good luck to you! Dari semua puisimu, ini yg paling kusuka!!

  3. meds berkata:

    wah mas Budi, terus berkarya pak. Tak menyana, orang purworejo jadi sastrawan juga. Salam dari member Blogger purworejo, boleh juga mengirimkan puisinya lho.

  4. Arif W berkata:

    Terus berkarya dengan segala ketulusan yang ada… Good luck body..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s