Menjadi MC lagi pada REBOAN #4 di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan

Saya & Chika

Saya & Chika

Pada acara Reboan edisi 4 dari Paguyuban Sastra Rabu Malam (PASAR MALAM) tanggal 30 Juli 2008 di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Jakarta Selatan, lagi-lagi saya menjadi pembawa atau pengawal acara alias MC (Master of Cuap-cuap). Jauh beberapa hari sebelum acara tersebut, ada kabar bahwa pasangan saya waktu MC di Reboan edisi 3 bulan Juni yaitu Astri sedang ada tugas ke luar kota, sehingga tidak bisa mendampingi saya di Reboan. Saya berusaha menghubungi beberapa teman, akan tetapi kebanyakan menyatakan belum pernah menjadi MC atau merasa tidak pengalaman. Meski telah kujelaskan bahwa saya juga baru sekali menjadi MC pada Reboan bulan Juni. Akhirnya ada kabar dari mas Johanes Sugianto, sang kepala suku PASAR MALAM bahwa ada seorang anak SMA yang orangtuanya sudah kenal, mau menemani saya menjadi MC. Wah hati saya berbunga-bunga, mau ditemani seorang dara yang tengah beranjak remaja. Wah bisa-bisa saya bisa menjadi muda kembali. (semangat belajarnya, maksudnya…)

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB dan tamu telah banyak berdatangan. Tamu Reboan kali ini sangat banyak dan ada yang spesial karena banyak penyair atau penggiat sastra yang sudah sangat terkenal seperti mbak Diah Hadaning, mbak Medy Loekito, Pudwianto Arisanto, mas Adri Darmaji Woko, Dharmadi, Bambang Joko Susilo, Endo Senggono (PDS HB Jassin), dan lain-lain. Juga hadir Jodhi Yudono dari Kompas.com.

Sebelum acara mulai saya bertemu sekaligus berkenalan dengan Chika di tempat duduk di depan panggung. Chika yang cantik diantar kedua orang tuanya. Saya ajak mengobrol namun Chika masih kelihatan tak banyak bicara, mungkin grogi baru bertemu dengan saya atau malah karena kaget dan takut karena harus mendampingi seorang MC yang sudah tua dan ubanan, he3…. (padahal masih spirit ’seventeen’ juga).

Acara dimulai pukul 19.30 WIB, seperti biasa agak molor dari jadwal semula. Acara dibuka oleh penampilan grup musik Elex Yo Ben. Band ini yang memainkan tekno-metal menggeber 3 lagunya yang diambil dari albumnya yang diberi judul Gendhing Bejad. Lagu-lagu My Wife is Very Dangerous, Love Emang Anjrit, dan lagu-lagu lainnya terasa menyentak, keras, sekaligus dengan syair yang tajam menyentil dengan kritik. Setelah itu saya dan Chika naik ke panggung, mulai membacakan materi acara. Reboan kali ini bertema tentang kenangan. Saya sempat tunjukkan wayang kulit Anoman dan Wisanggeni, yang ternyata Chika kurang mengenal wayang. Mengapa saya membawa wayang kulit? Ya, karena wayang kulit merupakan sebuah karya seni yang saya sukai. Sejak saya duduk di sekolah dasar saya sering mendengarkan siaran wayang kulit di radio, terutama waktu masih berada di kampung, di Purworejo. Dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito asal Toyan Wates Kulonprogo (beliau wafat awal tahun 2008 ini). Ada beberapa koleksi kaset dengan lakon: Wahyu Senopati, Wisanggeni Gugat, Gathutkoco Neges, dll. Pada waktu kuliah di Yogya, saya sering menonton pertunjukan wayang kulit di Sitihinggil Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta. (ada yang lupa saya tunjukkan di panggung Reboan ini yaitu beberapa kaset musik koleksi saya yang sudah saya siapkan tetapi masih ada dalam tas, antara lain: Dunia Huru Hara (Achmad Albar), Ratna Sari Dewi (Freddy Tamaela), Dinding-Dinding Kota (Elpamas), Bohong (K3S))

Penampilan berikutnya adalah diskusi buku puisi karya Dharmadi, penyair Purwokerto yang berjudul Jejak Sajak. Penyair yang sudah senior ini sebelumnya telah membukukan puisi-puisinya dalam antologi tunggal: Kembali ke Asal, Kemarau, Aku Mengunyah Cahaya Bulan. Saya bertugas sebagai moderator dan buku dibahas secara singkat oleh Adri Darmaji Woko yang juga penyair senior, teman akrab Dharmadi. Setelah itu tampil Badri AQT, penulis asal Depok yang belum lama menikah (sebelumnya sukses memacari cerpen, he3) tampil penuh enerjik membacakan (lafalisasi) petikan novel Lanang karya Yonathan Rahardjo. Kemudian ada diskusi novel Chimera karya Donny Anggoro, yang dibahas oleh Hikmat Darmawan dan dimoderatori oleh Sahlul Fuad. Penampil berikutnya adalah Matdon penyair asal Bandung yang telah menerbitkan buku-buku puisi: Garis Langit, Mailbox, dan baru menerbitkan dengan judul Kepada Penyair Anjing. Penampil selanjutnya band Strangers juga asal Bandung. Band yang terdiri dari 4 personil ini telah merilis album indie berjudul Everything Goes Automatic, dan merasa ada influence dari beberapa band macam The Beatles, Radiohead, The Cure, Coldplay. Menyanyikan 4 lagu yang cukup menghentak dalam balutan brit-pop. Setelah itu tampil Yopie Setia Umbara, penyair asal Bandung yang datang bersama Matdon membacakan beberapa puisi. Berikutnya tampil Ana Mustamin yang membacakan puisi pertama dari proyek seribu puisi-nya Kurnia Effendi pada tahun 1996 yang dikirim lewat surat kepada Ana sewaktu masih di Makasar, disusul Epri Tsaqib yang membacakan beberapa puisi dari buku kumpulan puisinya yang pertama dan baru diterbitkan yaitu Ruang Lengang. Juga ada perkenalan buku berjudul Menggenggam Cahaya. Buku ini mau sedianya diperkenalkan oleh Lia Octavia, tetapi karena dia sakit maka diperkenalkan oleh sahabatnya yaitu Arsya dan salah satu temannya yang juga tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP). Selain itu juga tampil Teguh Esha yang terkenal dengan novelnya Ali Topan Raja Jalanan tampil membacakan beberapa puisi, salah satunya tema tentang Dr Sjahrir, ekonom dan anggota watimpres yang meninggal beberapa hari lalu. Tak ketinggalan naik ke panggung penyair Sihar Ramses Simatupang yang membacakan sebuah puisi karya Epri Tsaqib dan puisi tulisannya sendiri. Setelah Sihar, hampir ketinggalan tetapi akhirnya baca puisi juga yaitu Nurdin Achmad Zaky, penulis yang katanya baru menulis awal tahun 2007 dan tulisan-tulisannya masih untuk konsumsi pribadi. (jadi kapan mau dibagi-bagi nih….)

Acara malam itu ditutup oleh penampilan Elex Yo Ben dengan 3 lagunya yang lagi-lagi masih enerjik dan menerabas temaram panggung di Wapres Bulungan.

Secara umum acara malam itu berlangsung lancar dan sukses. Saya yang banyak melakukan improvisasi dan sedikit humor dan plesetan, dan serta ditemani Chika yang mengaku masih agak grogi sampai dengan akhir acara, mendapat komentar dari beberapa teman bahwa beginilah sebaiknya acara seni, ada seriusnya tetapi juga ada performance yang menghibur dan menjadikan malam di ibukota yang sedemikian gemuruh menjadi rileks sejenak. Dan faktor pembawa acara alias MC sebenarnya demikian penting dalam lebih menghidupkan dan menggempitakan acara. Saya merasa bersyukur karena menyukai bacaan dan musik sehingga ada bahan secara dadakan dalam ingatan saya yang bisa saya sampaikan selain bahan yang saya siapkan secara tertulis. Mungkin yang perlu disiapkan lagi adalah mengenai film, karena saya kurang menyukai film. (ada yang mau ngajak nonton film nggak nih….he3)

Dalam Reboan bulan Agustus 2008 yang mengambil tema tentang Kemerdekaan, apakah saya masih menjadi MC atau tidak, tergantung teman-teman PASAR MALAM apakah masih menghendaki. Saya merasa siap dan sembari terus belajar akan berupaya semaksimal mungkin membuat Reboan lebih rileks, menghibur, juga lebih inspiratif. (semoga tidak dikaitkan dengan aturan kepala daerah/negara yang menjabat maksimal 2 periode saja, he3….)

Dan bukan tidak mungkin akan memperpanjang predikat: akuntan, pegawai negeri, pemusik, pencipta lagu, penyair, dan presenter (wah koq kian bermanis-manis narcis… ya he3..)

Ok, teman: salam kreatif; inovatif; progresif.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

4 Balasan ke Menjadi MC lagi pada REBOAN #4 di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan

  1. Weni Suryandari berkata:

    Hmm..ya emang narsiezz sih…! Cuma ga tau aja ternyata Mas Budhi ga suka nonton. He…he…
    Sayangnya aku ga ikut acaranya sampai malam….
    BTW, teruslah hidupkan suasana Mas…….

  2. Zawawi berkata:

    pak budhi tambah gondrong aja nih, enggak dimarahin so boss he..he..kapan ke surabaya atau semarang lagi?

  3. Aryy amilin berkata:

    Mas budi itu yang mengenalkan buku menggenggam cahaya bukan arsya, kok sala lapal sih, namanya Aryy amilin tuh nama pena aye… hehe tapi sehari-hari sih di panggil ayong

  4. TiWie Al Azhar berkata:

    Mas Budhi…..tambah melebarkan sayapnya niy….
    kayanya bakat terpendam didalam dirimu satu persatu mulai bermunculan…
    hehehehehe…tapi dirimu emang pas jadi seniman….
    apalagi skrg rambutnya wes guondrong…(aku aja sampe pangling liat rambutmu..hehehehe)… tetep berkarya ya mas…
    Cayoooo….
    note:
    oiya, maap ya Mas,,,aku belum menyempatkan diri untuk datang ke acara REBOAN dan melihat performance dirimu jadi MC…
    Insya Allah kpn2 aku sempatkan datang ya…(maybe as a MC yang menemani dirimu…hehehehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s