Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Kebudayaan The Sandour

Budhi Setyawan & lukisan alam

Budhi Setyawan & lukisan alam

Jurnal Kebudayaan The Sandour adalah media yang mengakomodasikan karya sastra antara lain puisi, cerpen, esai, dan lain-lain; yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga bekerjasama dengan Forum Sastra Lamongan (FSL). Dalam nomor edisi III tahun 2008 yang menampilkan puisi-puisi penyair yang telah dikenal seperti: Raudal Tanjung Banua, S Yoga, Kirana Kejora, Dadang Ari Murtono, Saiful Bakri, dan lain-lain; termuat beberapa beberapa puisi sederhana saya yang saya tulis tahun 2007. Ada tiga puisi yaitu berjudul Ode Penyair Luka, Sajak Penyair Lupa, dan Menuju Pertemuan. Berikut saya kutipkan silahkan diberi komentar penyemangat agar saya mampu menulis yang lebih berbobot lagi.

ODE PENYAIR LUKA

akulah

penyair luka

terlahir dari darah nanah

kutawarkan rintih duka kepada samudera

untuk kutukar dengan: ombak ganas

kutawarkan bosan nuansa kepada ladang

untuk kutukar dengan: gesit musang

kutawarkan hambar jiwa kepada sabana

untuk kutukar dengan: taring singa

kutawarkan keluh sengsara kepada belantara

untuk kutukar dengan: aum harimau

kutawarkan beku cinta kepada gunung

untuk kutukar dengan: gelegak lava

masih ku duduk di kepak kata

menunggu jawabnya,

sambil menghitung sisa usia

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

SAJAK PENYAIR LUPA

bukan ini yang kumau

mengapa puisi begini menjadi

ini hanyalah najis dalam bangunan kata-kata manis

“duhai kata pujaan

bermalam-malam

berbulan-bulan

bertahun-tahun

kau benamkan aku dalam perahu renjana

melintasi taman teduh sekujur pembuluh

setia meski di ruang keruh

bahkan banyak yang ingin membunuh

tiada keluh mengaduh

sampai engkau kurengkuh, sungguh”

“engkau terus membelit menggodaku

namun kau tak pernah hadir di bait-bait sajakku

mengapa kau udarakan rayu manja,

begitu aku semangat; engkau khianat?”

ternyata,

puisi yang diharapnya

tak pernah tercipta

hingga sang kala meremahnya

di jalan menikung, senja yang mendung

penyair berlalu sendirian dan lupa bersenandung

Jenewa (Swiss), 28 Juni 2007

MENUJU PERTEMUAN

senja tersungkur matahari berbaur

lautan meringis teriris menahan gemeretak ombak

tanah-tanah terbelah tampakkan pasrah

senyap arah

danau sungai peluk temaram

terhisap suara ke dalam untai debar

gunung perbukitan menundukkan tubuh

khidmat menempuh jalanan luruh

ini dunia

hanya permainan dan canda belaka

batu kapur,

melapuk umur

menuju kubur

Jakarta, 2 November 2007

(Jurnal Kebudayaan The Sandour Jln Raya Sukodadi – Makam Sunan Drajad, Kendal- Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan Jawa Timur; website: www.pustaka-pujangga.com, email: pustaka_pujangga@yahoo.com)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

6 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Kebudayaan The Sandour

  1. Weni Suryandari berkata:

    Dear………puisi-puisi ini bagus, liar, namun romantis seperti dirimu……..
    membuatku cemburu…(apanya?)

    • budhisetyawan berkata:

      ah… kau juga sekarang makin terkenal Weni…. karya2mu kian tajam mencumbu perasaan pembaca…. wow..

  2. jack efendi berkata:

    Sahabat…..karya-karyamu selalu membuat dunia sastra cemerlang.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mas Jack….. bagaimana pun aku masih belajar. termasuk kepada penyair2 muda yang karyanya sangat dahsyat…..

  3. Tri Indri Hardini berkata:

    Puisinya bagus banget..
    Betul kata Weni : liar..,tp nyaman dibaca🙂

    • budhisetyawan berkata:

      Indri, apanya yang liar? ah biasa aj koq. malah pemalu…..
      aku masih belajar menyusun kata2 dan terengah2 untuk menjelma puisi….
      terima kasih atas dukungan dan kritiknya.
      salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s