Baca Puisi di RRI Jakarta 15 Agustus 2008

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, pada tanggal 15 Agustus 2008 Radio Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan Dialog Interaktif dan Musikalisasi Puisi dengan tema: “Nasionalisme dan Hari Depan Indonesia”. Dalam acara yang sedianya dimulai pukul 19.30.WIB akhirnya baru dimulai pada pukul 20.00 WIB. Dalam dialog yang dipandu Direktur LPP RRI Parni Hadi tersebut hadir Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, salah seorang Direktur KPK Eko Tjiptadi, salah seorang anggota DPR, sastrawan/budayawan Ahmadun Yosi Herfanda serta Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad M Nuh yang datang terlambat.

Acara dibuka dengan 2 lagu musikalisasi puisi oleh Deavies Sanggar Matahari. Setelah itu acara dialog berlangsung sampai dengan pukul 21.00 WIB. Acara dialog berlangsung sangat hidup dan menarik karena Parni Hadi sebagai pemandu atau moderator diskusi mempertanyakan sebuah kata ‘nasionalisme’ dengan hal-hal seperti: sikap budaya orang tua dalam mendidik anak, peran birokrasi, cinta, sastra, korupsi, pidato presiden, konsep nilai, kemudahan akses informasi, dan lain-lain. Kepiawaian moderator dalam memancing pendapat narasumber serta kadang memberikan joke dan plesetan, membuat hadirin yang ada dalam ruang Studio B RRI Jakarta Jl. Medan Merdeka Barat 4-5 Jakarta Pusat tersebut banyak senyum bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal. Karena acara tersebut disiarkan secara langsung oleh RRI Programa 3 dan 4, yang dipancarkan/ditelangkai ke seluruh Radio Republik Indonesia, besar kemungkinan para pendengar yang mengikuti dengan seksama dari siaran radio juga ikut terhibur.

Mulai pukul 21.00 WIB siaran dipancarkan hanya oleh RRI Programa 4, yang berisi sebuah lagu musikalisasi puisi oleh Deavies Sanggar Matahari dan pembacaan puisi oleh beberapa narasumber dan penyair yang diundang. Beberapa narasumber dalam dialog yang membacakan puisinya antara lain Menpan Taufik Effendi, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menkominfo M Nuh, Ahmadun Y Herfanda, Eko Tjiptadi. Sedangkan Andi Mallarangeng menyanyikan sebuah lagu Leo Kristi yang menyinggung tentang nasionalisme/kemerdekaan. Setelah itu berlanjut ke pembacaan puisi oleh pejabat dari RRI yaitu Kabul Budiono yang mantan penyiar RRI dan Niken Widiastuti Direktur Program Produksi RRI, serta beberapa penyair antara lain Kurnia Effendi, Diah Hadaning, Titi Said, Fatin Hamama, dan seorang pegawai negeri Departemen Keuangan yang tengah belajar untuk menjadi penyair yaitu saya (sedang dalam proses mempelajari beberapa hal agar sakti dalam bersastra seperti ilmu kanuragan, pelet pengasihan, kebatinan, suwuk, aji-aji, suluk, mantram, dan lain-lain daya linuwih…… hahaha, memang mau jadi ahli klenik atau paranormal…?).

Sesuai anjuran dari panitia, saya membacakan dua puisi yang beraroma patriotik-optimisme meskipun beberapa narasumber dialog dan penyair membacakan puisi yang bernuansa kritikan atas keadaan dan kejadian yang negatif di Indonesia. Dua puisi saya tersebut berjudul Jiwa Nusantara dan Bara Juang.

JIWA NUSANTARA

dalam arus gelombang asa yang membuncah meruah

kita berenang

kita berlayar

demi jiwa yang tekun menenun semangat membangun karya

pusaran dunia kini tengah kencang-kencangnya

menawarkan bimbang menerbitkan gamang

bagi generasi yang dibatasi kutub jarak

letup perjuangan dalam cerita

sejarah tlah meriwayatkan air api angin tanah

telahkah kau petik nada irama saripatinya

dalam memuji teguh prasasti

merawi tembang pertiwi

tak kau dengarkah,

tertanam hutan sawah ladang

dalam detak degup jantungku

tak kau lihatkah,

mengalir sungai danau laut

dalam kanal-kanal darahku

gunung lembah

desa kota

menyeruak ke dalam barisan gempita nafasku

telah saatnya

kembali satukan mozaik tarian dan langkah

dalam karisma wajah indah nusantara

langitkan cita

kukuhkan citra

Bekasi, 7 Agustus 2008

BARA JUANG

api yang tegap nyala

mengaliri sumbu-sumbu yang tumbuh menyapa

kembang berjaya di dada anak bangsa

tepiskan lena

kibaskan manja

dalam ruas ritual

menjaga panasnya

merawat baranya

bubur merahnya

bubur putihnya

selaksa usap doa menjaga harap yang tekun merayap

empat mufakat

lima bersama

empat lima keramat yang senantiasa mengguncang langit jingga

tlah ditabukan segala lelah

tlah dilenyapkan segala pasrah

dalam menelusur riwayat masa bentang alur sejarah

kau, kau, kau…

pantang berdiam sahaja

mari bersama

kumandangkan gelora semangat

merah putih: merdeka

darah merdeka

tulang merdeka

tubuh merdeka

jiwa merdeka

Bekasi, 7 Agustus 2008

Dalam acara yang berlangsung sampai dengan pukul 22.00 WIB tersebut, selain disiarkan oleh RRI Programa 3 dan 4, juga diliput oleh Pro3tv dan Qtv. Sampai dengan tulisan ini saya buat, saya belum melihat laporan pandangan mata dari acara tersebut disiarkan, karena untuk televisi bukan siaran langsung. (karena saya juga tidak hobi menonton siaran televisi)

Sekali di udara tetap di udara, sekali merdeka tetap berjuang agar lebih merdeka di banyak bidang, dan sekali bersastra tetap akan menorehkan kata bermantracinta.

Tabik!

Bekasi 17 Agustus 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s