AKU TANGGALKAN MESIN

(lanjutan dari AKU MENUJU MESIN & KETIKA AKU MESIN)

Telah kukayuh sekuat tenaga mesin namun seperti ada yang menarikku jadi berat, hingga putaran dan pusaran bayang roda dunia melambat. Kudengar majikanku melototiku, menatap tajam seperti mau membakar. Dia memukulku, menamparku, menendangku, membantingku, lalu melemparkanku: dasar mesin tua, uzur, renta; tak mampu ikuti pergolakan kuasa! Sungguh kau hanyalah onggokan kumal bau, rusak, remuk, sampah tak berguna! Begitu umpat majikanku yang masih tersisa di radang dengarku di antara gamang rupa dan pendar tanya.

Di bentang jarak jeda perih dan luka, sedemikian lambat, lirih, lembut ada yang terbangun, terbuka. Kebangkitan, penyadaran. Pembuluh, otak, tubuh, tangan, kaki, jantung, perut, kelamin, dan segala yang selama ini mesin, menggelembung terbitkan letup, berubah warna, dengan ruam-ruam belajar lagi alur sejarah kitab manusia: lepaskan segala yang mesin, mengemuka segala yang rasa cipta karsa.

Aku mulai bisa lagi mendengarkan sekumpulan irama yang terbang mencari nada yang sembunyi entah di langit mana buat menggenapkan alur lagu cinta yang telah tak sabar untuk mekar. Juga sepoi senja dalam lubang bambu seruling gembala, gemersik dedaun yang berciuman dengan angin, untai renyai gerimis yang menelusup di tepi kuduk dan beranda dada, gemericik pancuran di sisi kemarau yang menebarkan segar di samping kelok arus sungai yang menawarkan kecipak kata dan lumut sapa bermuara di wajah-wajah sederhana penghuni desa penjaga sahaja. Geriap mutiara sukma silam mengalir tak henti-henti di bibir ranjang.

Aku mulai bisa lagi meraba relief dinding dunia yang riuh oleh keterasingan, kedekatan angan dan raih telah menjauhkan mata musim yang harusnya mengingatkan dengan berkata: bacalah. Mencoba mencari kokoh bangunan yang bertulang cinta dengan rangka kasih dan mewujud tembok sayang di seluruh berkas simpul jiwa. Ada berapa potret corat-coret, ada berapa fragmen tentang pelarian bias cuaca, di punggung-punggung sejarah yang tumpah.

Aku mulai bisa lagi mencium aroma mimpi yang kuyup oleh hasrat, tanah yang basah karena kehadiran hujan yang tiba-tiba, huma dan kebun yang selalu rebah dalam rindu doa. Tinta dan cat membaur dalam rengkuh peluk menunggang pada sirip-sirip pencarian mengejar kemana jalur sapuan kanvas melenggang rantau dengan hela pantau. Tubuh-tubuh yang pengap dikerubut harap, sosok-sosok yang terseok dalam setapak berita, adalah buku-buku terbuka yang siap membagikan pengalaman kepada paragraf-paragraf yang memulai langkah. Udara merindu pengembaraan melulur tarian nafas putih.

Aku mulai bisa lagi melihat lazuardi jingga di lengkung kidung yang sajikan jejak panorama di kening kenang, intip tulisan-tulisan kecil yang menggenang pada kelopak rasa puisi yang mengambang di teratai berbalut ganggang, di telaga purnama dengan riak-riak yang ruang. Jelujur embun yang menekuni ritual puasa pada wajah dini hari yang panjang adalah perangkap bagi titik pandang menaksir anyaman dialog zaman yang renggang. Mengalirkan perdu kedalaman lubuk di pelupuk. Bumi mengumpulkan gelisah sembari sendu tengadah pada relung langit yang mendung, jua pada wajah langit yang rekah. Ada berjilid-jilid hikayat cahaya yang tersimpan dalam lorong-lorong yang lolong.

Aku mulai bisa lagi merasakan lembut tangan sepi merangkulku bertubi-tubi di padang pengembaraan yang begitu terbuka, sawah ladangku kerontang paceklik lama tak bersua dekap kisah-kisah bijak, kamarku yang ceruk memar menceritakan masa lalu tampar yang akhirnya tumbuh menjadi belai, di rentang tawa dirintang tangis. Elegi-elegi roman temaram bergantian dengan riwayat pijar berlarian di jalanan pembuluh yang menawarkan geronggang purba yang nganga, memanggil jelajah gapai masuki lingkar lajunya. Aku begitu piatu di hadapan malam yang renjana.

Dalam desak dan dorong gelombang waktu yang mengangkut semburat senyap aku kian menuju pantai dan dermaga gema sunyi untuk melabuhkan nyeri. Ada sekumpulan mantra belantara yang mesti segera kupelajari untuk menundukkan keganasan yang lama bertahta di jagad kecil ini. Masih kukenali lantang merdu suara cinta pertama: aku lahir satu dengan nyawa seribu. Ada kemeriahan kecil yang menggelitik warna untuk terus melangkahkan karya. Ya kini aku bukan mesin, karena telah kutinggalkan, sudah kutanggalkan. Kini aku manusia. Ya manusia! Dan telah tiba waktunya buat ku semesta membaca silsilah debu yang kupetik dari sembilan episode dzikir sebagai bekal dan kekuatan dalam menuliskan sajak-sajak misteri indah kehidupan oleh kepak sayap jiwa.

Kamar Baca Aksara dan Suara; Bekasi, 18 Agustus 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke AKU TANGGALKAN MESIN

  1. Weni Suryandari berkata:

    Begitu nampak semangat baru dalam esai ini. Cuma satu yang aku heran……kata2nya………….DAHSYAT!!!!

  2. salwangga berkata:

    hmmm, dalem abis rek. aku sampe terbengong-bengong menggali makna, lalu kuhubung-hubungkan dengan kondisiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s