MENJADI PRESENTER DI ACARA REBOAN # 5 (a Pasar Malam’s Present)

Acara rutin Reboan hajatan dari Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) belangsung lagi, dan edisi atau volume # 5 diadakan tanggal 27 Agustus 2008. Tempat penyelenggaraan masih di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan. Pada edisi kali ini karena berada di bulan Agustus, dan menyesuaikan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, maka diambil tema: Bebas Merdeka. Tentu saja mesti dimaknai kemerdekaan secara lebih luas, tak sekadar bebas dari belenggu penjajahan secara fisik dari bangsa lain. Akan tetapi juga harus diberi pemaknaan dengan tidak adanya pemaksaan, apakah kita telah menggenggam kemerdekaan dalam: berkata-kata, berekspresi, berkreasi. Apakah kita juga telah mempunyai kemandirian dalam ekonomi, psikis-mental, seni-budaya, karya tulisan, dll.

Tentu dalam peringatan kemerdekaan bangsa bergelar zamrud khatulistiwa ini tak bisa dilepaskan dari peran proklamatornya. Salah seorang proklamatornya yang juga presiden pertama Republik Indonesia yaitu Ir Soekarno atau lebih akrab dipanggil Bung Karno. Proklamator ini mempunyai kepiawaian dalam orasi yang bergelora serta kharisma yang kokoh tak lekang oleh arus zaman. Dalam beberapa pidatonya pada peringatan kemerdekaan menyatakan semangatnya yang bergelora memompa semangat agar terus waspada dan berkarya. Ada 2 penggalan kalimat yang bisa diambil dari pidatonya, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1949, beliau menyatakan: “….kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.” Kemudian dalam pidato tanggal 17 Agustus 1956, dengan lantang diteriakkan: “……sekali kita bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner, …. jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan…. kita adalah ‘fighting nation’ yang tidak mengenal ‘journey’s-end’”.

Di Reboan kali ini saya kembali menjadi presenter (untuk mengganti istilah MC yang nampaknya terkesan istilah lama, agar menjadi lebih bermakna strategik dan progresif [boleh plus revolusioner, he3…]), dan berarti berturut-turut bulan Juni, Juli dan Agustus 2008. Selain ada kesenangan ikut membantu membawakan acara, juga muncul tekanan agar bisa lebih berkualitas tampil di atas panggung. Perasaan grogi tentu saja telah hilang, apalagi malu mungkin sudah tak berani menghampiri diri ini, namun selalu ada tanya atau permintaan dari dalam diri sendiri: “buatlah acara sederhana ini menjadi sedemikian berkesan dalam ingatan, berpesan dalam kebaikan, bagi penikmat acara”. Setelah ada khabar bahwa Chika, pendamping saya di acara Reboan bulan Juli tidak bisa datang karena ada ujian, maka setelah berupaya kesana-kemari, menelepon sana-sini, akhirnya muncul kandidat pendamping yaitu Astri, yang pernah menjadi pendamping saya di Reboan bulan Juni. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama, hanya beberapa hari. Sehari sebelum acara dengan maksud bersapa dan memastikan besok tampil, ketika saya telepon Astri sedang mulai sakit batuk, dan dari suara di telepon kedengaran bahwa batuknya terasa begitu berat. Akhirnya saya katakan, kalau memang tidak bisa ya istirahat saja. Kemudian Johannes Sugianto, kepala suku Pasar Malam sempat menghubungi Bunga dari kemudian.com, tetapi juga tak ada jawaban. Sampai hari rabu jam 18.30, belum ketahuan siapa yang akan menjadi pendamping saya. Wah…. masa saya berjomblo ria di panggung?

Di antara tamu yang hadir, ada teman seorang perempuan yang saya kenal yaitu Bumi Kelana atau Mawar Rambat. Setelah dengan sedikit paksaan namun tanpa kekerasan, akhirnya si Mawar ini bersedia menemani saya menjadi pendamping. Meski masih terasa kurang interaktif, namun paling minimal saya tak sendirian di panggung. Bukan masalah tak berani, hanya saja kan lebih afdol kalau presenter di depan ada pemanisnya. Kalau cuma saya seorang kan kasihan hadirin dipaksa memelototi lukisan abstrak, he3… Acara dimulai pukl 19.30 WIB dengan penampilan Cakranada Band yang membawakan sebuah lagu. Grup Cakranada ini mempunyai personil yang cukup banyak yaitu 9 orang. Band ini menggabungkan alat musik band (drum, keyboard, gitar, bass) dengan alat musik tradisional yaitu kendang, saron, dll. Kemudian kami presenter cuap-cuap sebentar sebagai prolog, dan selanjutnya kami panggil Lia Octavia (FLP DKI) untuk tampil baca puisi, sebagai pengganti Lia Achmadi (penyiar RRI) yang tidak hadir. Lia membacakan sebuah puisi dari buku antologi puisi dan kisah Inspiratif “Menggenggam Cahaya”. Disusul Widi dari Komunitas Bunga Matahari. Widi tampil membacakan beberapa puisi dari kumpulan puisi “Sepatang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” karya Pakcik Achmad, Inez Dikara dan Dedy Tri Riyadi. Penampil berikutnya adalah Urip Herdiman Kambali, penyair yang telah melahirkan 2 buku kumpulan puisi yaitu Meditasi Sepanjang Zaman di Borobudur dan Karna Ksatria di Jalan Panah. Sebelum memanggil pserta berikutnya, saya sempatkan membacakan sebuah puisi pendek karya Toto Sudarto Bachtiar.

Puisi tersebut berjudul: TENTANG KEMERDEKAAN.

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara

Janganlah takut kepadanya

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara,

Janganlah takut kepadanya

Kemerdekaan ialah cinta kasih yang mesra

Bawalah daku kepadanya

Setelah itu tampil Diah Hadaning, yang dijuluki sebagai Ibu Penyair Indonesia dan tentu saja telah sangat dikenal oleh masyarakat penggiat dan penggemar sastra. Seperti biasanya dengan memakai busana serba hitam, penyair ini tampil tetap enerjik di usianya di atas 60 tahun. Puisi yang dibaca adalah sebuah puisi yang bernuansa filosofis-mistis jawa dengan memasukkan kata-kata aksara Jawa: ha na ca ra ka,……. ha! Setelah itu disusul penampilan BK atau Bung Kelinci yang bermonolog, dan disusul teater asuhannya yaitu Teater Pintu 310, yang membawakan tema: “Titin Mau ke Saudi Lagi” adaptasi cerpen Radhar Panca Dahana berjudul “Titin Pulang dari Saudi”. Kemudian menyusul tampil Jorgy Ibrahim yang membacakan sebuah puisinya, yang malam itu tampil lebih smooth, karena biasanya meletup-letup seperti musik rock kesukaannya yang mendentum ledak. Lalu Krishna Pabichara yang aktif di kegiatan pelatihan motivasi dan peningkatan ledakan kinerja otak membacakan puisinya. Dan Cakranada Band tampil lagi membawakan 2 buah lagu. Sebuah lagu instrumental yang sangat enerjik memadukan unsur band dan gamelan terasa sangat indah dan membius pesona para penikmat musik. Nampak ada nuansa progresif rock-nya. Saya jadi ingat band-band yang memasukkan unsur atau nuansa etnis/gamelan ke dalam musiknya seperti Guruh Gipsy, Gong 2000, Discus, Nerv, Yes, Pierre Moerlen/GONG, Jon Lord; serta beberapa band lainnya , yang saya punya koleksi kasetnya. Lagu terakhir Cakranada mengambil nuansa musik jawa dengan syair bahasa jawa. Seperti mendengarkan campursari dengan beat hentakan pop rock yang membalur manis ruang dengar malam itu. Setelah musik, kemudian tampil Oki dari tim Kompas.com yang memberikan presentase singkat tentang rubrik Oase di Kompas.com. Rubrik Oase memuat beberapa item yang berjudul: Jeda, Padamu Negeri, Puisiku, Ceritaku, Mata Air, Cakrawala, Muasal, Art Video, Novel, Galeri, dll. Dilanjutkan Bincang Sastra dan Komunitas (BSK) yang diajukan sebagai acara diskusi yang dalam Reboan # 5 dibahas secara singkat dan secara bersamaan yaitu mengenai rubrik Oase di Kompas.com dan proses kreatif Rachmat Ali, yang dimoderatori oleh Johannes Sugianto. Diskusi berikutnya mambahas buku “Menggenggam Cahaya” yang diwakili salah seorang yang karyanya ada di buku tersebut dengan pembahas Kurnia Effendi dan moderator Ary Amilin. Setelah diskusi itu, acara malam itu ditutup oleh penampilan Hudan Hidayat yang maksudnya membaca puisi, namun karena diucapkan dengan lagak seperti orang mabuk, malah menjadi lucu dan efeknya mungkin pesan yang mau disampaikan tak bisa tertangkap penikmat acara reboan, karen alebih banyak kata-kata yang diucapkan tidak jelas pengucapannya. Beberapa kali mengajak Eka Kurniawan dan Ratih Kumala untuk naik ke panggung, namun mereka tak mau. Dan akhirnya setelah bertidakjelas-ria, maka pada pukul 22.30-an WIB, Hudan turun dari panggung. Akhirnya saya dan Mawar naik ke panggung menyampaikan beberapa patah kata terima kasih kepada seluruh pengisi acara, teman-teman panitia, dan wapres bulungan, sekaligus menutup acara Reboan # 5.

Di antara tamu-tamu yang hadir nampak banyak sekali penyair seperti Dharmadi, Pudwiyanto Arisanto, Anya Rompas, Akmal N Basral, Wanda Leopolda, dan lain-lain serta Ketua PDS HB Jassin Endo Senggono meramaikan Reboan bulan Agustus 2008 dari Pasar Malam.

Terima kasih!

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

5 Balasan ke MENJADI PRESENTER DI ACARA REBOAN # 5 (a Pasar Malam’s Present)

  1. asharjunandar berkata:

    wedew, mas busyet sang presenter.. ciye ciye hehe

  2. budiman berkata:

    menurut saya cakranada adalah salah satu kelompok musik yang sangat bagus untuk berada di indonesia pada saat keadaan ini..dengan banyaknya anak2 bangsa yang sudah kehilangan jati diri dalam bidang berkarya dibidang musik tentunya…
    intinya saya bangga dan akan terus saya support untuk berkarya dan memperkaya dalam nuansa musik tradisi indonesia…

  3. Rinto Berharap berkata:

    Kalo tgl 29 kemaren mba yach presenternya????

  4. cakranada kelompok musik yang sangat bagus dan personilnya
    pada masih muda smua lagi…kerennn aBiZzzz….

  5. hoho berkata:

    masih adakah malam reboan di bulungan?
    boleh ikutkah masyarakat awan?
    terimakasih….
    zero_plub2@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s