REBOAN “CERMIN HATI” 17 SEPTEMBER 2008

Acara Reboan dari Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) edisi 6 dilaksanakan tanggal 17 September 2008, dengan tetap bertempat di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan. Sebelumnya sempat terpikir oleh para anggota Pasar Malam, apakah akan dilaksanakan Reboan karena bulan September ini bersamaan dengan bulan Ramadhan atau bulan puasa bagi kaum Muslim. Namun akhirnya dilaksanakan, dengan mengambil tema “Cermin Hati” yang dimaksudkan dalam Reboan kali ini menampilkan karya yang bernuansa spiritualitas atau sufistik-religius. Hakikatnya ada semangat berinstropeksi diri, dan diharapkan akan merembes pada suatu sikap yang tekun dan terus menggali mata air kreativitas agar mampu menghasilkan karya yang mencerahkan bagi kehidupan.

Acara Reboan # 6 dimulai relatif agak malam, semula dijadwalkan pukul 20.00 WIB, namun agak sedikit tertunda karena sholat tarawih belum usai dan lain hal, akhirnya dimulai pukul 20.30-an. Budhi Setyawan sebagai presenter naik ke panggung sendirian. Kemudian tanpa diiringi alat musik, dia menyanyikan penggalan lagu Munajat Cinta-nya The Rock dan ketika sampai refrain: “……. Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati……..” tiba-tiba muncullah seorang perempuan cantik berjilbab. Dan perempuan yang akrab dipanggil Tiwie yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas di Jakarta itu jadi presenter pendamping pada malam itu.

Tampil pertama malam itu adalah Cakranada Band, sebuah grup yang tampil begitu padu dan sangat impresif membawakan 2 buah lagu. Grup band ini menggabungkan unsur etnic seperti kendang sunda, perkussi, juga gamelan dengan unsur band pada umumnya seperti gitar, keyboard, drum dan bass. Penampilannya sangat memukau para pengunjung, yang kebanyakan suka seni dan sangat mungkin seperti mendapatkan oase baru bahwa ada alternatif musik yang berbeda dengan band-band pop umumnya. Setelah itu tampil Savitri Restu Putri, seorang pegawai Pengadilan Pajak Depkeu yang juara pada lomba baca puisi di kantornya membacakan puisi karyanya berjudul Rinduku. Puisi yang lumayan panjang mengisahkan tentang dialog kerinduan kepada Tuhan. Pembacaan puisinya cukup jelas artikulasinya dan menyentuh perasaan. Disusul penampilan Weni Suryandari seorang guru SMP yang rajin menulis puisi, cerpen, novel/novelet membacakan puisinya berjudul Tuah Bunda. Puisinya bertutur tentang kerinduan kepada ibundanya yang telah lama meninggalkannya dan ada kegamangan dalam menjalani kehidupan, dia merasa lelah berjalan sendirian. Memang sosok seorang ibu hampir pasti sangat berpengaruh bagi anak-anaknya.

Pembaca puisi berikutnya adalah Aditya Kusuma Rachman, yang juga pegawai Pengadilan Pajak dimana dia juara lomba baca puisi membacakan puisi karyanya berjudul Hanyalah Debu. Berisi tentang jerit anak manusia yang merasa dirinya adalah debu yang tak berdaya, yang hanya dengan bantuan-Nya bisa hadir sebagai khalifah di muka bumi ini. Disusul Dharmadi, penyair senior asal Purwokerto yang membacakan puisi berjudul Mencari Kosong yang diambil dari buku kumpulan puisinya ke-4 yaitu Jejak Sajak. Penyair ini akrab menggeluti puisi dengan pencitraan imajis-simbolik. Puisi-puisinya yang kebanyakan puisi pendek terasa mengalir lambat, namun sedemikian teliti dan telaten merayapi relung sukma para pembaca dan penyuka puisinya. Disambung naik ke pentas Rita Sahara, penyair yang bermukim di Cimanggis ini beberapa puisinya masuk dalam Antologi Penyair Depok “Gong Bolong”. Dia membacakan sebuah puisi pendek berjudul Terapung Senyap. Setelah itu tampil Cakranada band untuk kedua kalinya dengan membawakan beberapa lagu, selain lagu ciptaan sendiri juga sebuah lagu bernuansa religius karya Oddie Agam yang sering diperdengarkan radio di bulan Ramadhan yaitu yang berjudul Kusadari. Ternyata band ini juga ikut mengisi di acara Reboan # 5 pada bulan Agustus 2008.

Kemudian tampil Utami Diah Kusumawati, seorang editor sebuah perusahaan percetakan membacakan puisi. Setelah dia seharusnya tampil Endang Supriadi, penyair yang aktif menulis puisi sejak tahun 80-an, namun tidak bisa hadir karena sakit. Yang berikutnya membaca puisi adalah Ulil dari Komunitas Bunga Matahari. Dia membacakan 2 buah puisi sambil duduk di kursi, namun demikian tetap bisa tampil dengan baik. Setelah itu tampil Gemala, penyanyi yang tergabung dalam grup band Kerispatih itu, membawakan sebuah lagu diiringi oleh dua orang gitaris dalam nuansa unplugged. Dia biang baru merilis single terbaru. Meski minimalis, namun tetap menerbitkan semburat kesegaran dalam lagu yang dinyanyikannya.

Di sela-sela penampilan penyair dan pemusik, Budhi sang presenter yang sebenarnya agak sakit flu malam itu, sempat melantunkan tembang Jawa (mocopat) berjudul Ngelmu Iku. Tembang yang diciptakan oleh KGPAA Mangkunegoro IV itu ada dalam Serat Wedhatama, mempunyai makna yang dalam, yang secara singkat bisa diartikan bahwa setiap ilmu atau pengetahuan dapat diperoleh dengan adanya niat dan kesungguhan, dan apabila telah didapatkan pun juga harus diamalkan agar memberikan manfaat kepada banyak orang. Juga dilantunkan sebentar petikan sebuah lagu dari grup GIGI berjudul Malam Lailatul Qodar: “….inilah malam seribu bulan…..”, yang mengingatkan tentang adanya malam Lailatul Qodar yang nilai kemuliaannya lebih dari seribu bulan. Sedangkan Tiwie sempat melantunkan dengan lirih penggalan lagu Sajadah Panjang-nya Bimbo. ada sajadah panjang terbentang, hamba ruku’ dan sujud……”, yang turut memberian nuansa merinding dalam kerinduan yang magis.

Pembaca puisi berikutnya adalah Ahmadun Yosi Herfanda. Penyair yang terkenal dengan puisi religinya berjudul Sembahyang Rumputan ini dari kantornya langsung ke acara Reboan untuk membacakan 3 buah puisi. Salah satu puisinya berjudul Tuhan, Aku Berlindung PadaMu. Puisinya berisi tentang keteguhan seorang manusia yang tetap berharap dan berlidung kepada Tuhan yang sejatinya tuhan, meski banyak bermunculan atribut atau kilau dunia yang dianggap sebagai tuhan bagi sebagian manusia yang hidup di era kekinian. Saat ini Ahmadun sebagai Redaktur Sastra Harian Republika, juga aktif di Komunitas Cerpen Indonesia dan di Komunitas Sastra Indonesia sebagai Ketua. Acara berlanjut pada penampilan Rukmi Wisnu Wardani, yang katanya malam itu ada sedikit gangguan di tenggorokan, penyair yang juga sarjana arsitektur ini tampil sangat memikat dan penghayatan yang mantap, 2 buah puisi dibawakannya tanpa teks. Sepertinya telah membaur menyaur dalam keseharian penyair ini. Salah satu puisinya bertutur tentang keluhuran dan ketulusan seorang ibu yang berjudul Surat Untuk Ibu. Sedangkan puisi lainnya berjudul Satu.

Akhirnya reboan edisi 6 ditutup dengan penampilan kolaborasi 5 penyair Pasar Malam yaitu Yonathan Rahardjo, Setiyo Bardono, Johanes Sugianto, Budhi Setyawan dan Sahlul Fuad. Dalam kondisi lampu dimatikan, naiklah 5 orang itu, lalu duduk bersila berderet dari kiri panggung ke kanan. Setelah lampu panggung dinyalakan, maka berkumandanglah suara Yonathan Rahardjo yang bertindak sebagai pengatur laku dan gerak, dan kemudian satu persatu penyair membacakan sebuah puisi bernuansa spiritualitas-sufistik. Pembaca pertama adalah Budhi Setyawan, disusul Johanes Sugianto, Sahlul Fuad, Setiyo Bardono dan terakhir Yonathan Rahardjo. Yonathan Rahardjo bergerak menidurkan para penyair dari duduknya dan kemudian dia mengambil posisi tidur di tengah-tengah. Setelah berlangsung sejenak dan dalam balutan nuansa yang magis, Yonathan bangkit dan turun dari panggung disusul para penyair lainnya.

Sungguh acara malam itu sangat meriah dan ada nuansa yang lain dan lebih greget daripada Reboan sebelumnya. Apalagi di antara hadirin yang datang nampak Mr Mihaly Illes yang menjabat sebagai Duta Besar Hungaria untuk Indonesia. Dia sangat suka dengan sastra Indonesia dan sangat sering menekuni membaca cerpen yang ada di koran edisi Minggu. Selain dia juga hadir Endo Senggono Kepala Perpustakaan PDS HB Jassin TIM, penyair Imam Ma’arif, Irmansyah, Anya Rompas, beberapa penyair muda dari Universitas Bung Karno/Kapas Merah, pejabat Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan dan juga tidak ketinggalan penyanyi berambut gimbal Mbah Surip. Acara malam itu juga sempat diliput sebuah televisi swasta Jak-TV.

Dan pada pukul 22.30-an acara resmi berakhir, dan para hadirin beranjak dari tempat duduknya dalam nuansa seperti terpuaskan dengan acara malam itu, dan beberapa pengunjung malah menanyakan kapan acara Reboan bulan Oktober akan dilaksanakan. (Budhi s dkk)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

3 Balasan ke REBOAN “CERMIN HATI” 17 SEPTEMBER 2008

  1. BINHAD berkata:

    Kalau bisa kirim CD acara Reboan kali ke Korea lumayan juga buat dakwah di sana.

  2. syahrun berkata:

    lam knl kunjungi blog aq ya mdefahome.wordpress.com

  3. iqdha musabiq berkata:

    SOEMPAH PEMOEDA
    Pertama :
    – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
    Kedua :
    – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
    Ketiga :
    – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
    Djakarta, 28 Oktober 1928

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s