Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Nasional

Ada beberapa puisi saya yang termuat di harian Jurnal Nasional hari Minggu 8 Maret 2009. Saya ambilkan 2 puisi untuk saya taruh di blog saya. Selamat membaca dan silakan dikomentari atau diberi kritikan. Salam sastra.

Ada Yang Tertinggal Oleh Larimu

: sumantri

tak kau dengarkah roman rona masa silam

dengan teriak parau memanggilmu:

pulanglah sebentar, aku mau cerita. tapi riuh kemilau

gerak zaman menindih sepimu bertubi tubi.”

tak pernahkah terlintas di kanvas jalanmu

waktu lalu yang dulu pernah dekatmu

kautinggalkan sendirian di sebuah halaman

meradang merana ditimpa kepanasan kehujanan

dirinya kian asing

memanggil dan terus memanggil:

temui aku sebentar, sebentar saja, sungguh aku mau cerita.”

memang dirimu telah lesat jauh

dari langkah kecil yang merunut setapak

berganti jalanan lebar berpacu bising

jendela kamar tak lagi terbuka setengah

seperti dulu menangkap rembulan keperakan

kini rapat katup takut lembab malam

sumantri tak lagi lugu bocah dusun

telah menjelma punggawa kerajaan

yang bermain main di pendar dunia awang awang

menggebu menderu genggam putaran dunia

menegak menjelajah panggilan satria

ada selangkah yang belum tergapai nuju ksatria

sukasrana tak boleh terlihat

dan kemunculannya terhapus hunjam runcing

panah jumawa terpisah damai cinta

sukasrana

masa silam

menemanimu dalam membuka pintu

oleh ketukan terakhir pada nafasmu

Jakarta, 2008

Di Sini Kucari Atlas Kenangan

mendung membuat langit miring dan limbung

aku ikut terhuyung mengingat ada yang tak tertampung

dari sebuah gaung igauan yang memanggil kursi taman

juga pepohonan bercabang rendah yang begitu mengerti

sediakan tubuhnya buat teduhkan kata kata yang nyeri

hujan yang tersimpan di pojok pojok kota

kadang begitu beringas memprotes cuaca dan suasana

memainkan lagu yang sarat improvisasi nada

engkau dan aku tertegun di semenanjung jeda

pintu pintu membentur di hidung dan kening kita

ada kalanya mesti diletakkan

keranjang penuh muatan di punggung zaman

kupanggil puisi puisimu yang kelebat bercuap di depan kaca

terus saja bersuara tanpa menolehku

berjingkat akan kutangkapi untai elok kata itu

namun ia begitu lihai menghindar

lalu bersekutu dengan tarianmu

bersama mulut angin menekuni tengkukku

mengirimkan gigil yang meluruhkan hijab mimpi

rontaku mengalir di bawah tawanya

yang memecahkan bentang dinding kamar, tawar

jarum jam merayu gedung gedung tinggi berbaring

melemaskan otot otot setelah bekerja seharian

kepenatan yang mengisi pembuluh peradaban

juga endapkan debu debu yang tadi beterbangan

tiang tiang lampu jalan saling pagut berpelukan

mengisi ruang ruang kemuraman

yang saling berkelindan menafsir beku percakapan

suara gamelan yang semakin lirih dan rintih

belum sempat kita perbincangkan dan terjemahkan

ada kalanya nyeri ditahan

simpan di balik jeruji kesah dan teriakan

ketika pucuk malam mulai melelapkan gang dan jalanan

masih saja kausimpan misteri keindahan tak tergantikan

Semarang, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Nasional

  1. alie emje berkata:

    selamat

    anda melesat, mALAM CAHAYA
    kerlap kerlip itukah
    memata-matai, antara tidur terjaga?

    salam. wong jeporo

  2. budhisetyawan berkata:

    matur nuwun mas Alie. saya masih belajar nulis puisi. saya mengakui belum banyak puisi yang bagus. saya juga banyak belajar dari panjenengan, Mas. Saya tunggu puisi dan geguritan panjenengan di blog panjenengan nanti. Salam Sastra!

  3. lukmanjanapria berkata:

    Puisi-puisinya sampeyan bagus, Mas. Boleh dong minta ilmunya. Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s