Puisi Budhi Setyawan di Sinar Harapan

Ada 5 puisi saya yang dimuat di harian Sinar Harapan tanggal 11 April 2009. Berikut saya ambilkan 2 puisi yang masih saja sederhana. Terima kasih atas dorongan teman-teman semua. Terus terang saya masih dalam taraf belajar menuliskan rangkaian kata, dan diupayakan agar menjadi puisi. Selamat membaca jiwa.

Ombak Mengirim Sunyi

di sini ombak menciumi untai sajakmu, yang mengalir di sela tapak tapak matahari yang berjalan di atas karang. uap kenangan yang kausuling menjelma minyak wangi, mengisi celah celah hiasan di gerbang ukir batu. aku menagih mimpi tentang taman puisi yang belum juga kaukirimkan, meski mendung telah mengadu pada langit. angin kisah berlarian mencapai gemulai arca. sesaji meruncing mengikhtisarkan bongkah asa yang memenuhi kamar, meniti tangga sutra untuk menyampaikan doa kepada para dewa. sapuan pelangi mengikuti lengkung janur di perjalanan. akankah warna warna itu akan terus berkecak melumuri relief usia. jalanan terlalu gemuruh dengan rumus dan angka angka. lukisan panorama alam berlomba menakar palung rasa. ada yang diam diam terengah engah dalam golak arus gaung kembara. kesunyian jejak masa kecil yang tertanam begitu dalam, sedangkan lagu lagu masa kini terlalu rancak dan pesat. siapa kini yang jadi temannya.

Tanah Lot, 2008

Tak Seberapa Yang Kuingat

aku tlah lupa namamu

dan memang aku gampang lupa

pada hafalan rentet kata yang kadang

begitu belantara maknanya

namun aku takkan lupa pada lukisan dekap dan sketsa doa

yang terus kaurajut bersaing rebut dengan gelaran jauh

aku tlah lupa dengan namamu

dan di malam apa kita bertemu

asing saling menjadi tamu

yang katamu tak usah diigat tak perlu itu

namun bulan selalu mengirim dedaunnya yang perak

menjadi ornamen mekar di pinggir jendela parau teriak

Jakarta, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Sinar Harapan

  1. Mbah Kuntet berkata:

    Yang 3 nya mana hwehehehe…

    Aku melihat dari puisi-puisi diatas adalah keindahan dan rangkaian kata yang sangat indah dari (sang) penyair, hwehehehe….

    Puisi yang pertama terlalu rumit pengembaraannya, karena bukan hanya ombak yang mengirimkan rasa sunyi, tapi alampun turut mengirimkan sunyinya hingga kesunyian inipun bermatamorfosis menjadi minyak wangi … puisi yang kedua seperti di tujukan kepada seseorang sepertinya sama. seseorang dimasa lalu… lagi kangen tah…

  2. budhisetyawan berkata:

    he3..
    untung dikomentari dengan kata ‘rumit’, yang bisa berarti kompleks. tapi bukan ruwet kan? mbah….

    yach penyair mungkin harus terus mengawetkan kangennya, biar bisa berkarya selamanya…… ha3

    nah gimana caranya? silakan tanya kepada para penyair yang sudah mumpuni ya mbah…….

    salam…

  3. Warock Live berkata:

    apikeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s