Bertemu Penyair Mardiluhung

Buset&Mardiluhung

Buset&Mardiluhung

Dalam kegiatan dinas tugas kantor ke Surabaya awal Juli 2009, dengan semangat sekali saya berkeinginan untuk bertemu dengan penyair asal Gresik, Mardiluhung. Ini sekaligus untuk membayar dendam janji untuk bertemu dengannya, ketika bulan Mei 2009 saya ke Surabaya dan tak sempat ke Gresik (waktu itu sampai lumayan malam, saya bertemu dengan penyair Mashuri dan teman-temannya di Teater Gapus di dekat gerbang Universitas Airlangga. Juga bertemu dengan Gita Pratama dan temannya. ). Setelah kegiatan tugas kantor selesai, maka saya pada tanggal 3 Juli, selepas Jumatan dan makan siang, saya melaju menuju Gresik di antar oleh teman. Saya yang dulu sempat sekali ke Gresik, namun merasa seperti mengunjungi daerah baru. Perjalanan meyusuri tol yang gersang, disambung dengan rute dalam kota Gresik dengan jalan yang kecil-kecil masih saja terasa panas. Gresik sebagai kota di dekat pantai memang bersuhu udara cukup menyengat. Setelah melewati jalanan yang kecil dan beberapa kali berbelok, akhirnya bertemu juga dengan sang penyair terkenal itu. Terasa ada sekelumit embun yang menetes mengirimkan sejuk menyeruak terik siang yang bara. Akhirnya saya bertemu juga dengan Mardiluhung. Saya juga mengajak penyair Lamongan, yang kebetulan bekerja di Gresik, yang aktif di milis Apresiasi-sastra yaitu Zawawi atau Abu Salman untuk ikut bergabung. Setelah berbasa-basi sebentar, saya yang sangat pemula dalam urusan perpuisian, langsung banyak bertanya mengenai puisi kepada Mardiluhung. Lalu dia bercerita, bahwa awalnya dia memilih menekuni sebagai perajin puisi adalah karena dari kecil sering mengkhayal yang aneh-aneh. (dia bilang dari dulu sering nggladrah, dalam bahasa jawa). Pernah suatu kali pada saat masih duduk di bangku SD, di dalam kelas ia mengkhayal dengan asyiknya, hingga waktu ditanya oleh guru, ia kaget dan tak tahu menahu. Akhirnya ia disuruh untuk keluar kelas tidak boleh mengikuti pelajaran. Di luar kelas, ia bukannya merasa sedih, namun malah melanjutkan mengkhayal dengan kian asyik. Ia mengaku khayalannya terpengaruh dengan tokoh-tokoh hero atau pahlawan dalam dunia khayal/dongeng, terutama dari cerita komik. Sebelumnya saya mengirimkan buku puisi saya. Dan ia bilang: arek iki ya gendheng (anak ini juga gila, dia mengatakan tentang saya dalam bahasa jawa). Lalu ia bilang bahwa saya memiliki potensi yang cukup kuat dalam menulis puisi. Namun katanya lagi, bahwa saya belum menyelam lebih dalam, belum menghidupkan hal-hal yang berkaitan dengan keseharian yang sebenarnya akrab dan lekat. Itu bisa menjadi suatu karya yang dahsyat. Ia mencontohkan, coba buat tulisan dengan metafora: drum, alat musik yang pernah saya mainkan waku main band. Juga mengenai tentang pembukuan dan ekonomi/keuangan. Katanya, apa yang dekat dengan kita, memiliki irama yang sering menggema dan terngiang dalam waktu kita. (kondisi ini mirip dengan semacam saran dari penyair Yogya, Joko Pinurbo yang pernah saya temui juga. Menulis yang mudah dari hal-hal yang dekat dengan diri kita) Sebelum bertemu langsung, saya mengenal puisi Mardiluhung dari buku Mimbar Penyair Abad 21 dan Jurnal Kalam. Ada puisi yang paling saya ingat yaitu yang berjudul Pada Mulanya Bulan Adalah Ikan. Kemudian puisi-puisi lainnya yang sering menghiasi Koran KOMPAS edisi Minggu. Dan ketika sore tak mau diajak untuk melambatkan waktu, memang harus menyudahi pertemuan yang terasa khidmat itu dan saya menuju Surabaya untuk esoknya kembali ke Jakarta. Saya mendapatkan oleh-oleh keripik dan tentu saja buku antologi puisinya yang berjudul Ciuman Bibirku Yang Kelabu. Dia juga menitipkan sebuah buku untuk novelis Wa Ode Wulan Ratna, yang menulis Cari Aku di Canti. (buku sudah saya berikan kepada yang bersangkutan….). sampai jumpa lagi lain waktu ya Mas Mardiluhung…. (baru sadar dari tadi saya tak menyebutkan panggilan Mas padanya…. Maaf-maaf… Salam angin pesisiran.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bertemu Penyair Mardiluhung

  1. cemputh berkata:

    umm, inikah yang diceritakan di lobi sialan itu?
    yang terpenting adalah bertemu apa dan siapa (ruang dan waktu bukan lagi hal penting kan?)
    pendapat untuk menyelami apa yang terdekat sudah dan masih saya jalankan kok, tapi yah kadang kala menyasar ke yang agak jauhan dikit gak masalah. atur bae sing penting tertib (katanya anak-anak Gardu sih) 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s