Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Kakilangit KESUMBA

Kakilangit KESUMBA

Kakilangit KESUMBA

Kelompok Peminat Seni Sastra (KOPISISA) Purworejo didirikan oleh Soekoso DM dan Maskun Artha serta beberapa aktivis sastra pada 28 April 1979 di Purworejo, Jawa Tengah. Eksistensinya tercatat dalam buku Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000 (editor Sapardi Djoko Damono, terbitan Yayasan Kelola & The Ford Foundation, Surakarta, Indonesia, Thn 2000).

Pada tahun 2009 ini KOPISISA menerbitkan buku antologi puisi yang diberi judul Kakilangit KESUMBA: Sepilihan Puisi Penyair Purworejo. Buku ini memuat 78 puisi dari 26 penyair, yakni masing-masing 3 buah puisi. Di antara para penyair yang puisinya tercantum dalam buku ini terdapat nama-nama yang sudah lama berkecimpung di dunia sastra seperti: Soekoso DM, Dulrokhim, Herdi Sahrasad, Junaedi Setiyono, Maskun Artha, RI Tjiptadi, dan Sumanang Tirtasujana. Nama-nama penyair selengkapnya dalam buku ini adalah Ambarwati, Budhi Setyawan, Dandung Danadi, Dwi Sulistyoati, Eny Ermaeni, Erni Krisna Sari, H Riyanto, Kristina Kusuma Indrawati, Makhasin, Masdi Artha, Purnomo Purbha, Rika Rozzaq Wijaya, Riyadi, Setiyo Bardono, Sri Wahyuningtyas, Sumaryanto, Supardi AR, Tulus Abadi, dan Wiwiek AS. Mayoritas penyair yang tercantum dalam buku ini bermukim di Kabupaten Purworejo. Memang ada beberapa nama penyair yang tidak masuk dalam antologi puisi ini, dan yang mengetahui pastinya tentu panitia yang menerbitkan antologi ini. Buku ini diberi kesan sekilas oleh Atas Danusubroto, wartawan dan sastrawan senior yang mengawali kariernya sejak zaman Persada Studi Klub (PSK) Yogya bersama Umbu Landu Paranggi pada awal 1970-an. Atas Danusubroto meraih hadiah sastra Rancage Award tahun 2009 untuk novel berbahasa jawa yang berjudul TRAH.

Dengan terbitnya buku antologi ini membuktikan bahwa seni sastra di daerah, khususnya di Purworejo tetap menggeliat, beraktivitas, dengan romantika dan dinamikanya tersendiri. Diharapkan akan memberikan polesan warna kepada perkembangan seni sastra khususnya di Purworejo, dan akan lebih baik lagi apabila dapat memberikan pengaruh kepada wilayah yang lebih luas. ”Wilayah Kedu, Jawa tengah, di mana Purworejo masuk di dalamnya memang melahirkan banyak Jenderal Perenung, ” kata Sumanang Tirtasujana, Ketua Dewan Kesenian Purworejo dalam sambutannya pada acara peluncuran Kakilangit KESUMBA tanggal 28 Oktober 2009 di Gedung Loka Adi Bina PKK Kabupaten Purworejo.

Ada banyak tema dan juga gaya penulisan dalam puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini. Ini menunjukkan bahwa tetap ada proses kreatif dari masing-masing penulisnya. Menurut saya banyak penulis yang cukup potensial dari Purworejo. Beberapa puisi penyair Purworejo dalam antologi-antologi puisi sebelumnya sangat bagus, dan tidak kalah dengan puisi-puisi penyair terkenal yang sering menghiasi lembar sastra di koran-koran edisi Minggu. Namun, menurut saya sebagai warga asal Purworejo yang kemudian berada di luar Purworejo, merasa bahwa eksistensi para penyair Purworejo secara individu kurang bergaung. Apa sebabnya yang pasti saya belum tahu. Namun secara logika, sebagaimana sebuah produk, puisi juga tidak hanya berhenti pada kualitas saja, namun juga perlu usaha untuk memasarkannya. Secara sekilas nampaknya pemakaian internet di Purworejo masih minim, dan penulis belum banyak yang memanfaatkan dunia maya untuk memperkenalkan karyanya. Padahal dengan aktif ikut milis sastra, memasang blog pribadi, posting karya dalam wadah komunitas jejaring, akan ikut membantu terpublikasikannya karya-karya tersebut. Dan juga termuatnya karya di media massa sangat membantu tersiarkannya puisi kepada khalayak pembaca. Selain terus berkarya, ini juga menjadi semacam pekerjaan rumah bagi para penyair Purworejo, entah yang masih di Purworejo atau yang telah menetap di daerah lain. Apabila kondisi tersebut tercapai, maka Purworejo tidak hanya terkenal karena nama Jend. Ahmad Yani, Jend. Oerip Soemohardjo, WR Soepratman, bedug terbesar, kesenian nDolalak, makanan geblek dan lanthing, namun juga oleh banyaknya penyair dengan karya-karya yang indah.

Berikut saya cantumkan 2 dari 3 puisi saya dalam buku Kakilangit KESUMBA: Sepilihan Puisi Penyair Purworejo.

Senja di Simpang Lima

 

masih ada sisa suara azan terengah merayap di dinding kesunyian, sendirian dan dalam. di sini banyak burung kecil yang gemar mengukur panjang malam dengan kerjap pelarian, menepis kekakuan pertanyaan masa depan yang suka datang mengejutkan. jalanan memencar menuju lima keterasingan tanpa nama. yang dikeramatkan dalam kelana. lalu siapa yang masih saja betah menunggang kuda di rongga kepala? debu mengendapkan letih sementara, dan esok kembali bertugas menempati posnya semula.

 

kau bilang tak ada yang baru di sini. sedang aku dengan berjingkat mencari jejak tanda tangan para perajin sejarah. masih nganga seribu pintu yang bisu untuk mengeja lari masa lalu. apakah mesti memasuki lembab di situ sembari bermain gundu. di bawah pohon asam yang jarang dalam deret gelimang bimbang, aku mencoba menerawang. mungkin aku menunggu semacam keajaiban. serupa kehadiran, meringkas keterjauhan. entah apa atau siapa. laju angin rajin mengirimkan kisah kisah lengang. malam akan lama berkubang. dan rengkuhku kian berlubang.

 

Semarang, 11 Nopember 2008

Zaman Membebani Kata

 

aku tahu bekas tapak jejakku akan segera ditumbuhi rumput liar. rimbunannya dengan sigap menutupi segala cerita dan kisah yang selama ini kutanam. akan menjalar ke segala arah, merayap ke segenap wajah. entah darimana benih rumputan itu berasal dan siapa yang memupuknya. seperti lari dunia yang dikejar bayangan. rintik lentik kepurbaan sesunyi dekap. meruap lenyap terhapus bait hujan.

 

aku tahu rumputan itu nantinya menjadi gerumbul semak, tempat bersemayam segala duri dan onak. juga desis reptil dan serangga, yang suka menggigit dan menyengat. dan aku kehilangan tempat untuk meletakkan beban yang memenuhi kata. beban kilau warna yang selalu mengambang mengembang seiring terik zaman. aku tak sanggup lagi menghitung berapa kata yang robek tubuhnya karena kelebihan muatan. sungguh tak ada saluran pelepasan. atau memang tak akan pernah ada muara bening bagi kesetiaan.

 

Bekasi, 25 Januari 2009

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

6 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Kakilangit KESUMBA

  1. Ndoro Seten berkata:

    saluuut…atas karya-karyanya! Moga sukses mas….

    salam Bala Tidar

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih mas, atas komentar nya. telah mengapresiasi tulisan2 saya.

      di magelang ya Mas?

      salam tetangga,
      sy asal Purworejo.

  2. Kiran Tohiran berkata:

    Salam Kenal Mas Budhi..

    Artikel bagus – bagus…

    Aku aseli Purworejo , Kec. Grabag desa Rowodadi..

    Mangon ning Villa/Taman Galaxi Bekasi..

    Mas Budhi opo ono neng Galaxi juga..

    Salam kenal yo Mas

    -Kiran-

  3. cemputh berkata:

    zaman membebani kata.. (I Like This)😉
    kelebihan usia tua adalah : telah melalui lebih banyak dari usia muda. dan ketika itu membawa suatu keademan tersendiri, berarti mari berpesta untuk usia tua..

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih put. sudah sudi singgah walau tak sempat kusuguhkan es teh manis buatmu. namun semoga beberapa sajak yang bersahaja bisa sedikit mengurangi dahaga jiwamu.

      mengenai yang istilah tua, ya tua adalah sebuah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan…..

      dan marilah berpetsa bersama dengan saling bertukar kesunyian…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s