Puisi Budhi Setyawan di Radar Bandung (Jawa Pos grup)

Panorama_desaAda 2 puisi saya yang termuat di harian Radar Bandung edisi Minggu tanggal 13 Desember 2009, yaitu berjudul: Jalan Setapak di Kepalaku dan  Fragmentasi Pagi. Berikut saya tuliskan 2 puisi tersebut dalam blog ini.

Jalan Setapak di Kepalaku

ketapel. egrang. gampar adu batu. gangsingan. mahkota rangkaian daun nangka. gambar kecil, rin tin tin atau wayang untuk adu sisi diterbangkan, juga mencari jumlah sembilan. lempar gelang karet, pada lidi atau lekuk tembok. petak umpet. gobag sodor. senapan senapanan carang bambu, bunga jambu. seruling dan tulup. mobil mobilan, roda sabut kelapa, kulit jeruk bali atau batang kelapa. main kelereng, pot dan gendiran.

masa silam masa kecil mendekap punggungku dari belakang. tanpa kabar datangnya. menggelayut. meniupi tengkuk. merinding ceruk. membuat peta kenangan mengikuti garis putus putus di debarku. jauh dan menepi dari riuh masa. rekaman percakapan dan keluguan menjelma bukit memanjang. ada yang tertinggal di kamar belakang. awas ada kecoa atau kelabang. langit memeram kisah dan nama wayang. menjadi cermin bagi wajah wajah yang datang.

surat pendek dari ibu di kampung. ada langkah kecil terlupa, tak tertampung. senja dikepung bingung. hutang rasa menggunung. aku menghitung putaran arloji yang murung. waktu mengumpulkan kelam mimpi. lampu teplok di dinding anyaman bambu. tak ada minyak. kemarau retak di dada. sketsa rembulan mengirimkan catatan kesalahan. aku gagu dalam. sesal dentam. perih cekam. kata kata terus menggumam. terlunta dan sendirian.

Bekasi, 2009

Fragmentasi Pagi

ada yang mengejar ngejarmu dengan suara dentang logam atau rentak kayu. mungkin itu kauanggap suara laut yang menghempas tepian sepimu. karang jemu memanjang memagar pandang. di dekat pohon besar kau buang telingamu. kau pikir kau akan terbebas dari amuk suara yang kauanggap teror. tanah pasir masih menari nari di punggungmu. dan kau lalu bilang, dadaku sekarang yang mendengar. mengabarkan tentang langkah dan jejak yang begitu kaki. dan tahukah, dia tak hanya mendengar, namun juga membagikan pagi. pagi yang mengalirkan wajah dahaga mereka sendiri. lalu lari sembari terus menebarkan mozaik ilusi.

Bekasi,  2009

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s