Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Nasional

Ada 6 puisi saya yang termuat di surat kabar Jurnal Nasional atau kadang beberapa orang menyebut dengan singkatan yaitu Jurnas, hari Minggu 24 Januari 2010. Keenam puisi tersebut berjudul: Saat Kauukir Jarak Sajak, Risau yang Memisau, Slendro Frasa 13, Putaran Kesunyian, Apatis Tragis, dan Kelopak Teratai.   Berikut saya cantumkan 3 puisi di sini:

Risau Yang Memisau

nafasku masih tersaruk pada lusuh percakapan kita yang ada di belakang taman kota. memang tak begitu terawat karena cuaca yang sering menghunjam tanpa pemberitahuan. juga keisengan para pembaca riwayat yang suka datang dengan membuang serapah semaunya. bisa saja telah ada gerumbul semak di situ, serupa kata kata yang menghambur dan bergerombol berupaya menjadi sajak. semenjak kita berbeda rute jalan di senja yang lengang. tak ada deru kendaraan juga tampias senandung yang melenggang. taburan debu memang masih menggantung di krah baju kita. masing masing. sendiri. kering. pasi. arung pencarian sarat kelokan dan menanjak. aku selalu bingung dan tak sanggup menghitung. ketika jarak mulai menggelarkan jauh. tentang tuduhanmu kala itu. sungguh aku tak sepenuhnya meninggalkanmu. karena telah kusiapkan sepetak kenangan, dan aku selalu mengairinya di sepanjang rentang kemarau. meski aku harus berebut dengan banyak wajah asing yang juga menyebut namamu untuk membasahkan kisah. tapi menunggumu untuk kembali seperti kebingungan mengisi teka teki silang yang masih menyisakan tiga pertanyaan dalam bahasa yang tak kukenal. lepas dari jaring ingatan. kata kata itu telah kau bawa pergi. entah kau simpan di mana hingga tak pernah terjamah dan terjemah.

barangkali ada yang membantu menampung temaram muram. malam rintih dalam cucuran sisik rembulan. jengkerik mengadukan igaunya kepada dada langit. belalang terbirit mengejar nyanyinya yang dicuri angin dahaga.

Jakarta, 2008

Slendro Frasa 13

kenangan itu duduk terkantuk kantuk di kursi tua yang meratapi hujan di sebuah tepian kelam. dedaunan rinai melewati saluran saluran pembuluh yang sering ada sampan bergerak tanpa dayung. sejarah tak mencatat siapa yang mencuri matahari dan siapa yang sembunyikan rembulan. seberapa banyak tawa yang tersimpan di kamar kusam. abad sedemikian merunduk kuyu oleh genangan kecemasan. ikan plastik riuh bercakap di akuarium. wajah pengetahuan sarat ditumbuhi ilalang. mengepal kepada angin yang melintas dengan topeng. kapan air mata pertama dilahirkan?

musim bertiup tanpa peta dan kompas kisah, terengah engah dalam kejaran berontak sepi. angan tergantung pada seutas rambut pada tebing berlumut yang ingin menghindar dari perangkap kata yang kerlip. pada bilik mana gemintang bersemayam sembari mengajak awan bermain tebak teakan. seberapa banyak muram yang tertahan di belakang pintu. wilayah wilayah keramat telah dipagari dengan sumpah yang berdaun tentakel bunga api. kembang kertas mekar di taman kota. ada yang rajin memetik maki sembari menebar nada terdistorsi dan warna terdispersi. di mana air mata pertama dilahirkan?

dalam terpaan badai panah tanya mencekat sergap jalanku di lorong tanpa nama tanpa rupa. aku masih bersila di bawah perdu cerita, menunggu molek sapa berputar menari nari tampakkan ronanya sembunyikan perihnya. langit menyempit melipat rusuknya bersama kepul debu yang memburu, melesat pesat tak kenal tatap pada rerumputan yang lesu. bayang bayang berkelok berbelok, masih saja terseok, terus saja teronggok, kupunguti serpih keheningan yang menerpa ragu. ku ingin leburkan letih di dada malam yang begitu ibu.

Jakarta, 2008

Putaran Kesunyian

bayang siapa mengintip di balik jendela. atau dedaun jatuh yang mengetuk disuruh angin. bukankah pergantian musim tak pernah sungguh sungguh mengabarkan dan mengubah apa apa. hanya sekedar pengulangan dari kegamangan dan kebimbangan. sejauh jauh lari tak juga sanggup tanggalkan hunjam kesunyian. yang meloncat loncat pada nama nama yang dipanggil juga hanya diam di tempat. telah berapa kali belalang mengganti lagunya, lalu kembali terputar irama yang di awal suara. nada yang terbit dari lorong seruling adalah semacam lolong yang menyayat jauh, karena memang merunut nafas yang memindai jarak. mengasah kerinduan menyentuh keharuan. kerinduan pada diri yang pesat berpindah puja tatap, keharuan pada jantung yang lirih melubuk termenung. dan rembulan tak pernah merias wajahnya. dia tak ingin tertular kegenitan lampu kota.

bayang siapa mengintip di cermin buram lemari muram. nanarnya mengirimkan jerit perih atau tawa rapuh sembari menyimpan malu dalam temaram.

Jakarta, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

10 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Nasional

  1. mobil88 berkata:

    Anda luar biasa, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih kepada pengelola blog Mobil88. Anda yang pertama memberikan komentar dan pemberi semangat, padahal tulisan ini baru saja saya posting.

      saya masih belajar menulis. saya belum bisa menghasilkan karya yang terbaik. saya merasa selalu masih ada kekurangan, dan saya upayakan untuk terus berproses. berusaha lebih baik lagi.
      kalau dalam literatur manajemen, ada istilah “learning organization” dan juga “continuous improvement”.

      selamat berkarya, semoga mencapai puncak!

      • venny zega berkata:

        terimakasih telah berbagi…

        saya yakin, dengan puisipuisi anda bisa menjadikan motivasi yang lain untuk kembali berproses dan terus… hingga angin tak mampu lagi menghembuskan kesejukan itu….

        salam kreatif…

      • budhisetyawan berkata:

        terima kasih buat venny zega, semoga dikau juga selalu tekun berkarya. salam progresif.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih.
      saya sudah singgah blog wp anda. puisi anda menarik. unsur rima yang dibangun cukup elok.

      salam sukses yaa….

  2. alrisblog berkata:

    Anda hebat, salut. Saya belum bisa bikin puisi keren begitu. Salam

    • budhisetyawan berkata:

      wah… anda terlalu memuji ah.
      saya juga masih pembelajar. belum ada karya terbaik saya.
      semua masih dalam era pencarian.

      terima kasih telah singgah blog saya.
      barusan saya singgah sejenak blog anda.

      salam juang.

  3. Hesra berkata:

    adakah yang perlu saya tinggalkan setelah membacanya? selain senyum dan ludah yang tertelan berkali-kali.

    saya akan lebih sering ke sini, singgah.

    magic!

    • budhisetyawan berkata:

      ehmm.. komentar pendek darimu telah menginduksi semangatku untuk terus menulis. terima kasih yang amat sangat.

      saya berharap dapat masukan dari pembaca. dan saya merasa bahagia, apabila tulisan saya sanggup memberikan inspirasi buat pembaca, meski dalam skala yang minimal….

      salam melodic!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s