Puisi Budhi Setyawan di Padang Ekspres

Ada 2 puisi saya yang termuat di surat kabar yang terbit di Sumatera Barat yaitu Padang Ekspres, hari Minggu 31 Januari 2010. Kedua puisi tersebut berjudul Kepingan Malam di Desahmu dan Yang Meremang di Jalanmu. Berikut saya cantumkan kedua puisi tersebut di sini.

Kepingan Malam di Desahmu

dalam matamu yang rimbun pasang,

ada serimba aum terkam

juga seberkas luka dalam

jalanan kecil tanpa lampu

menyemaikan insomnia

arus sungai tanpa nama

aku bercerita sebuah keinginan

aku temukan segumpal kedinginan

dari ujung kuku jemari tanganmu

selalu tumbuh galau mengantri, menerka teka teki

berita apa yang dibawakan esok hari

tidaklah perlu ada cerita

tentang apa apa yang dikerjakan bulan

saat tiap jejak akan segera menjelma silam

aku rawat segurat riwayat

aku mengeja sekerat hasrat

di kamar dadamu yang liat

serupa malam telah limbung penat

oleh sesak irama jejarum menjahit luka

namun kerlip racau tetap berbunga

degup tanah kampung makin pudar

hanya temaram kisah yang kian membelukar liar

nafasmu, tubuh terapi bagi letih kapal yang redam direntak gelombang

Yang Meremang di Jalanmu

aku menemukanmu tengah terlelap dengan pakaian yang kaukenakan tersusun dari perca waktu. ada lampu lima watt yang menyala. apakah cukup buat menerangi remang kenanganmu. ada warna hitam merah biru putih. aku tak mau membangunkanmu. aku tahu engkau sedang membangun sebuah kamar dari bongkah bongkah puisi, dengan akustik ruang yang penuh integral sunyi. bolehkah kupasang penyadap suara di dekat pintu. aku tak mengatakan malam mengambil bekal dari ranselmu, namun ku tak menemukan botol air kesukaanmu. yang kadang kauberikan kepada anjing yang kehausan di perjalanan. anjing yang lalu akan berterima kasih dengan menggigit celana panjangmu. kemudian ia akan mengirim sebuah cerpen tentang kesibukan kota besar dan pabrik ke dadamu. hingga tumbuh musik yang berdebum di situ. aku tak tahu apakah kau sudah bangun sekarang. matahari telah pulang, sedang bulan belum sampai, masih tertahan di sebuah perempatan yang mampat oleh was was. tak ada pengatur lalu lintas di situ. hanya ada dua patung angsa hitam. angsa yang rajin mengemasi mimpi pejalan dengan lahap.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

18 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Padang Ekspres

  1. laladua berkata:

    usah lagi percaya pada mata
    kerna telah terlindung oleh kaca
    aum terkam tidak berbisa
    kerna kering sudah sungai tak bernama
    lalu
    keinginan jadi kedinginan
    entah apa dalam kepala
    tak dapat ku baca
    di dada ada sungai luka
    mengalir lesu warna biru
    bibirpun kelu
    bila tersambung lagi riwayat
    berlaku saat ke saat
    tidak peduli langkah-langkah bebas
    di luar jendela ribut mengganas
    terhembuslah nafas puas
    mari dengarkan kisah bulan.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih Lala. komentarmu yang puitis juga, yang serupa jawaban atau sahutan dari tulisanku.

      ada apa dengan kisah bulan, la?

      semoga dikau kian kreatif berkarya………

      • laladua berkata:

        biar bulan bicara sendirian
        kerna tidak ada bintang di balik awan
        mau tau apa apa
        yang dikerjakannya
        bila malam kian menipis
        dan jejarum mendengus menembus
        luka lurah dendam kian terpadam
        lalu
        kepingan malam… di desahmu.

      • budhisetyawan berkata:

        ah, bulan yang melayari langit sendirian. kehilangan wajahnya di kota2. namun desa di pinggang bukit merawatnya serupa desir nafas di kamarnya.

        salam kilau rembulan…. he3

  2. Hesra berkata:

    saya lebih menikmati “Yang Meremang di Jalanmu”. membacanya, seperti bulir-bulir keringat yang meluruh dari kulit, nikmat…

    bagaimana kita bisa melampaui dinding hati orang lain, sementara mengetuknya pun tak sua. Bukankah isi kepala, pikiran adalah ketunggalan yang bekerja otonom, independen bagi tiap-tiap pemiliknya?

    hehe, setidaknya itu yang saya tangkap dari tulisan Bapak. Jika berbeda tafsir, dimaklumi saja, Pak…🙂

    tabik!
    Hesra

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih Hesra…
      sudah singgah.

      segala komentar terhadap karya saya, pasti akan saya tampilkan, kecuali yang menyangkut unsur SARA.

      ya komentarmu akan menambah kaya tulisan saya. dan namanya puisi memang sangat dimungkinkan adanya multi tafsir..

      salam jiwa..

  3. Jayanti berkata:

    puisi2nya indah. smoga sy bisa belajar dr mas budhi

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih sudah singgah. saya jug amsih belajar, belum bisa berkarya yang terbaik. masih dalam pencarian, dan dengan segala keterbatasan.

      mari saling belajar, asal dikau tekun, bisa lebih baiki dari saya atau penyair2 yang terkenal itu.

      selamat menulis/berkarya yaa..

  4. Danu Wardana berkata:

    Sehabis mengusap puisi Kepingan Malam di Desahmu, hatiku turut mendesah. Mendesah karena aum luka mengantar insomnia. Namun desah gelisah mengajak hatiku bernyanyi. Suatu pemandangan kata yang menakjubkan, KEPAHITAN disajikan dalam KEMANISAN.

    Terimakasih Mas Budhi atas puisinya ini. Puisi ini memberikan sesuatu pada saya.

    Sukses selalu! Semangat selalu! GBU!

  5. Ridwan mahadi (sabda cahaya) berkata:

    mantaf pak, kalimat kalimat sakti yang belum pernah terjamah oleh lidah saya, bener-benar begitu nikmat dan mantaf puisinya pak, salut!

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih atas apresiasinya.
      semoga membantu saya dalam pencarian untuk bisa menulis dengan lebih baik.

      salam sukses juga.

  6. Aryani Puspitaningsih berkata:

    “saat tiap jejak akan segera menjelma menjadi silam”

    aku suka dan percaya itu mas…

    “tiap jejak serupa ruang dan waktu menjadi silam ketika telah terlewati…”

    aku banyak belajar dari guratan kata-katamu mas… salam…

    • budhisetyawan berkata:

      Aryani, terima kasih sudah singgah di blog saya.
      semoga sedikit menginspirasi anda untuk juga selalu berkarya, dengan semangat yang tinggi, dan senantiasa berusaha menjadi terbaik.

      salam karya-progresif

  7. eryn berkata:

    a ingin bgt seprtimu

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih ya Eryn.
      selamat dan selalu semangat untuk berkarya & berproses yaa.
      saya yakin secara potensi anda punya banyak kelebihan yang dapat dioptimalkan sehingga dapat lebih sukses. Amin.

  8. Amin Sahri berkata:

    bung budy, sedikit-sedikit dong jelaskan puisi anda…. aku suka puisi tapi masih awam bahasa-bahasa sastra (penyair)… heehhe

  9. budhisetyawan berkata:

    terima kasih sudah berkena singgah.
    akan tetapi untuk menjelaskan, saya sendiri sebenarnya tidak punya hak untuk memaksakan maksud puisi tersebut kepada pembaca, karena akan menjadikan monotafsir. saya tidak akan menjelaskan kata per kata. itu dapat dipelajari secara bertahap dengan menggeluti atau secara intensif sering membaca puisi dari banyak penyair juga.

    utnuk 2 puisi saya di atas, puisi pertama memuat tema tentang kerinduan, dan puisi kedua mengenai ketidapastian dalam kehidupan.

    untuk selanjutnya silakan membaca teori atau kritik sastra, dan boleh juga puisi saya tersebut ditelaah lebih lanjut.

    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s