Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi RESONANSI

Dalam rangka menyambut Pekan Seni WR Soepratman yang dilaksanakan tanggal 11 – 18 Maret 2010 di Kabupaten Purworejo, Dewan Kesenian Purworejo juga menerbitkan Antologi Puisi yang diberi judul RESONANSI. Antologi ini memuat puisi-puisi dari 20 penyair Purworejo, yang dapat dikatakan 18 penyair secara keseharian berada di Purworejo dan 2 penyair ’eksil’ yaitu merantau berada di luar wilayah Purworejo. 2 penyair ’eksil’ tersebut adalah saya dan Setiyo Bardono, yang dengan amat sangat terpaksa mesti keluar dari wilayah Purworejo oleh karena tuntutan untuk mencari nafkah di wilayah metropolitan. Keduapuluh penyair dalam buku antologi ini adalah: Soekoso DM, Atas S Danusubroto,  Maskun Artha, Sumanang Tirtasujana, Aji Sayekti, Sumaryanto, Ustadji Pantja Wibiarsa, Hardjanto Dje, Riyadi, Dandung Danadi, Dulrokhim, Junaedi Setiyono, Harjito, Budhi Setyawan, Supardi AR, RI Tjiptadi, Setiyo Bardono, Agung Te, Makhasin, dan Kristina Kusuma Indrawati.

Sumanang Tirtasujana selaku Ketua Dewan Kesenian Purworejo dalam kata pengantar Antologi Puisi RESONANSI menyatakan: ” Berbicara daerah sebagai wilayah spirit penciptaan, Purworejo yang berada di wilayah dataran Kedu, adalah sebagai wilayah subur yang memiliki spektrum kuat dalam khasanah sastra Indonesia, sebagaimana kantung-kantung kebudayaan di kota-kota lain. Setelah melaui pergulatan pada dunia pilihannya, beberapa nama lahir dan tercatat dalam khasanah sastra nasional (baca: Indonesia). Ini seolah menyimpulkan dominasi pusat dan daerah terdekonstruksi. Dikotomi pusat dan daerah dalam jagad sastra sudah tidak berlaku lagi. Kantung-kantung kebudayaan di daerah telah menunjukkan taji eksistensinya. Terbukti penghargaan Khatulistiwa Literary Award, Rancage Award, Penghargaan Pena Emas Penyair, dan penghargaan lainnya, justru didominasi para pendekar perenung dari daerah. Termasuk di dalamnya, Purworejo.”

Jadi Purworejo yang dulunya dikenal karena banyak melahirkan tentara, kemudian disebut sebagai kota sepi (ada yang menyebut sebagai kota pensiunan), tetap bergeliat dalam kehidupan bersastra dalam iramanya sendiri. Sebagai seorang ’eksil’ saya bisa melihat (mungkin saja saya keliru), bahwa memang ada beberapa nama penyair yang telah dikenal cukup lama, dapat dikatakan telah berkarya sejak akhir tahun 70-an dan 80-an. Namun saya merasa dan dengan mendasarkan pada publikasi karya sastra di media, bahwa belum muncul nama penyair muda yang cukup kuat dari Purworejo. Bisa dibandingkan dengan kemunculan penyair muda Eko Putra dari Sekayu (Musi Banyuasin, Sumatera Selatan). Saya tidak mengatakan terjadi kemandegan, akan tetapi dinamika sastra di Purworejo mungkin tidak seriuh seperti beberapa kota lainnya. Saya pernah membaca Antologi Puisi Penyair Purworejo dan Penyair Bocah yang dirilis beberapa tahun yang lalu (dan beredar terbatas), di mana ada beberapa nama yang masih dengan status sebagai siswa sekolah, ternyata puisinya sangat bagus. Namun saya tidak menjumpai nama-nama itu dalam beberapa antologi puisi akhir-akhir ini, termasuk antologi puisi RESONANSI ini. Pernah saya tanyakan ke beberapa teman penyair di Purworejo, dan saya mendapatkan jawaban seperti: dia sekarang sudah bekerja, dia sekarang sudah berumahtangga, dll; yang pada intinya menjadi tidak aktif menulis lagi. Nah sepertinya yang mesti diperkuat adalah tradisi kepenyairan dalam jiwa, khususnya bagi para penulis muda. Bahwa perlu komitmen dan kekonsistenan, serta keyakinan bahwa menulis adalah suatu hal yang sangat berguna. Selain ikut dalam membangun peradaban yang lebih tinggi dan menuju masyarakat madani, juga sebagai bentuk aktivitas perjuangan melawan lupa.

Secara umum saya pernah mengatakan kepada beberapa penyair di Purworejo pada pertengahan Januari 2010, bahwa banyak karya puisi dari penyair Purworejo yang sangat bagus, berkualitas, indah; namun sepertinya kurang dalam publikasi. Apabila boleh diibaratkan sebagai komoditas, karya puisi tidak hanya berhenti pada kualitas saja, namun perlu publikasi atau ’pemasaran’ yang memadai agar bisa diketahui oleh pihak luar (pembaca). Dan sebagai individu, tentunya diri sendiri yang paling menentukan dalam karir kepenyairannya, atau kalau boleh diibaratkan dalam dunia marketing, ya penyairnya sendiri yang paling bertanggung jawab dalam membangun ’brand image’ –nya. Dan berkaitan dengan buku antologi ini, karena banyak puisi bagus di dalamnya dan kualitas cetak yang baik, saya berharap buku antologi ini bisa dipasarkan secara lebih luas lewat toko buku.

Ohya, ada 5 puisi saya dalam antologi ini yaitu berjudul: Foto Kusam di Rak Buku, Kabar Kapar, Riak Risalah, Seyogyanya Yogya, dan Minum Teh. Berikut saya cantumkan 2 puisi saja yang berjudul  Foto Kusam di Rak Buku dan Seyogyanya Yogya.

Foto Kusam di Rak Buku

dari butir kabut yang turun

ada kerlip mungil menajam

itu puisimu mengalir

dari kamar temarammu

membasah segala daun silsilah yang berjajar

pelan merambat meniti sungai silam

menuju hulu

kampung sunyi kelahiranmu

yang setia meresapkan segala isak dan jerit

petualangan apa lagi yang mampu memetakan

kuncup serapah yang memenuhi cakrawala

mengirimkan gigilnya menjadi runcing kelam

keletihan dalam pertempuran menumpas asing jarak

belum juga menemu resonansi degup

dan usia terus saja membunyikan tanda peringatan

tak ada tepuk

tiada sorak

hanya lengang menawar pengakuan wajah wajah tanya

Seyogyanya Yogya

irama campursari mencegatku di peron stasiun bersama embun, segala pukau dan nanar lamun terbangun. dalam baris kelupas cat di tembok tua usang, mengirimkan gugusan rapat percakapan, semacam seberkas perjanjian. tak ada yang berubah selain limbung jalanku menerka kesunyian. berapa malam terperangkap dalam tiang tiang karat kusam. aku merayakan kekalutan yang kautitipkan pada gapura bambu sebuah gang. aku tahu kota ini berjalan amat pelan, menahan dahaga. menakar aura. ada yang ingin diceritakan, namun kata kata telah terburu berjatuhan. dalam amuk gemulai tarian baru, ada yang terus terdesak menepi. runcing esok tubir mimpi. masih adakah yang mengingatku lagi. ragu menggarami jantungku, tersisakah ruang yang kamar di sini. para pengantar syair dan lagu tengah terlelap. tak menyebutkan rute jalan menuju pulang. juga mozaik lampau wajahku yang melindap hilang.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi RESONANSI

  1. djoko sd berkata:

    terus berkarya… mas bud

  2. Paris Parisbento berkata:

    kukupu-kupu itu lahir dari senyum senja yang menetas di ujung merkah bibirmu, untuk semua penyair itulah ungkapan yang pantas untuk aku katakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s