Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi MENGALIR DI OASE

Rasanya patut diacungi jempol upaya penyair Shobir Poer mengumpulkan karya-karya puisi dari teman-teman via sms, email dan jejaring facebook. Penyair yang kini bermukim di Tangerang Selatan ini aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan mengelola Sarang Matahari Penggiat Sastra. Pada bulan Februari 2010 terbitlah buku antologi puisi Shobir Poer dkk, dengan judul MENGALIR DI OASE: Kumpulan Sajak Persahabatan dan Berbagi Rasa. Tercatat beberapa nama penyair yang ikut berpartisipasi dalam antologi ini, seperti: Maya Wulan, Ali Syamsudin Arsi, Badri AQT, Oyos Saroso HN, Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Jumari HS, Akidah Gauzillah, Humam S Chudori, Gunoto Saparie, Endang Supriadi, Pudwianto Arisanto, Ayit Suyitno PS, Rara Gendis, Isbedy Stiawan ZS, Hasan Bisri BFC, Dimas Arika Mihardja, Ramayani, Fatin Hamama, Zulhamdani AS, dll.

Ahmadun YH dalam prolog buku ini mengatakan: ”Karakter yang dominan pada sajak-sajak dalam buku ini adalah keinginan penulisnya untuk berbagi rasa dan bertegur sapa, serta ada suasana saling berbalas puisi layaknya berbalas pantun. Karena itu, sajak-sajak dalam buku ini, yang memang dikumpulkan dari facebook dan sms, umumnya pendek, ringan, dan komunikatif. Justru karena itu, umumnya terasa renyah untuk dikunyah, dan enak dinikmati”. Memang dalam halaman awal buku ini, terasa kentara sekali nuansa berbalas puisi antara Shobir Poer dengan beberapa penyair, yakni adanya puisi-puisi yang pendek, bahkan sangat pendek. Dan puisi-puisi pendek tersebut rata-rata bermain dalam bahasa yang masih relatif mudah dicerna atau dikunyah seperti komentar Ahmadun YH tersebut. Saya sendiri tidak melakukan berbalas puisi tersebut, karena memang sms yang saya terima adalah permintaan untuk berpartisipasi mengirimkan beberapa puisi untuk antologi ke email sang penggagas yaitu Shobir Poer. Dalam beberapa puisi yang relatif panjang, ada puisi-puisi yang terasa kematangannya sebagai buah sastra, seperti puisi Endang Supriadi, Gunoto Saparie, Dimas Arika Mihardja. Nuansa estetika yang terbangun bukan hanya di kulit permukaan, namun begitu terasa meresapi dan meluluri lorong batin puisi yang kemudian sanggup menjalar ke dalam dunia pengalaman estetika pembaca.

Kembali lagi, secara semangat untuk berkomunikasi dan mengumpulkan karya-karya penyair, penerbitan buku ini sangatlah baik. Sedikit banyak turut menjaga arus kepenyairan agar tetap mengalir pada jiwa para penulis yang berpartisipasi dalam antologi puisi ini. Namun saya secara pribadi agak menyayangkan bentuk jadi buku ini, karena cukup banyak terjadi salah cetak nama, kosa kata, serta kurang rapinya dalam tata letak atau lay-out. Ini mungkin disebabkan kurang dalam supervisi mulai penerimaan naskah sampai dengan pracetak. Ini sebagai pembelajaran ke depan, sangat sayang apabila banyak dana sudah dikeluarkan untuk mencetak buku, namun banyak kekurangan yang sebenarnya bisa diatasi sebelum naik cetak. Tentu saja hal ini tidak akan mengurangi semangat berkarya para penyair yang terlibat dalam antologi ini. Viva Sastra Indonesia!

Ada 3 puisi saya dalam antologi ini yaitu berjudul: Mesti Dibangkitkan, Pada Setiap Lebaran Aku Merasakan Kesunyian, dan Tubuhku yang Tamu. Berikut saya cantumkan 2 puisi yaitu  Pada Setiap Lebaran Aku Merasakan Kesunyian, dan Tubuhku yang Tamu

Pada Setiap Lebaran Aku Merasakan Kesunyian

setiap bersua lebaran,

serasa tubuhku masuk ke dalam lorong kesunyian tanpa ujung

menelusur geronggang rindu yang purbawi

melulur riwayat nafas yang sembunyi

ribuan kata tercekat di kubang dada

terjerat reruntuhan isak

kidung telah jatuh sebelum lunas jarak tempuh

betapa gemuruh dunia telah menggegarkan ruh,

menepikan wajah wajah bersahaja

paras yang senantiasa tekun menegakkan puasa

aku sebegitu kerap terlena

terkesima pada sejuk yang fana

dan lalu kupanggil segenap gugusan masa kanak, dalam labirin kepala

tak jua mendekat, meski ku telah siapkan dekap

dan di pepucuk pohonan depan rumah

kuletakkan sebersit doa, sekerlip asa

meski ku tak pernah tahu, usia

bisa saja mencabiknya dengan sia sia

Jakarta, 24 September 2009

Tubuhku Yang Tamu

aku mozaik patah yang diselipkan dalam peta silsilah

terasing dalam perdu jejaring

terbungkam dalam waktu yang kusam

jendela langit retak

tinta anyir meruah

tak sepenuhnya kemarau

sungai air mata bercabang menggapai matahari

kesunyian sungsang

bermekaran geragal di lubang perjanjian

asap tikam punggung merubung lekat hidung

kata kata menjerit

terhimpit sudut sempit

teriakku pun kian punah

diterkam perasa pualam

Jakarta, 6 Oktober 2009

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

2 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi MENGALIR DI OASE

  1. theasandria berkata:

    Kapan ya sekiranya saya bisa nerbitin buku kayak Pak Budhi??? Hmm… Jadi pengen kayak Bapak deh Saya^^…
    Sebenarnya saya lebih interest ke nulis cerpen ato novel daripada puisi,,,
    Tapi semenjak dua tahun yang lalu…timbul-lah di otak saya buat “Kayaknya nggak salah deh kalo buat coba2 bikin puisi” Hehehe…
    Masih acak kadut semuanya Pak…Haha (ya Cerpennya, Novelnya, sama puisinya juga-Red)

  2. budhisetyawan berkata:

    ya silakan diterbitkan, sekarang kan bisa menerbitkan secara indie. kalau dianggap perlu nomor ISBN, ya bisa tanyakan ke perpustakaan nasional. ada webnya http://www.pnri.go.id yang juga menginformasikan syarat2 untuk memperoleh nomor ISBN.

    berarti bekal anda untuk menulis sudah ada. secara kepenulisan, dari anda nulis cerpen & novel, berarti anda sudah mengetahui tentang alur, penokohan, gaya bahasa, dll. untuk masuk ke menulis puisi, pasti ada kemudahan. dan yang jelas perlu ketekunan berproses.

    yakinlah, semua berawal dari bawah. tidak ada seorang pun penulis, yang sekali menulis langsung menjadi karya terbaik.

    salam kreatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s