Sajak Budhi Setyawan di Jurnal Bogor

Pada tanggal 7 April 2010, saya secara iseng membuka website http://www.jurnalbogor.com dan mencari sajak-sajak yang termuat. Saya melonjak [eh bukan, hanya merasa surprise. biasa gaya hiperbola…. he3] karena ternyata ada beberapa sajak saya yang termuat di Jurnal Bogor hari Minggu, 21 Maret 2010. Jadi sekitar 3 pekan dari saya temukan infromasi itu di dunia maya.

Memang kalau tiba hari Minggu, saya sering merasa degupan yang tidak biasa, akan tetapi saya berusaha tetap berfikir normal, dalam arti ini mungkin dipengaruhi oleh harapan yang besar tentang termuatnya karya sajak/puisi saya di media massa. Sejak Januari 2010 s.d awal April 2010 ini telah termuat beberapa karya sajak/puisi saya di beberapa media massa seperti  Radar Banjarmasin, Radar Tasikmalaya [belum punya arsip korannya], Jurnal Nasional, Surabaya Post [belum punya arsip korannya], Padang Ekspres,  Jambi Independent, dan Jurnal Bogor [belum punya arsip korannya]. Mohon restu dari pembaca semua, semoga saya tetap dalam semangat terbaik berkarya.

2 dari 4 sajak saya yang termuat di Jurnal Bogor saya cantumkan di blog saya ini. silakan beri kritik dan masukan terhadap sajak saya ini. Salam dinamis-dialektis.

Sekerat Kedinginan

malam masih saja menjilati gelas, meski kenangan yang tadi memenuhinya, meluber tumpah di meja perjamuan. membasah lantai kebimbangan. matamu gemar menyimpan kota kota yang tak pernah lelah, tak pernah lelap. tak ada arloji di lampu lampu jalan. sungai meluapkan getah mimpi. jalanan mengalirkan riuh janji. ribut pesta pora di etalase kepala. serupa sinetron cinta. kadal menjulurkan lidahnya ke taman taman. rakus rakus memakan keheningan. lalu apa lagi? masih ada sisa percakapan semalam yang agak berasa masam karena kau lupa menghangatkannya di tungku, tempat kita menghangatkan badan dan telapak tangan sehabis kehujanan. kita selalu kanak kanak yang kaya amunisi rengek manja dan alibi kata, dalam rasa rusuh risau dunia.

Senja di Simpang Lima

masih ada sisa suara azan terengah merayap di dinding kesunyian, sendirian dan dalam. di sini banyak burung kecil yang gemar mengukur panjang malam dengan kerjap pelarian, menepis kekakuan pertanyaan masa depan yang suka datang mengejutkan. jalanan memencar menuju lima keterasingan tanpa nama. yang dikeramatkan dalam kelana. lalu siapa yang masih saja betah menunggang kuda di rongga kepala? debu mengendapkan letih sementara, dan esok kembali bertugas menempati posnya semula.

kau bilang tak ada yang baru di sini. sedang aku dengan berjingkat mencari jejak tanda tangan para perajin sejarah. masih nganga seribu pintu yang bisu untuk mengeja lari masa lalu. apakah mesti memasuki lembab di situ sembari bermain gundu. di bawah pohon asam yang jarang dalam deret gelimang bimbang, aku mencoba menerawang. mungkin aku menunggu semacam keajaiban. serupa kehadiran, meringkas keterjauhan. entah apa atau siapa. laju angin rajin mengirimkan kisah kisah lengang. malam akan lama berkubang. dan rengkuhku kian berlubang.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sajak Budhi Setyawan di Jurnal Bogor

  1. Dadan Suwarna berkata:

    Tetaplah berkarya! Saya merasa, Anda lumayan potensial untuk jadi seorang penyair. Kata-kata Anda yang selektif, cara mempertimbangkan diksi dan asosiasi, hanya tinggaal “behati-hati” dengan logika simbolik. Buku acuan yang dapat Anda miliki: Pengkajian Pusi Rahmat Djoko Pradopo atau Saini K.M. tetaplah berjuang dengan segenap hati, juga “berjualan” dengan cara bergerilya. Di samping puisi di Story Magazine, puis di Radar inilah yang menurut saya memikat.

    • budhisetyawan berkata:

      Atur nuhun kang Dadan. telah singgah dan memberikan apresiasi terhadap tulisan sederhana saya. restu dan doa anda selalu saya harapkan.
      saya mencoba mensyukuri karunia dari tuhan, dengan tetap mencoba hal-hal baru, yang menurut saya bisa membuat hidup lebih kaya jiwa. mungkin jalan yang saya lalui memang berkelok2, dan ada nuansa seni. pada masa kecil saya suka wayang kulit, ikut tari kreasi baru, mendengarkan gamelan, ketoprak, juga musik dangdut, pop, rock. pada awalnya saya suka bermusik, mengamen di jogja, dan kemudian pelan2 suka menulis puisi secara otodidak dan tertutup karena untuk konsumsi sendiri. awal menulis tahun 1989, meski tidak tertib dan masih serampangan. dalam proses selanjutnya, saya masih banyak bergiat di musik. saya nekad merilis antologi puisi secara indie tahun 2006. memang sangat terlambat kemunculan dan pergaulan saya dengan para penyair2 yang beberapa saya kagumi karyanya. namun saya berusaha untuk melalui proses itu dengan kesabaran, dengan tetap berusaha mensyukuri nikmat secara konstruktif & kreatif. saya akan terus berproses di sela kesibukan rutinitas saya sebagai PNS yang kadang terasa membabati tetumbuhan ide progresif saya.
      apakah buku yang kang Dadan sarankan itu masih ada di toko buku yaa? atau nanti saya coba cari di kios buku Jose Rizal di TIM.
      sekali lagi terima kasih kang. selamat berkarya…

  2. Elinah berkata:

    Wah…bagus sekali. mebaca sekilas saja sudah merasa indah. aku ingin bisa seperti anda. belajar sastra hingga membawaku ke Perancis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s