Sajak Budhi Setyawan di Suara Karya

Koran Suara Karya edisi hari Sabtu tanggal 1 Mei 2010, dalam lembar budayanya memuat 3 buah sajak saya yaitu berjudul: Siluet Silam, Sepotong Bandung pada Kecup Pagi, dan Sirkus Saja. Dalam situs Suara Karya online nampak pemenggalan yang tidak sama dengan format sajak waktu saya kirim. Pemenggalan yang tidak sama ini membuat tipografi sajak otomatis juga tidak sama dengan format sebenarnya yang ada di saya, dan bisa jadi agak membingungkan bagi pembaca, karena seolah menjadi sajak yang dengan kalimat sangat panjang, tidak ada tanda baca di situ.
Dalam blog ini saya cantumkan 2 sajak yang berjudul Siluet Silam dan Sirkus Saja. Mohon kepada pembaca untuk dapat memberikan kritiknya. Terima kasih.

Siluet Silam

tahukah kemana sembunyi serpih mozaik masa yang memuat aneka warna kata. aku perlu tak seberapa banyak, hanya semangkuk serbuknya untuk menelisik silsilah jejak debu yang kian berpinak. karena wajahku telah geronggang diterkam tanya yang mengangkut muatan tafsiran, gamang dan keremangan, radang dan kepengapan. apakah ada yang pergi melintas di halaman sajakmu? atau terjala pukau hingga singgah dan betah di sebuah biliknya yang perdu? telah kuhubungi melalui ribuan utas malam yang rimbun dengan rintik pesan, namun masih senyap isyarat jawaban. lorong dan perjalanan. lolong dan pengharapan.

di sini kutunggu sambil duduk di sisi kerlip doa yang terliuk ditiup angin beranda.

Jakarta, 2008

Sirkus Saja

malam baru saja pulang dari meminjam kata pada segenggam ensiklopedia. namun tak banyak kata yang didapat. hanya detak jarak yang berserak. juga ada dendam yang bersorak. beberapa kata suka menempel di perbatasan kamar, mengingat hujan yang tak sepenuhnya menyimpan sorot matahari. yang begitu aktif kata kata menjelma pemain teater yang genit gelinjang dalam panggung sajak. apakah semacam sirkus atau akrobat? rasanya telah lama sekali tak ada pasar malam, yang selalu memainkan tong stan. gemuruh dan rindu, semua akan menuju gulali. jangan mencoba membuat ayat kesetiaan di sini.

di dadaku ada lapangan udara. banyak jet dengan peluru kendali berseliweran, kadang naik ke mataku. namun tak kunjung datang pesawat pesiarmu. memang tak sempat kuiklankan sebuah tawaran yang bernama tahun kunjungan wisata. seperti yang membanjir di televisi swasta. membanjir pula keringat para petani namun hidup tetaplah duri. ke mana? tak kudengar lagi suaramu dengan menara pengawas. aku kehilangan kendali pada sebuah malam yang benar benar bertaji. jangan bicara cinta di kamar gelap ini, banyak toko toko tutup sebelum malam meninggi.

udara terus menggetah, dan aku kian kehilangan darah.

Makasar, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

10 Balasan ke Sajak Budhi Setyawan di Suara Karya

  1. Kiki Sulistyo berkata:

    Salam,

    puisi yang riuh. Mas Budhy semakin rajin muncul. Majalah Gong edisi terakhir juga memuat puisi-puisinya. Kapan ke Mataram?

    Trims

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih Kiki sudah singgah. he3… iya yang di majalah GONG baru mau kuunggah hari ini. ya atas perkenan-Nya dan doa dan semnagat dari teman2, beberapa tulisan sederhana saya muncul di media massa.

      nah itu dia, aku berharap ada dinas kantor ke Lombok. karena beberapa kali mas Sindu juga nanyain, kapan ke Mataram. sungguh aku pingin ke Mataram….

      doakan segera terwujud ya Ki.
      salam…

  2. My Edelweiss berkata:

    Dibuat di makassar… bulan kapan? 2008. Padahal aku cabut dari Makassar Okt 2008.
    Yang kutahu dulu format puisi
    ——
    ——
    ——
    ——

    Puisi yang ini, formatnya
    ——, ——, ——, ——-, ——, ——, ——, ——-
    ——, ——, ——, ——-, ——, ——, ——, ——-
    ——, ——, ——, ——-, ——, ——, ——, ——-

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih sudah berkenan singgah. tipografi puisi sudah banyak berkembang, dan memang ada yang bersambung ke samping, mirip seperti prosa. banyak puisi2 karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, juga para penyair muda kontemporer menulis puisi dalam tipografi/bentuk seperti prosa.

      bisa search di google, puisi2 naratif.

      salam kreatif, kawan.

  3. eko ye pe berkata:

    tak melu sinau mas..salam sejahtera dan sehat selalu

    • budhisetyawan berkata:

      matur nuwun sampun kerso pinarak gubug kula mas Eko. kula inggih taksih ngangsu kawruh ing babagan nyerat puisi utawi gurit.

      sugeng nyerat sastra mas…..

  4. copiyan berkata:

    makasi…

  5. budhisetyawan berkata:

    terima kasih sudah berkenan singgah.
    salam kreatif.

  6. fathul qorib berkata:

    em…aku juga mnulis puisi,tapi puisi2 aneh.
    miliknya mas bagus-bagus.

    • budhisetyawan berkata:

      aneh bagaimana mas fathul?
      bukankah yang aneh itu bisa menjadi warna baru. sesuatu yang fresh. dan karena lain daripada yang lain, tentunya bagus juga.

      silakan di-share mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s