Sajak Budhi Setyawan di Haluan (Padang)

Ada 3 sajak saya yang termuat di harian Haluan yang terbit di Padang, Sumatera Barat, pada edisi Minggu 6 Juni 2010. Ketiga sajak tersebut berjudul: Buku Catatan Yang Hilang (1), Buku Catatan Yang Hilang (2), dan Bertahan. Saya cantumkan di sini sebuah sajak yang berjudul Bertahan.

Bertahan

ombak sedemikian menghayati peran

menciumi pantai pasir dan karang

dengan sabar dan teliti melulur tiap jengkal

ceruk kelok lekuk rindu

hingga kemerahan rona langit diam menatap

ayat ayat kesetiaan tengah dibacakan

ke dalam dada yang begah

ke dalam kamar yang telah terlalu penuh

dengan kepengapan dan kebisingan

kisah peperangan dan pengkhianatan

pertempuran paham dan aliran

berkecamuk dalam alur goresan lukisan

berebut peran dengan semburat warna

perbedaan musim kian menajam

dari ulir paku lagu dan kekidungan

beranda telah sesak dengan ornamen makian

ruang tamu pun telah mual rintih jeritan

sang waktu tengah berada di podium kerumunan

semua menghitung detak gerak kekalutan, diam

menunggu perbukitan dendam longsor perlahan

senantiasa terjaga kerlip cahaya

pada segala temaram yang paling muram

yang pelan menembusi celah gulita

lalu menggambar bias bayangan ruang

masih ada cercah yang memanggil derap

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

16 Balasan ke Sajak Budhi Setyawan di Haluan (Padang)

  1. siroel berkata:

    berkunjung pak, puisinya bagus…

  2. aliatus sholihah berkata:

    luar biasa…eksotis

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih alia.
      sebenarnya puisi di atas dalam bentuk beberapa bait. tetapi sy tidak tahu mengapa, ketika saya copy dari file asli, menjadi seperti ini. juga beberapa puisi yang lainnya, secara bentuknya menjadi satu, tidak dalam bait2 yang terpisah. begitu.

  3. Jabon berkata:

    puisinya oke pak…

  4. Jabon berkata:

    owh iya.. blognya enak dilihat. bersih… putih…

    • budhisetyawan berkata:

      he3…. sy termasuk gaptek dalam urusan penampilan web/blog. msh indie saja. semampu saya, yang penting bisa menampilkan karya yang semoga juga berguna, terutama penyemangat bagi diri saya sendiri.

      salam kompak..

  5. awie berkata:

    aku suka metaforanya pak budhi, indah

    • budhisetyawan berkata:

      wah matur nuwun mas Awie, sudah kersa pinarak. masih sering bertemu mas Mardiluhung ngga? salam karya, semoga selalu semangat…

  6. Tato Kaliwatu berkata:

    Mas aku mbok diajari piye carane ngrasakake puisi iku apik apa ora. Nuwun.

    • budhisetyawan berkata:

      he3..
      secara sederhana, ya ‘aktifkan’ indera untuk menikmati puisi itu.
      misal, untuk merasakan asin, dengan lidah sebelah mana.
      rasa manis, dg lidah pd sisi yg lain jg kan?

      nah, karena puisi itu yang digarap adalah lahan keindahan [estetika] lewat kata, ya diperlukan suasana hati atau ‘rasa’ secara aktif. perasaan dengan imajinasi lebih dikedepankan.
      kalau yg dipakai logika atau rasionalitas ilmu eksakta, ya tentu tidak masuk.

      seperti juga, saat mendengarkan musik. ada yang bisa terasa indah, ettapi mungkin ada yang biasa2 saja.

      dan selanjutnya, baik penyairnya maupun penikmat [pembaca, kritikus/esais] juga mesti terus belajar juga memperbaiki kapasitas dlm berkesenian-nya.

      sementara demikian, mas tato.
      suwun udah kersa mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s