Puisi Budhi Setyawan di Bali Post (lagi)

Pada hari Minggu pagi tanggal 1 Agustus 2010 saat saya mau membeli sarapan, secara iseng saya singgah di agen koran tempat saya biasa membeli koran. Saya membeli koran Bali Post edisi hari itu. Setelah sampai di rumah, koran tersebut saya letakkan di meja dekat komputer. Kemudian saya beraktivitas berbenah membereskan pekerjaan di rumah. Pada sore harinya, saya mengambil koran Bali Post tersebut, dan membacanya. Saya merasa terkejut dan bersyukur, karena sebuah puisi saya yang berjudul Malam Pertama dimuat di halaman 16 rubrik Apresiasi koran Bali Post tersebut. Sepengetahuan saya, ini puisi yang kedua termuat di Bali Post. Terima kasih untuk semua sahabat atas doa dan dukungannya. Salam kompak selalu.

Malam Pertama

lampu lampu mungil dinyalakan di utara. dongeng cinta perlahan melindap di bawah hiasan di dinding, juga tulisan yang membingkai ratusan ucapan. terlupakan segala ukuran ukuran. bukankah malam tak pernah memilih persembahan. lalu menyeruak cerita kisah kesuburan wilayah mesopotamia, dengan sungai yang mengalirkan rona aroma di desa desa yang dilalui. dan merebaklah luas perkebunan. penuh dengan aneka macam buah buahan. juga hampar sawah yang siap tanam, dengan pematang yang elok disusuri kidung dan tembang sore bersenandung. matahari hijau selalu berkaca di sini sebelum tertidur berselimut cakrawala.

ada ramuan yang siap minum untuk memperlambat pertumbuhan usia. juga menunda semua yang disebut keberangkatan. kita akan memindahkan lembaran halaman tentang pengkhianatan. surga ditulis dalam huruf besar di gerbang arena wisata. nafas melintas taman wangi bunga. setiap ucap adalah pukat pemikat yang mengajak tatap ruang menuju panggung lakon. tak banyak kata yang bisa disebut. karena lukisan pemandangan telah dipenuhi luapan cahaya yang sebelumnya tertahan di perbatasan ayat.

banyak benua belum disinggahi. rintik ombak dan besar gelombang adalah hiasan, repetisi yang terus mengisi formasi tarian. ritual menyusuri jejak tapak di situs purba, yang senantiasa tegak menantang lorong zaman.  mencekam dan dalam. begitu banyak gema sastra pujangga berserak. masih berapa lagi belum terkuak. stalagtit stalagmit senantiasa melagukan asmaradana. semacam panggilan berulang ulang agar kembali datang.

lalu dengan teramat pelan kita mencoba mengganti nada dasar tangisan. lengking dingin berkejaran dengan tampias air mata berlarian mengitari jantung. dan mempercepat tempo di beberapa bagian. kita rawat setiap percikan jarum jam, dinding begitu mencekam curam. gudang tepi pelabuhan dengan kepul keletihan telah diletakkan. abad masih saja berlompatan, dan kita terus saling berbagi kesunyian.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

5 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Bali Post (lagi)

  1. anna iszayiah berkata:

    Dik Budi, selamat ya….ibu jadi ingat masa muda dulu. Minat kta sama tyt…cuma adik hidup di jaman yang berbeda dan sekarang sudah kelihatan hasilnya. Pf deh,,,Sebenarnya ibu juga iseng ketemu adik…karerna besok pagi ibu diberi tugas menjadi juri lomba puisi di kegiatan Ramadhan di sekolah ibu mengajar ( SMA N I Ungaran Kab. Semarang Jateng ). Dan ketemu adik dengan jurnalnya. Saya beruntung…baca apa yang ada tentang adik dan hobby serta puisi-puisinya. Bagi ibu yang hampir setengah abad ini, rasanya masih terus tergerak dan tergetar apapun kegiatannya yang bersinggungan dengan dunia sastra dan musik. Ah…gitu dulu ya? Terus berjuang menyuarakan apapun yang terbaik untuk masyarakat dan bangsa ini yang sedang tertatih-tatih. Salam tuk semua keluarga.

  2. Muhammad Zakii berkata:

    Mas budhi, mau minta tips dan trik kriteria puisi yang diterima dan di publish di koran?

    minta nasehatnya yah mas budhi

    email me aja yah mas😀

    • budhisetyawan berkata:

      saya kira kalau tips khusus tidak ada yaa..

      dan dalam menulis pun saya tidak pernah terpikir untuk menyesuaikan dengan tema/isi/struktur tertentu agar dimuat media. yang saya lakukan adalah hanya menulis, dengan kondisi kesukaan saya. memang saya mencoba dengan banyak tema atau bentuk, tetapi itu saya lakukan agar ada variasi dan tidak terjebak dalam kungkungan tema/bentuk tertentu. saya berpikir bahwa saya mesti banyak mencoba.

      nah memang, ada beberapa yang dimuat media, koran atau majalah. tetapi juga terjadi, bahwa puisi yang saya kirim ke media A tidak dimuat, ternyata di media B dimuat. dan sebaliknya…..

      jadi menurut saya, penulis tidak perlu memikirkan hasil penulisannya agar dimuat media. penulis adalah majikan, tidak bisa diperintah orang lain, termasuk dipengaruhi redaktur media. yang diperlukan penyair adalah kesungguhan, ketekunan, selalu mencoba mengeksplorasi lebih dalam dan banyak, mau menerima kriti, banyak diskusi, dan tetap semangat menulis/berkarya.

      salam,
      Bs

  3. Muhammad Zakii berkata:

    Oh makasih yah mas🙂

    mas ada email2 koran ga mas? untuk mengirim puisi gitu …kalau ada kirim email yah mas budhi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s