Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi Mengenang Moh. Wan Anwar “Berjalan Ke Utara”

Saya mengetahui info ini dari Blog Prakoso Bhairawa Putera, yang akrab dipanggil Koko;

di blog: http://prakosobhairawa.blogspot.com/2010/06/antologi-puisi-mengenang-moh-wan-anwar.html

Berikut isi tulisannya:

Ada sekitar 113 penyair yang mengirim naskah puisi, namun setelah melalui tahap kurasi, akhirnya hanya 79 penyair yang masuk dalam antologi Berjalan Ke Utara ini. Antara lain:

Abdul Hadi-Lautnya

Adew Habtsa-Obituari

Adhy Rical-Tuhan Mencintaimu

Adin-Menjelang Tidur

Ahmadun Yosi Herfanda-Lelaki Tegar

Amaturrasyidah-Suatu Pagi Kamu Mengunyah Lebah

Anri Rachman-1.

Bode Riswandi-Di Beranda Sajakmu

Boedi Ismanto SA-Untuk yang Tercinta

Budhi Setyawan-Bulan Sabit di Serang

Deden Abdul Aziz-In Memoriam

Delvi Yandra-Kereta Terakhir

Den Bagoes-Puisi Itu Mencarimu, Wan

Dian Hardiana-Kepada Penyair yang Telah Pindah Rumah

Dian Hartati-Ingatan

Doddi Ahmad Fawzy-Momento Partere

Dony P. Herwanto-Aku Mencatat Namamu Diam-diam

Dwi S. Wibowo-Kini Aku Ingin Menjumpai Mautmu

Edwar Maulana-Sajak Pengantar

Endang Supriadi-Sebuah Rencana

Evi Sefiani-Sembilan Belas Tahun Kemudian

Faisal Syahreza-Memoribilia

Fina Sato-Kura-kura

Firman Venayaksa-Amor Vincit Omnia 3

Frans Ekodhanto-Ritual Perpisahan

Ginanjar Rahadian-Tiga Catatan Sebelum Kau Berangkat

Hasta Indriyana-Kampung Halaman

Heru Joni Putra-Pintu Usia

Hudan Nur-Pepasirpun Terluka

IH Antassalam-Moksa

Ihung-Mengunduh dari Jarak Jauh

Jafar Fakhrurozi-Penjaga Kata

Kamaludin-Tak Ada Upacara Pemberangkatan Buatmu

Koko P. Bhairawa-Kita ‘Kan Terus Bicara

Langgeng Prima Anggradinata-Para Pelayat

Lina Kelana-Sajak untuk Kesatria

Lugiena De-Sajak Panglayungan

Lukman Asya-Ibadah Para Penyair

M. Arfani Budiman-Zikir Buat Pendiri ASAS

Ma’mur Saadie-Selembar Daun

Matdon-Sajak Mengenang Sajak

Melda MR-Sepotong Senja yang Belum Habis Kita Nikmati

Moch. Satrio Welang-Sayap Terkepak (lagi)

Muda Wijaya-Paragraf Kata Pada Suatu Hari Paling Dingin

Muhzen Den-Di Pemakamanmu Aku Membatu

N Rohmah Maidasari-Pada Hatimu

Nandang R. Pamungkas-Hujan pun Usai

Nero Taopik Abdillah-Sajak Tahlillan

Nety Av Ney-Di Antara Musim

Niduparas Erlang-Maut Seperih Senja di Laut Lontar

Nugraha Umur Kayu-Pesan Kematian

Pratiwi Sulistiyana-Ketika Hilang Bulan

Pringadi Abdi Surya-Suatu Malam di Cianjur

Rahmat Heldy HS-Cerita Seorang Kawan

Ramdan Saleh-Yang Terkenang

Rangga Umara-Ayat Ganjil Terpahat di Punggung Batu

Reza Saeful Rachman-Sebelum Senja Selesai

Rian Ibayana-Kasidah Terakhir

Rizki Sharaf -Tunggilis

Rizqi Nur Amaliah-Arah Pulang

Rozi Kembara-Doa Pengantar Tidur

Rudy Ramdani-Rumah Kertas

Seli Desmiarti-Tuan Wan

Sigit Pramono-Maut Berpagut

Sopan Sopian-Aku Masih Membaca Namamu

Sulaiman Djaya-Terbanglah Mautku, Terbangkan Hidupku

Syaifudin Gani-Di Padang Konda

Syarif Hidayatullah-Aku Kini Menamaimu Sepi

Toni Lesmana-23 November

Veronika Dian-Hening yang Tak Biasa

Viddy AD Daery-Di Rumah Hitam Batam, Aku Teringat Kau Wan Anwar

W. Herlya Winna -Usia Padam Dalam Gugusan Hari

Widzar Alghifary-Tentang November

Wili Azhari-Di Bawah Pahatan Namamu

Wulan Widari Endah-Cintaku

Yusran Arifin-Kafe Itu Bernama Dunia

Yopi Setia Umbara-Obituari

Yussak Anugrah-Kang Wan I

Zulkifli Songyanan-Kepada Wan Anwar.

Demikian nama-nama yang masuk dalam antologi ini. Melalui penerbitan buku Antologi puisi mengenang Moh. Wan Anwar Berjalan Ke Utara ini, semoga kita dapat mengambil spirit yang senantiasa beliau alirkan.

Salam,

Penyunting

Heri Maja Kelana

NB: Sumber dari Catatan Langgeng Prima Anggradinata: Pengumuman Hasil Kurasi Akhir Antologi Puisi Mengenang Moh. Wan Anwar “Berjalan Ke Utara”

[Saya sendiri sampai dengan hari ini Senin, 5 September 2010, belum pernah melihat, apalagi membaca buku antologi itu, karena belum mendapat kabar dari Panitia. Salam damai]

berikut puisi tulisan saya tersebut:

Bulan Sabit di Serang

: wan anwar

kumengeja sajakmu yang tegar menembus kabut

di tubir musim, di kamar pengantin

segolak laut yang mengejar angin

di mana karang, di mana sarang

dedaun kisah berguguran, menyusut

malam menjelma selembut maut

lengan percakapan

bergumam muram

meraut kelam

narasi igauan

sebuah kepergian atau sebuah kepulangan

membunyikan petir kegetiran waktu

lalu menggemuruhkan hujan ungu

di kaki langit kata kata

kelopak cerita berjatuhan, mengerut

rindu mengerang tiada pagut

ya di Serang,

bulan sabit masih akan terus melafalkan barzanji cahaya

buat sungai sungai yang tekun mencari

Bekasi, 2010

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi Puisi Mengenang Moh. Wan Anwar “Berjalan Ke Utara”

  1. Hadi Santosa berkata:

    Renjana hatiku kian melipat,
    dengan sketsa menyala-nyala,
    Entah dari mana datangnya pekat,
    tak menyangka malam menjala.

  2. Hadi Santosa berkata:

    renjana hatiku kian melipat

  3. Numpang Share ya… *^_^*

    Sebuah Musikalisasi Puisi Sederhana:
    Tubagus Rangga Efarasti

    Hari Berangkat Dewasa
    Karya: Moh. Wan Anwar

    lihatlah hari berangkat dewasa
    matahari mengajari kita agar tak berdusta
    membagikan kasih sayangnya kepada setiap cinta
    lihatlah jiwa kita yang terengah-engah
    mendaki seluruh perjalanan. Menatap pada
    kehidupan yang buram dan menyakitkan

    “Peristiwa-peristiwa siang ini bukanlah
    mimpi!” seru seseorang di pinggir jalan

    tapi perjalanan ini penuh dengan borok
    dan luka. Kulit tubuh kian melepuh
    dan kita menjadi kelu bila bicara
    kota menjadi pucat. Gedung-gedung membisu
    kita membutuhkan bara untuk membakar
    tubuh-tubuh yang terlanjur terbaring kaku

    Bandung, 1993

    *) Puisi ini terhimpun dalam kumpulan puisi pilihan 2001-1991 “Sebelum Senja Selesai” karya Moh. Wan Anwar. Musikalisasi puisi ini aku persembahkan khususnya teruntuk Alm.Moh. Wan Anwar (Penyair Banten) yang lahir di Cianjur tahun 1970 dan wafat 23 Nopember 2009. Semoga Almarhum berada dalam kasih sayang Allah SWT dan karya-karyanya menjadi amal ibadah serta menginspirasi sepanjang masa. Amin…

    Untuk rekan-rekan di Rumah Dunia, khususnya Guru Besar TRE (Mas Gol A Gong, Mbak Tias Tatanka dan Mas Toto ST Radik). Untuk Tamta, Tamtor yang ada di Tamasya Musafir Kata. Untuk komunitas Hip Hop seluruh Indonesia, khususnya Guru Besar TRE (8Ball dan KnEight se-Indonesia). Serta untuk rekan-rekan penulis di mana pun berada, para insan pembelajar yang luar biasa. Semoga musikalisasi puisi ini dapat dinikmati, bermanfaat dan menginspirasi. Amin…

    Untuk menikmati MP3 (3.24 MB) musikalisasi puisi ini bisa rekan-rekan download pada link di bawah ini:
    http://www.mediafire.com/download.php?97fq80512iajh3m

    *) Salam SGB dan tengat berkarya
    Tamasya Musafir Kata

    ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s