Puisi Budhi Setyawan di Antologi Cerpen dan Puisi 3 Tahun Sastra Reboan

Memasuki usia 3 tahun kegiatan Sastra Reboan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam), pada bulan April 2011 Sastra Reboan merilis sebuah antologi karya bersama yang memuat puisi dan cerpen, diberi judul: Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan. Memuat karya cerpen dan puisi dari 20 cerpenis/penyair. Ada 5 puisi saya yang dimuat dalam buku ini, berjudul: Mata Seribu Panah, Dalam Desak Jawab, Bertahan, Yang Mengeras di Kepala Kita, dan Yang Sering Melintasi Degupku.

Bagi yang berminat dengan buku antologi tersebut, silakan pesan kepada kami, bisa ke kolom komentar disini atau bisa menghubungi Ketua Sastra Reboan, Zay Lawanglangit di email: lawanglangit@yahoo.com

Spesifikasi buku: Hard Cover, Eksklusif, 180 halaman. Harga: Rp. 45.000,- belum termasuk ongkos kirim.

Berikut puisi saya yangberjudul: Yang Mengeras di Kepala Kita

Yang Mengeras di Kepala Kita

mengumpulkan bias bayangan kota yang menusukkan nyeri di punggung. semua benda di kota ini bersudut. ada orang orang yang wajahnya selalu tertutup mengasah runcingnya. setiap tahun berapa pendatang yang tertancap menjadi korban, oleh alur permainan yang diputar sepihak dan tak pernah transparan. gedung gedung tinggi membuang getahnya di pucuk pucuk malam, serta tak lupa menidurkan lampu lampu jalan sebelumnya. dirayu dengan tawaran mimpi yang lebih berwarna dan suara lebih stereo mengagumkan. jalanan melata ke jalur sempit. ruang menuju ke garis lancip. nasib merapat ke limit. langit mengerdip ngerdip menahan perih. sedang matahari mengenakan perban, karena tertusuk seutas pucuk menara hingga kena retina.

semua bergerak dalam hitungan yang rapat dalam angka angka yang ketat. berlomba cepat merasuk ke dalam kenisbian yang akut. rasa takut adalah mesiu paling berharga untuk memompa gelembung kota. barisan digerakkan dalam kekakuan hingga semua penghuni ikut dan turut. diciptakanlah serupa kabut untuk menutup, apa apa yang tak boleh dibaca, juga catatan tentang maut.

coba kita ukur sulur nafas kita dari alur kisah kisah yang berkelindan berebutan jalan. adakah rekaman tentang percakapan. adakah rekaman tentang lingkaran lingkaran. tak ada yang bisa ditayangkan, selain sajian batu beton dengan karat udara untuk bercengkerama. kita nikmati saja tajam pualam tanpa rintih gusar. sampai kenangan melebur tawar. sampai kita kehilangan debar.

Jakarta, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s