Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi NEGERI CINCIN API

Antologi puisi bertajuk Negeri Cincin Api ini merupakan kumpulan puisi yang berisi karya dengan tema bencana. Ide antologi ini adalah dari Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) PBNU. Buku setebal 168 halaman itu memuat puisi tentang Merapi, Wasior, dan bencana alam yang seperti beruntun menimpa Indonesia pada tahun 2010.

Ada puisi saya yang termuat di dalam antologi tersebut yaitu berjudul Status Waspada.

Status Waspada

biarkan kami berakrab akrab dengan alam. menyusur artefak kegemaran rasa yang paling dusun. tak ada yang mengusik damai. waktu menjalani perannya dengan sebegitu tentram. ada pagi yang dibalut ornamen kokok ayam jantan dan kicauan burung burung. kupu kupu yang sabar menekuni siklus metamorfosis. mekar bunga bunga yang menyediakan tubuhnya bagi cerlang embun. dan ketika siang keteduhan mekar di dangau dangau. kesahajaan yang mengirimkan rindu akan asal usul. dan sore semilirkan nuansa cerita, bening sungai dengan ikan dan kecipaknya. matahari menjadi buah jeruk berwarna jingga, bersiap merasuk ke bawah cakrawala. pun ketika malam, masih laju nyanyian cinta dari jengkerik dan belalang. semua berjalan dalam arus yang perlahan. mimpi yang sederhana dan penuh ketenangan pun disiapkan. lalu masih adakah yang menanyakan tentang lukisan perasaan.

gunung di sini kayon. jalinan kesadaran berkehidupan yang paripurna dengan segala misterinya.

Bekasi, 2010

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan dalam Antologi NEGERI CINCIN API

  1. bilikml berkata:

    saya sudah membaca buku ini… selamat ya! saya seorang penikmat seni dalam bentuk apapun itu karena merupakan hasil dari persetubuhan antara jiwa dan roh yang melahirkan keindahan…

  2. Saya atas nama Upik Samantamuh, belum menerima buku antologinya?
    mohon konfirmasi
    upik_samantamuh@yahoo.com

  3. sb wanara berkata:

    wuih ingat kampung halaman…orang penuh cinta dan kesahajaan. adakah di kota? aku temukan beberapa, meski di kampung itu hal biasa…. karena cinta dan sahaja menjadikan doa diterima Yang Maha Segala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s