Puisi Budhi Setyawan di Jejak #3 Sabtu Sastra

Ada sebuah puisi saya yang berjudul Patahan Curam termuat di Jejak #3 Sabtu Sastra: Sebuah kumpulan puisi & sketsa. Antologi ini hasil kerja kreatif apahjagah institute, sebuah lembaga nirlaba yang berkonsentrasi pada perekaman jejak kebudayaan di Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk menerbitkan kumpulan puisi.

Saya mengirimkan puisi untuk jejak Sabtu Sastra setelah diberitahu oleh Kiki Sulistyo, seorang penyair di Mataram, NTB, yang karya-karyanya telah banyak termuat di media massa. Oleh kebaikannya sehingga puisi saya bisa termuat di antologi tersebut, yang dalam edisi itu ada 2 karya dari penyair tamu/ dari luar NTB yaitu saya dan Aslan Abidin (Makasar). Dalam antologi tersebut ada kesalahan tempat tinggal saya, tertulis Depok, padahal saya berada di Bekasi. [masih dalam 1 provinsi, Jawa Barat]

Berikut puisi saya yang berjudul Patahan Curam.

 

Patahan Curam

bagimu masa lalu adalah musim dingin yang terus menerpa dan kau masih di seruas jalan. kau hanya bisa berteduh di sebuah kastil tua yang sebagian dindingnya raib diterkam usia. ternganga seperti asamu yang luka. dan kau lupa membawa mantel, yang sering kaupakai ketika menghadapi gerombolan mimpi. kenangan kenangan itu menjadi hiasan tepi bingkai perjalanan, beberapa begitu sengit membuat garis diagonal lewati jantungmu. sering kau bilang dadamu sebelah kiri perih, lalu meletup buih buih dari cangkang rintih. masihkah kau ingat waktu masa sekolah dulu, kau ogah ogahan ketika disuruh maju untuk menghapus papan tulis. dan tak bersih akhirnya. selalu kausisakan ragu, juga isak pilu di situ. memanjang huruf huruf yang tak sempat kau tepiskan, terus saja keluar terseret dalam bayang larimu. pernah kau kibaskan namun tubuhmu yang tirus terpelanting pada pukau cermin. jalanan memang selalu licin bagi pejalan limbung. apalagi mabukmu telah menetaskan tulisan tulisan di sekujur tubuhmu. juga lukisan surealis merah memar yang melompat serupa tarian dansa di punggungmu. apakah itu kau jadikan penghangat letihmu yang membelukar membelenggu tatap pada setiap kesiap. sedangkan karat karat menjelma lumut yang terus bertumbuh memenuhi jalur jalur pembuluh, pada alur alur kisahmu. masih ada nafas yang panas di sela gambar garis tanganmu. kau tetap saja mendudukkan kepalamu pada sedekap ngilu. ini aku menuju padamu untuk belajar agar tak takut pada sebuah ketinggian, juga kelit kelindan perjanjian. bisumu beku. ataukah kedatanganku adalah juga serpih masa lalu yang menjepitkan lipatan di lidahmu.

Jakarta, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

13 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Jejak #3 Sabtu Sastra

  1. jambangimaji berkata:

    wah hebat….saya saja yang di lombok gak nyampek ke sana…!! jangan menyerah…aku belajar dari kegilaanmu..

    • budhisetyawan berkata:

      trm ksh fatih. sy msh belajar dlm sastra puisi. karena saya masih perlu banyak membaca dari karya2 penyair yang termuat di media2 besar tanah air. kadang saya ingin banyak bertanya, bagaimana proses mereka hingga menghasilkan karya2 yang sangat menggetarkan jiwa pembacanya. saya masih amatir sekali.

      salam.

  2. FDS SO MU berkata:

    INGIN BELAJAR SASTRA GRATIS? SILAKAN KLIK TOMBOL “forum diskusi sastra” yang ada di pojok kiri atas sidebar blog siteislami.co.cc

  3. harijogja berkata:

    wah jadi ngiri— hihihihi- selamat bung🙂

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mas Hari.
      saya masih pembelajar mas. dalam sastra yang menurut saya merupakan rimba misteri.

      salam karya..

  4. senang saya membaca “patahan curam”
    selamat juga atas “Jejak #3 Sabtu Sastra”
    salam kenal dan selamat terus berkarya.

  5. pikong berkata:

    salam mas budi, senang sekali membaca komentrar ttg sabtu sastra. saya pikong dari lombok. tukang kumpul puisi kawan-kawa di sabtu sastra, kami berharap kiriman puisi dari mas budi datang lagi unutk santu sastra#9 desember mendatang.

    salam hangat dr lombok

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih mas Pikong.
      saya usahakan kirim karya lagi untuk sabtu Sastra edisi #9 bln Desember.
      semoga berkenan yaa..

      salam untuk Kiki, Fatih, Efendi Danata, Irma, dll

  6. serdadukataku berkata:

    saya menyukai kegigihan bung pram, ketika dia menulis dipenjara. akankah kita akan terus menulis seperti para guru-guru kita? kembali ke diri kita. salam budaya bang. tulisan yang luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s