Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Medan

Ada 5 (lima) puisi Budhi Setyawan (yang akrab dipanggil ‘Buset) yang termuat di koran Jurnal Medan (Medan, Sumatera Utara) edisi hari Minggu 19 Februari 2012 dan 11 Maret 2012  yaitu dengan judul: Pengasihan (1), Menatap Mata Batin, Persimpangan Zaman, Sebutir Kesepian di Dalam Gelas, dan Pada Jalan yang Lain.

Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Pengasihan (1).

 

Pengasihan (1)

 

kautuangkan butir led zeppelin di cangkir kopiku yang telah mulai dingin, setelah senja dengan paras masam dan tergesa pulang ke kamarnya dengan telanjang kaki tanpa takut sapa duri. aku benci ini keraguan meregukku, demikian bernyali berkali berulang begitu lugas, terkelupas lalu tinggal ampas. kecamuk arus kecemasan kian meluber melewati pagar pagar beranting dan serabut gapai, mengajakmu hilir mudik berkendara asap rokok dan aroma minuman yang genit menggelitik. serta sisa serbuk lenguh dan tawa cekikik akan selalu kausimpan sebagai ornamen motif dan warna langitmu yang kain batik. lalu kau bilang, nanti akan tumbuh riuh desa desa yang paling asing dari keping lukisan yang bertimbun di gudang belakang. dan hampar karang terjal, tempatku khidmat ziarah menitipkan remas dendam dan rayu kegamangan. jingkatku di situ, tarian ketagihan yang menerabas sekat sekat ngilu dengan mengangkut briket briket pertanyaan, adakah yang lebih kawan dari malam? juga air mata yang terlanjur basi karena terlalu lama tak bersua dan diciumi syahdu matahari. akan ada tangga yang tersusun dari tali sutera berpilin cahaya menuju surga di sketsa ngiang kenang setelah usai lagu yang selalu kaudekap itu. dongeng dongeng penuh keringat dingin di keningnya mengantri di loket taman budaya berselimut halusinasi, akankah terpilih buat diceritakan lagi kepada zaman yang gemar berlari dan tak menengok kanan kiri. tingkah sapa pesat melaju, karena kita akan terus berburu keinginan, diburu kehausan. itu suara sumbang siapa mengganggu ramu rumus bunga dan kelipatan. tumpas dan bersihkan, karena tangis rintihan adalah gulma malas yang gemar terbit mengekor dan menteror. kau mesti cepat sayang, sebelum badai kenangan dengan garang menikammu tanpa parang. ah, abad berlari dalam keletihan yang memanjang, yang berkembang, dan tak ada tanda tanda apa yang kau tangkap, meski kata kata kuak tersingkap. lalu siapa sanggup menabung mantra bergunung gunung?

 

kau tahu malam kian meliuk mabuk

dan kita saling tubruk

 

Bekasi, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s