Puisi Budhi Setyawan di Mimbar Umum

Ada 3 (tiga) puisi Budhi Setyawan (yang akrab dipanggil ‘Buset) yang termuat di koran Mimbar Umum (Medan, Sumatera Utara) edisi hari Minggu 25 Februari 2012 yaitu dengan judul: Wisanggeni, Simfoni Pengap, dan Sesobek Primbon di Kamar Belakang.

Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Simfoni Pengap.

Simfoni Pengap

akar keletihan zaman masih tersimpan di kamar rumah kardus, kadang menyembul sedikit terhunus. potret potret buram yang menangkarkan sapa, senantiasa tertindih bising kegalauan. ada yang salah dengan rute pelarian masa depan. terlalu ribut tarian tarian atau bahkan tarikan tarikan yang memaksa sebagian penghuni kota mengeluarkan otaknya untuk dicuci di bawah jembatan penyeberangan, di pasar modern, di kali pekat dan di tempat tempat pembuangan sampah. percintaan kamar kegelapan dan juga pertunjukan lalat dan belatung yang mabuk merayakan luka kota. tak penting deretan nama nama buat diingat. matahari menggigil dikerubuti keringat dingin, kepayahan di langit dan mengirimkan isyarat kepada laut akan istirah. rembulan telah lama padam dan sirna semenjak orang orang mengirim teluh ke dadanya yang perak ketika purnama. kematian yang tragis namun dinding kota tak pernah menangis. jangan kau tanya lagi tentang bintang. dia telah menjadi debu yang dilewati berbagai sepatu dan kendaraan yang mengangkut wajah wajah ditekuk bisu. ada yang terus meronta memprotes dingin beku kaku nasib, yang akan segera ditusuk oleh tajamnya waktu yang tergesa dan terburu. setiap wajah kota adalah deru kepanikan domba domba dalam kepungan nyalang mata serigala, yang lama lama domba pun memilih menjadi serigala. tak ada yang bisa dipercaya di kota ini. tulisan tulisan di gedung gedung, juga nama nama jalan. para pembunuh yang mengatasnamakan cinta disembah sebagai pahlawan. rumah ibadah adalah kamar sembunyi yang paling aman bagi para pencuri yang raut mukanya pun tlah hilang tercuri. di sini siapa mampu mengenal diri? keputusasaan menjangkiti seluruh mata angin menggiring aliran pengap, menukik tikam lalu menghamburkan letupan dan ledakan. dada dada yang robek koyak dan ternganga menjadi mozaik roman kepiluan yang tak berkesudahan.

Jakarta, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s